Ambisi Kedua

Mungkin ini sebuah kutukan, mungkin pula takdir, atau mungkin malah hanya sebuah kebetulan. Entah mana yang benar. Hanya saja, melihat kenyataan yang terjadi, setidaknya menurut pengalaman pribadi, ada suatu fenomena tersendiri tentang hal yang disebut “kedua”. Bukan tentang urutan ketika mencapai garis finish dalam sebuah perlombaan, atau terlebih mengenai pasangan. Ini tentang “karya”. Tentang hasil yang dicapai dari usaha yang dilakukan. 

Mungkin seperti ini yang terjadi. Ketika ingin membuat yang pertama, yang dipikirkan adalah membuat karya. Mencurahkan segala ide. Tak ada tekanan agar ide tersebut dapat mencapai taraf tertentu. Tak ada paksaan target yang harus dicapai. Satu-satunya yang menjadi motivasi adalah menghasilkan karya terbaik yang dapat dibuat. Dan ketika, setelah segala usaha yang dilakukan, karya tersebut mendapat penerimaan yang sangat positif, itu merupakan bonus. Karena, yang terpenting adalah “akhirnya ide yang diimpikan terealisasi”. Enggak neka-neko.

Sayangnya, rasa tidak puas menjadi bagian yang sangat sulit dipisahkan dari manusia. Alih-alih cukup dengan pencapaian yang diraih, keinginan untuk mendapatkan lebih mendorong manusia untuk melakukan lagi, lagi, dan lagi. Ditambah dengan pemikiran “untuk apa memulai hal yang baru jika sudah berhasil membuat sesuatu yang diterima dengan baik?”, lahirlah karya kedua. 

Tidak seperti yang pertama, yang sekadar ingin mencurahkan ide, ada tekanan tersendiri dari karya kedua ini. Ada patron, tujuan, hasil yang harus dicapai. “Setidaknya mengulangi keberhasilan karya yang pertama.” Beban? Tentu saja. Saya rasa, tidak ada yang tahu dengan pasti formula kesuksesan. Formula AB jika dicampur dengan elemen X yang telah dipisahkan dari unsur Y dijamin akan berhasil. Tidak seperti itu, setidaknya lagi-lagi menurut saya.

Tidak ada yang mengira Ranieri akan membawa Leicester City menjadi juara Liga Inggris. Tim yang baru beberapa musim promosi ke liga utama, dengan skuad yang boleh dibilang tanpa bintang, dengan dukungan finansial yang tak menghebohkan. Tidak ada yang menyangka kalau Si Rubah akan menempati peringkat 1 di klasemen akhir. Terlebih, jika melihat pesaing-pesaingnya yang diperkuat pemain-pemain kelas dunia serta sokongan finansial yang jatuh lebih besar—belum lagi nama besar pelatih yang didatangkan.

Bicara soal pelatih, perjalanan karier Ranieri pun tidaklah meyakinkan. Sebelum menangani Leicester City, pria asal Italia ini sebenarnya pernah beberapa kali menangani klub yang lebih besar dan kaya. Sebut saja Chelsea, Juventus, Roma, Inter Milan, dan Monaco. Sayangnya, di klub-klub tersebut, dia tidak berhasil mengukir prestasi gemilang.

Yang menjadi pertanyaan: apa formula untuk berhasil menjadi juara Liga Inggris? Skuad biasa-biasa saja yang ditangani pelatih biasa-biasa saja atau kumpulan pemain kelas dunia yang dipimpin pelatih kelas dunia? Tidak ada yang bisa memastikan. Prestasi Leicester City di musim 2015-2016 seperti dongeng pengantar tidur. Sulit untuk berharap akan terulang, meski kemungkinan untuk itu tetap terbuka.

Menyandang status Juara Bertahan, tidak mungkin Leicester City bertahan dengan skuad yang sama seperti musim sebelumnya. Bukan hanya karena akan berlaga di ajang Liga Champions Eropa, tapi juga tim-tim lain akan lebih ‘serius’ memperhatikan. Masing-masing individu yang terlihat di klub ini pun memiliki target yang lebih tinggi dibanding musim sebelumnya. Tentu tidak ada yang ingin kehilangan momen berlaga di Liga Champions Eropa. Dan, kalau bisa, terus mengulang momen itu setiap tahunnya.

Peningkatan target itulah, yang menurut saya, menjadi bumerang. Alih-alih menjadi motivasi untuk bisa berbuat lebih baik dari sebelumnya, yang kerap terjadi malah sebaliknya. Tidak lepas, tidak bebas, tidak all out, takut membuat kesalahan, kesempurnaan menjadi patron utama. Perjalanan Leicester City di musim depan memang masih menjadi tanda tanya. Toh, para pemain sedang menikmati liburan dan sebagian sedang berjuang membela negara. Masih sangat jauh untuk bisa menyimpulkan bahwa Leicester City akan mengalami kegagalan di musim depan.

Namun, di bidang lain, ada banyak sekali kejadian yang bisa dijadikan contoh. Dunia hiburan misalnya. Ketika awal perencanaan, tidak ada yang menyangka Final Destination akan meraih sukses. Jangankan berharap akan dibuat sequel, mendapat respon positif saja rasanya sudah bagus. Tapi yang terjadi, film ini mendulang kesuksesan luar biasa. Dengan bujet rendah, film ini meraup untung yang sangat tinggi. Puas? Tentu tidak. Dibuatlah sequel-sequel—yang tentunya tanpa persiapan matang sejak awal. Hasilnya adalah ambisi yang berujung tragedi. Berusaha mengulang kesuksesan yang didapat sebelumnya, yang diterima malah kritik tak berujung. Dan ketika film kedua dirasa belum cukup, usaha mengulang sukses pun dilanjutkan hingga menjadi rangkaian film yang tidak jelas.

Jera? Sebagian manusia di dunia ini tidak mengenal sifat tersebut. “Itu sekadar mitos.” Tak peduli peristiwa-peristiwa yang sudah terjadi, percobaan terhadap ambisi kedua tetap saja dijalani. Dan lagi-lagi, saya sebagai penonton, hanya bisa keluar dari studio bioskop membawa rasa kecewa.

Sedikit melebih-lebihkan, ada kemurnian ketika membuat yang pertama. Nilai yang kemudian digantikan dengan keangkuhan ketika melanjutkan dengan yang kedua. Tidak harus seperti itu. Tidak pula menjadi seperti yang diutarakan Chairil Anwar, “Sekali berarti setelah itu mati.” Tetap berbuat karya, memberi arti, dan lagi, dan lagi, sampai mati. 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s