Metonimia

Terkadang saya merasa agak menyesal hidup di masa kini. Sekadar pemikiran, tanpa benar-benar serius menyesalinya. Yang menjadi masalah adalah ada begitu banyak pilihan yang bisa dikonsumsi. Ada begitu banyak referensi. Bukan sekadar hal yang menjadi dasar, tapi juga perkembangan, percabangan, perluasan, dan berbagai hal lainnya yang terkadang sudah jauh berbeda dari yang menjadi dasarnya. Jika generasi orangtua saya mengeluh di masanya dulu kesulitan mencari referensi, generasi sekarang, setidaknya saya, terpaksa mengeluh ada terlalu banyak referensi. Bukankah segala hal yang berlebihan tidak baik? 

Hal lain yang menjadi dasar keluhan adalah, karena yang menjadi dasar, peletak dasar, pencetus, dan segala hal yang merujuk-pada-pihak-pertama-yang-melakukan terjadi di masa lalu, pelekatan pencapaian terhadap pihak di masa lalu. Membanding-bandingkan dengan, terkadang, dalih penghargaan. Tak peduli seberapa baik pencapaian yang berhasil dilakukan, selalu saja ada nama dari masa lalu (atau pendulu) yang akan mengikuti. 

Bentuk pujian, itu yang kerap diungkapkan. Padahal, menurut saya, itu perlakuan yang tidak adil. Memberi tekanan yang tidak seharusnya. 

Contohnya mudah saja.

Ada sebuah kabar ‘mengejutkan’ beberapa hari setelah final Copa América Centenario. Lionel Messi berpikir untuk mengundurkan diri dari tim nasional Argentina. Mengejutkan karena ide tersebut timbul di kepala salah satu pemain terbaik dunia saat ini, yang juga mungkin pesepakbola terkaya dengan pendapatan tertinggi, yang sedang berada di puncak karier, yang sedang dalam kondisi fit, yang tidak dibekap cedera berkepanjangan, yang sangat mungkin jika dia memutuskan berpindah klub akan menjadi pemain termahal dunia sepanjang masa. Dengan segala hal itu, pastinya ada tekanan luar biasa besar yang memicu timbulnya pemikiran untuk pensiun dari tim nasional.

Kegagalan menjuarai Copa América Centenario mungkin menjadi salah satu penyebabnya. Menjadi salah satu penendang penalti, penyerang yang sekaligus menjadi kapten tim tidak berhasil mencetak angka. Kecewa? Tentu saja. Terlebih, dalam dua tahun terakhir, Messi dua kali gagal membawa Argentina menjuarai Copa América—dan dikalahkan oleh tim yang sama pula.

Apa sekadar itu? Sepertinya tidak. Prestasi Argentina setidaknya jauh lebih baik dibanding Inggris dan sampai saat ini tidak ada pemain Inggris yang sefrustasi dirinya—atau memang karena tidak punya harga diri? Entahlah. 
Sejak awak tampil bersama Barcelona, penampilan Messi mengundang perhatian dunia. Meski bertubuh mungil, dia memiliki kemampuan yang luar biasa yang membuat kemungilan tubuhnya bukanlah sebuah penghalang untuk menjadi pemain besar.

Saya ingat, media ramai menyandingkan namanya dengan legenda Argentina, Diego Maradona. Keduanya memang memiliki tinggi yang boleh dibilang di bawah standar pemain sepakbola dunia, tapi juga dikaruniai kemampuan mengolah bola yang luar biasa. Maradona pun sering dijadikan patron prestasi yang diukir Messi.

Maradona membuat gol dengan tangan, Messi juga. Maradona bermasalah dengan narkotika, Messi bermasalah dengan pajak pendapatan. Maradona hanya sekali menjadi pemain terbaik dunia, Messi setidaknya sudah empat kali meraihnya. Maradona membawa Napoli juara Piala UEFA, Messi sudah empat kali membawa Barcelona menjuarai Liga Champions Eropa. Maradona membawa Argentina menjadi Juara Dunia pada 1986, Messi… hmmm… menjadi runner-up Piala Dunia 2014 (Argentina juga menjadi runner-up pada Piala Dunia 1990 dan Maradona menjadi anggota tim nasional saat itu).

Sepanjang kariernya, Maradona memang tidak pernah berhasil membawa Argentina menjuarai Copa América. Tapi setidaknya, di level yang lebih tinggi, dia berhasil membawa Argentina menjadi juara.

Hanya diperlukan satu fakta untuk meredupkan rentetan fakta lainnya. Setitik nila rusak susu sebelanga.

Daftar prestasi Messi yang jauh lebih panjang (dan sangat mungkin untuk terus bertambah panjang) dibanding Maradona seakan tidak ada artinya. Tidak peduli seberapa banyak dia menjadi pemain terbaik dunia, tidak peduli seberapa sering dia mencetak gol, tidak peduli seberapa tinggi pendapatan yang didapat (serta pajak yang digelapkan), tetap saja dia pemain yang tidak berhasil membawa Argentina menjadi Juara Dunia.

Contoh lain adalah Portugal dan Brazil. Brazil memang memiliki prestasi yang jauh lebih baik dibanding Portugal. Lima kali menjadi juara dunia, prestasi yang sampai saat ini tidak bisa disamai oleh negara manapun. Di masa lalu, Brazil memang menjadi bagian dari wilayah jajahan Portugal. Tapi dalam sepakbola, sepertinya Portugal yang menjadi ‘jajahan’ Brazil.

Julukan “Brazil-nya Eropa” seperti kekangan bagi Portugal. Padahal, Portugal tidak lagi memainkan gaya sepakbola seperti yang dilakukan Brazil—toh Brazil saat ini pun sudah tidak lagi memainkan gaya ‘Brazil’. Dan yang paling mengekang adalah fakta yang terjadi dalam satu bulan terakhir.

Brazil tidak mampu lolos dari fase grup Copa América Centenario, sementara Portugal berhasil masuk ke final Piala Eropa 2016. Terlepas dari penampilan Portuga yang biasa-biasa saja di Piala Eropa 2016, dan berhasil lolos dari fase grup karena ‘keberuntungan’, fakta mereka berhasil masuk ke fase final merupakan pencapaian yang patut dihargai. Mereka pun melakukannya 12 tahun yang lalu, dan berharap kali ini tidak lagi mengulang kegagalan seperti waktu lalu. Sementara, kegagalan Brazil lolos dari fase grup merupakan catatan terburuk tim nasional ini sejak tahun 1975. Boleh dibilang, mereka sedang dalam krisis.

Namun, tetap saja, tidak peduli tim mana yang sedang mengalami krisis, atau tim mana yang sedang menapaki prestasi, yang sering (atau mungkin selalu) dikedepankan adalah pihak mana yang menjadi pendulu. Brazil lebih dulu menjadi Juara Dunia, Brazil lebih dulu mencatatkan prestasi, dan karenanya Brazil-lah yang akan selalu menjadi superior.

Saya bukanlah pendukung Messi, Barcelona, Argentina, Portugal, ataupun Brazil. Saya hanya seorang penikmat sepakbola yang menginginkan keadilan. Dalam hal ini, bukan untuk diri saya, tapi untuk para pesepakbola. Saya tidak ingin mereka berada dalam tekanan yang tidak seharusnya mereka terima. Sebagai penikmat sepakbola, saya ingin melihat pertandingan menarik, dengan para pemain mengeluarkan kemampuan terbaik mereka. Bermain dengan lepas dan memberikan suguhan yang mengesankan. Itu bisa terjadi jika mereka tidak berada dalam tekanan—terlebih yang seharusnya tidak mereka terima.

Setiap orang ingin dihargai. Diberikan penghargaan atas prestasi atau keberhasilan yang telah dicapai. Itu sangat penting. Penghargaan yang membuat mereka berusaha melakukan hal yang lebih, lebih, dan lebih. Dan membandingkan suatu pihak dengan pihak lain berdasar catatan di masa lalu, sepertinya bukanlah tindakan yang adil. Bukan bentuk penghargaan yang seharusnya diberikan. Apakah adil menyenandungkan “Seperti Kekasihku” pada orang yang baru dekat? 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s