​Poli+tikus

Viva la Liberta

Kata yang sering diplesetkan. Semacam guyonan, ejekan, ledekan. Orang-orang yang mengabdikan diri demi kepentingan negara, mengurusi persoalan bangsa, diplesetkan menjadi rombongan tikus—hewan yang identik dengan kekotoran. Merendahkan? Mungkin. Tapi, sebenarnya mereka jugalah yang memancing tindakan tersebut. Bukan karena kumis mereka yang panjang, wajah mereka yang runcing, rambut mereka yang hitam mengkilat atau terkadang perlu reboisasi di beberapa bagian, atau perilaku yang dekat dengan ‘kekotoran’. 

Jangan berpikir terlalu serius. Jangan menganggap segala hal dengan kening berkerut. Mentautkan segala hal dengan undang-undang. Ini tentang kreativitas. Bukankah negara ini memiliki begitu banyak manusia kreatif?

Ini tentang selera humor, guyon, ledek, ejek, canda. Suatu hal yang tidak dimiliki oleh politikus. Sampai-sampai, masyarakat pun harus ‘memaksakan’ hal tersebut dalam penyebutan mereka. Masyarakat tidaklah sedang merendahkan. Sebagai orang yang diurus, masyarakat kita tergolong yang tahu berterima kasih. Rasa peduli, pengabdian, yang telah diberikan dibalas dengan hal serupa. Mengetahui para pengurus bangsa ini kekurangan selera humor, masyarakat pun lalu memasukkan unsur humor itu dalam kehidupan para pengurus bangsa. Tentunya, dengan cara yang kreatif.

Humor menjadi salah satu masalah terbesar para pengurus bangsa ini. Mereka terlalu serius. Dengan dahi berkerut, kantung mata yang tumbuh dengan pergerakan agresif, serta kerutan yang berkembang secara masif.

Tidak juga? Hmmm….

Sebagian memang berusaha memasukkan humor dalam cara berkomunikasi mereka. Tapi masalahnya, mereka berbicara dengan bahasa yang tak lagi dikenal oleh masyarakat. Ada perbedaan budaya. Ada jarak yang begitu dalam. Bukanlah salah masyarakat jika tidak memahami lelucon yang disampaikan para pengurus negara. Jangan berharap masyarakat sekadar tersenyum ketika mendengar hal itu, karena sebenarnya yang terjadi masyarakat seperti diajak berbicara dengan bahasa yang baru didengar. Asing.

Entah kutukan atau memang negara ini memiliki masalah yang begitu rumit sehingga para pengurus negara sampai begitu kehilangan rasa humor. Bahkan fakta adanya pelawak profesional yang beralih menjadi politikus pun tidak membuat perubahan. Alih-alih menumbuhkan kembali rasa humor dalam diri para pengurus negara, mereka ini malah ikut-ikutan menjadi tidak lucu. Penampilan mereka di depan publik harus dibantu suara tertawa rekaman.

Menyedihkan? Tentu saja. Kalau memang politik begitu menyeramkan, mampu mengikis bahkan mencabut rasa humor dalam diri seseorang, siapa lagi nantinya yang akan berminat menjadi pengurus bangsa ini? Dan kalau tidak ada yang berminat, akan seperti apa sebuah negara tanpa pengurus? Jika rumah yang terabaikan akan menjadi sarang hantu, negara yang terabaikan akan menjadi….
Mengurus negara memang hal yang sangat serius. Saking seriusnya, hanya perlu kurang dari setahun untuk memunculkan kantung mata di wajah Jokowi. Bahkan pria yang dikenal dengan sifat yang begitu santai saja bisa menjadi seperti itu, apalagi orang yang sedari mula sudah menjalani hidup dengan serius? Bisa jadi kantung matanya akan menyatu dengan pipi di akhir periode kepemimpinan.

Yang kemudian menjadi pertanyaan: why so serious? Apakah segala hal harus dipikirkan dengan dahi berkerut? Tidak ada cara lain? Tidak bisa dengan dahi yang meregang?

Bukan berarti tidak menganggap serius persoalan. Ini masalah negara, lho. Menyangkut hajat hidup orang banyak. Berkaitan dengan kehidupan ratusan juta masyarakat negara ini. Tidak mungkin dianggap sepele. Tapi, apakah sesuatu yang serius harus identik dengan ketegangan? Bukan ketegangan seperti ketika menonton Conjuring tentunya, tapi ketegangan seperti yang kerap diperlihatkan di sidang-sidang dewan. Ketegangan yang membuat toleransi amarah menjadi sangat tipis. Sedikit terpancing, akan menimbulkan ledakan yang dahsyat.

Saya rasa tidak harus seperti itu. Hal serius tidak harus selalu dibahas dengan tensi yang tinggi. Lagipula, bukankah ketika syaraf rileks otak dapat berpikir lebih maksimal? Emosi pun dapat lebih terkendali, hidup menjadi lebih bahagia, usia menjadi lebih panjang, dan sebagainya. Amin….

Mungkin ada baiknya para pengurus negara itu mendapatkan pelatihan melawak. Tidak untuk sebagai usaha pembekalan kemampuan usai masa jabatan mereka berakhir, tapi setidaknya agar masyarakat dapat mengerti yang mereka sampaikan, dapat sedikit merasa terhibur meski pada kenyataannya tindakan mereka selalu melantur dan tidak pernah mampu membuat negara ini makmur. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s