Paradoks

The Last Station

Sesungguhnya hidup itu sederhana. Kalau menurut orang Jawa, sekadar mampir minum kopi. Toh nanti juga akan pergi lagi—entah setelah berapa gelas kopi. Sederhana, bukan? Sekadar mampir, duduk, menikmati kopi. Tidak ada yang rumit. Tapi, ya, namanya juga hidup, pada kenyataannya tidak ada yang sederhana. Bahkan untuk sekadar menikmati kopi, nyatanya tidaklah sederhana. 
Menikmati kopi hangat, sambil menghisap rokok, yang terjadi kemudian adalah rangkaian yang sangatlah tidak sederhana. Jika sendiri, pikiran akan berkelana. Teringat tagihan yang masih harus dilunasi, pekerjaan yang belum diselesaikan, wanita cantik yang tadi bertatapan saat di bus, atau apapun. Yang memiliki bakat menggambar, akan mulai mengambil peralatan lalu mengguratkan garis-garis di atas kertas. Yang suka bernyanyi, akan bersenandung. Menyanyikan lagu favorit—atau lagu kenangan yang kemudian akan ditemani kenangan masa lalu. 
Jika sendiri saja sudah memunculkan kerumitan, apalagi jika ada teman. Berdua, bertiga, atau ber- berapapun jumlah orang yang menemani tetap saja akan menghadirkan suasana yang tidak sederhana. Padahal, pada akhirnya, toh semua orang akan pergi. Kalau dipikir-pikir, kenapa juga harus terjebak dalam situasi yang begitu rumit kalau faktanya akan berakhir sama saja: semua pergi. Yang membedakan hanyalah soal waktu dan cara. 
Dan, dalam kehidupan sehari-hari, seperti itu pulalah yang terjadi. Pada dasarnya yang diinginkan sederhana. Semua orang menginginkan hal yang sangat sederhana: bahagia. Sederhana, bukan? Siapa yang tidak menginginkan bahagia? Sepertinya tidak ada. Hanya saja, ketika dijabarkan, yang sederhana menjadi kompleks, riweh, ribet, njelimet. 
“Apa yang membuat seseorang bahagia?”, “Bagaimana dia bisa mendapatkan hal yang membuatnya bahagia?”, “Apa yang harus dilakukan?”, “”Kepada siapa?”, “Bersama siapa?”, “Kapan?”, “Dengan cara apa?”, dan berbagai hal lainnya yang perlu dijawab, dan tentunya dipenuhi. Dan ketika semua hal yang njelimet tadi terpenuhi, didapatlah hal yang sederhana tadi: bahagia. Rumit, kan? Begitulah. Padahal, yang ingin dilakukan sebenarnya sederhana saja. 
Ya, sederhana saja. Sesederhana ketika seseorang sedang ingin diam atau menyendiri. Bukan karena marah, kesal, sakit hati, atau perasaan apapun yang bernegasi negatif. Sekadar karena ingin, tanpa ada motivasi lainnya. Atau, jika dipaksa mencari alasan ‘logis’ yang menjadi alasan, bukankah pada awal dan akhirnya kita akan diam dan sendiri? Kita diam dan sendiri di dalam kandungan (kecuali bagi yang kembar). Kita pula akan diam dan sendiri ketika dimakamkan (kecuali bagi yang dimakamkan secara massal). Dan jika pada awal dan akhir kita akan diam dan sendiri, kenapa harus mempertanyakan ketika di tengah-tengah kita melakukan kedua hal tersebut? 
Tidak perlu meributkan, mempertanyakan, apalagi mempermasalahkan. Sangat tidak perlu. Berdalih sebagai pasangan yang telah melawati sekian puluh tahun hidup bersama dan bersamanya telah belasan anak dilahirkan bukanlah suatu pengecualian. 
Hal sederhana biasanya merupakan kebutuhan mendasar bagi seseorang. Kebutuhan yang sangat penting, untuk dipenuhi, dipahami, dihargai. Ketika kebutuhan yang mendasar itu dipaksa ke arah penyangkalan, secara terus-menerus, yang terjadi malah penyangkalan yang sesungguhnya. Bukanlah keegoisan Leo ketika dia menolak kehadiran Sofya—wanita yang telah dinikahinya selama puluhan tahun dan melahirkan belasan anak. Bukan pula dia sudah kehilangan rasa cinta dan penghargaan terhadap istrinya. Yang menjadi alasan hanya satu: Sofya sudah bertindak terlalu jauh, terus-menerus menekan kebutuhan mendasar yang diinginkan Leo. 
Sakit hati? Tentu saja. Siapa yang tidak merasa sakit ketika kehadirannya ditolah oleh pasangan? Bahkan, tidak diizinkan menemui pria yang sangat dicintainya sebelum ajal menjemput kekasihnya itu. Yang lebih menyedihkan, keputusan itu dibuat oleh pria yang sangat dicintai. Tapi, ya, salah sendiri pula. Kenapa harus menuntut hak kepada orang lain sementara di waktu sebelumnya tidak mampu memberikan hak yang seharusnya diberikan pada orang lain? 
Mencintai tidak harus selalu bersama. Menghargai bukan berarti harus selalu menerima. 
Salam. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s