Gelombang Air

Colonia

Ini sebuah ungkapan yang sederhana. Seperti gelombang air di kolam. Semakin jauh dari pusat, semakin kecil gelombang yang terjadi—hingga pada akhirnya menghilang. Tidak hanya berlaku di dalam kolam, dalam berbagai hal pun terjadi seperti itu. Semakin dekat dengan pusat kebudayaan, orang-orang yang hidup di situ akan semakin mengenal perkembangan kebudayaan budaya terbaru. Begitu pula dengan teknologi, dan sebagainya. 

Termasuk agama. 

Sudah sekian abad lamanya sejak Nabi terakhir berada di Bumi. Sudah sekian lama ajaran yang disebarkannya dianut oleh manusia di Bumi. Dan yang pasti, seiring rentang waktu yang panjang tersebut, ada begitu banyak ‘perbedaan’ dalam ajaran yang disebarkan. 

Sudah sewajarnya. Contohnya saja permainan sambung-kata. Orang kedua mungkin saja masih mendapat informasi yang sesuai seperti yang diutarakan oleh pertama. Tapi, bagaimana dengan orang kelima, kesepuluh, keduapuluh? Seiring panjangnya rantai komunikasi yang terjadi, perubahan pasti terjadi—baik itu pengurangan, penambahan, perbedaan makna, dan sebagainya. Dan jika proses itu berlangsung selama sekian abad, bayangkan ‘peruabahan’ yang mungkin terjadi?

Ada memang Kitab Suci yang menjadi pedoman utama agar ajaran yang disampaikan tidak keluar dari nilai-nilai utama yang diajarkan. Ditambah pula dengan hadits yang menjadi rujukan tambahan. Hanya saja, yang kita bicarakan adalah tentang manusia. Mahluk yang diberkahi dengan akal pikiran. Bahkan, agama pun memberi kesempatan bagi para ulama untuk membuat keputusan jika menghadapi suatu situasi yang secara eksplisit tidak dibahas di Kitab Suci dan hadits—tentunya dengan menjadikan kedua rujukan tersebut sebagai referensi utama. 

Beberapa hari lalu, saya membaca sebuah artikel tentang seseorang di Belanda yang menafsirkan Al-Qur’an menurut versinya. Ya, menurut versinya. Karena, berbeda dengan yang biasa dilakukan, penafsiran yang dilakukan olehnya termasuk menambah serta mengurangi isi Al-Qur’an. Dibuat agar lebih mudah dipahami dan sesuai dengan perkembangan permasalahan yang dihadapi manusia. “Ada tiga pihak yang terlibat dalam penyusunan buku ini, Tuhan, Nabi, dan saya (si penafsir tersebut-red.),” begitu jelasnya saat diwawancara sebuah media. 

Selama ini saya hanya tahu bahwa pemikiran manusia dibutuhkan jika ditemukan permasalahan yang tidak secara eksplisit dibahas di Kitab Suci dan hadits. Sebagai referensi yang sifatnya tersier. Tapi kini, ada yang merasa tidak cukup mendapat porsi sekadar tersier. Dia ingin menjadi lebih penting. Menduduki peran yang lebih sentral. Bukan sekadar sekunder, tapi yang primerlah yang diubah. Kebablasan? Entahlah. Saya pun bukan seorang umat yang taat. 

Sebuah pengakuan. Tidak dengan kebanggan, tapi penuh dengan kebingungan. Apakah yang saya yakini selama ini benar? Jika memang saya dan kelompok-kelompok lain memeluk agama yang sama, yang diajarkan oleh Nabi yang sama, yang merujuk pada Kitab Suci yang sama, kenapa ada jarak yang begitu jauh antara saya dengan mereka? Kenapa saya tidak bisa menerima, dan bahkan cenderung membenci/mengutuk aksi yang mereka lakukan? Siapa yang salah? Atau mungkin, apa yang salah? 

Ibadah memang urusan personal antara umat dengan Tuhan. Tapi sejujurnya, ada rasa malu ketika melakukan ibadah menurut ajaran yang saya terima. Malu karena ada kelompok-kelompok yang menganut agama yang sama seperti saya tapi melakukan tindakan yang bertentangan dengan akal, pikiran, rasio, nurani, dan logika saya. Bukan sekadar karena saya membela diri atas kemalasan melakukan ibadah seperti yang diperintahkan. 

Segala sesuatu, jika dijalankan dengan ikhlas, dengan hati yang tulus, tanpa ada ganjalan, akan terasa menyenangkan, menenangkan, menggembirakan. Jujur saja, saya tidak merasakan itu. Ada yang mengganjal. Ada keraguan. Benarkah semua ini? Benarkah yang saya yakini? Benarkah yang saya jalani? Dan segala pertanyaan yang terus muncul di dalam pikiran. 

Saya tidak tahu yang akan terjadi di masa mendatang. Mungkin saja suatu saat nanti saya akan menjadi bagian dari kelompok-kelompok itu. Mungkin saja saya akan mendirikan kelompok yang bertujuan membasmi kelompok-kelompok itu. Mungkin saja saya akan menjadi apatis terhadap apapun. Mungkin saja saya akan menjadi tidak percaya terhadap apapun. Mungkin saja, di masa depan. Tapi untuk saat ini, saya masih ragu. Saya berada di antara gelombang air. Mungkin begitu jauh dari pusat. Dan jika ada kekuatan yang mampu membawa saya mendekat ke pusat gelombang, tolong bawa saya secepatnya. Saya tak ingin terus ragu. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s