Untuk Persaingan yang Adil (Mungkin)

Lost River
Lost River

“Know your enemy!” – R.A.T.M.

Ya, begitulah untuk memenangkan sebuah persaingan. Atau, jika pesaing yang dihadapi berada di level yang jauh lebih tinggi, membuat kondisi berimbang. Mungkin Anda akan tertawa terbahak-bahak, terlebih jika Anda tahu perwujudan pembuat tulisan ini, jika saya bilang salah satu pesaing saya adalah Ryan Gosling. Saya memang bukan seorang aktor, dan lagi saya bukan selebriti kelas dunia macam si mas tampan itu – bahkan kenyataannya ratusan tulisan yang ada di blog ini pun tak cukup membuat saya terkenal untuk sekadar pada taraf kecamatan. Tapi, kenyataan itu tidak membuat saya merasa rendah diri untuk bersaing dengannya. Toh, satu kenyataan yang tidak terbantahkan bahwa kami sama-sama pria yang coba menarik lawan jenis.

Bukan saingan berimbang? Tentu saja. Rambut pirang, mata biru, badan berotot, dan, jika Anda menonton Drive (2011), bersikap layaknya pria sejati. Siapa wanita (juga mungkin pria) yang sanggup menolak dari pesona seperti itu. Rachel McAdams, Michelle Williams, Emma Stone, dan Carey Mulligan – menyebut beberapa wanita cantik yang ‘terbius’ pada pesonanya (daftar bukan berdasar kehidupan nyata tapi sekadar lawan pemain di film). Sialnya, nama yang disebut terakhir malah ditinggalkan setelah hati dan harapan diberikan pada si Mas Ryan (Duilah, Neng. Sini sama abang aja #ngarebpakebanget).

Tidak berimbang bukan berarti tanpa harapan. Tahu akan lawan yang dihadapi. Kekuatan serta kelemahannya. Riset merupakan hal penting. Dan ditambah dengan persiapan yang matang, segala kemungkinan dapat saja terjadi – dengan tambahan keberuntungan.

Lagipula, saya yakin Tuhan itu maha adil. Tidak ada manusia yang sempurna. Itu fakta. Dan karena si Mas Ryan juga tergolong sebagai manusia, tentunya ada ketidaksempurnaan pada dirinya.

Menonton beberapa film yang dibintanginya, sulit sekali menemukan kelemahan pada saingan saya ini. Stres menjurus pada putus asa. Jika Anda memiliki waktu sangat luang, sila buka tulisan-tulisan lama saya di blog ini dan Anda akan menemukan sebuah tulisan tentang keputusasaan saya.

Beruntung saya ini memiliki kesabaran. Saya cukup sabar menunggu. Menanti sampai tiba saatnya si Mas Ryan menunjukkan kelemahannya. Dan, ya, penantian saya tidak sia-sia.

Sebagai aktor, Mas Ryan memang pesaing yang tidak masuk akal untuk dikalahkan. Tapi, tidak sebagai penulis naskah dan sutradara. Sebagai aktor, dia hanya memerankan tokoh seperti yang dibayangkan penulis naskah dan diarahkan sutradara. Boleh dibilang, sekadar alat yang menjalani ide orang lain. Tapi sebagai pencetus ide, dia tidak sehebat itu.

Jujur, butuh kesabaran luar biasa untuk bisa berpikir seperti itu. Tak ada niatan mencari kelemahan pesaing ketika saya mengunduh Lost River (2014). Saya hanya ingin menonton film-film yang dibintangi Saoirse Ronan. Sampai kemudian, kira-kira setelah hampir setengah jam film berlangsung, saya iseng membaca info tentang film ini. Fakta yang saya temukan sangat mengejutkan. Mas Ryan sepertinya tidak merasa cukup dikenal sebagai aktor tampan. Dia juga ingin dikenal sebagai penulis naskah dan sutradara, tanpa menghilangkan unsur tampan.

Putus asa? Semakin. Sudah tampan ditambah multitalenta. Selesai sudah. Tandas. Tanpa sisa. Tidak ada lagi harapan. Tapi….

Ternyata kemampuannya memikat hati wanita tidaklah selihai Jacob (Crazy, Stupid, Love./2011). Emma Stone boleh saja terpikat kala itu, karena sesungguhnya Mas Ryan hanya menjalankan peran seperti yang diminta sutradara. Cara berkomunikasinya tidaklah sememikat itu. Bahkan, boleh dibilang, dia punya cara berkomunikasi yang cukup aneh.

Ini bukan pendapat iri hati seorang pesaing yang didorong rasa putus asa. Ini opini seorang penonton usai menyaksikan sebuah film. Tidak ada unsur sarkastik di sini, apalagi licik yang menjurus pada picik.

Memang, Lost River masuk dalam daftar film yang berkompetisi di Festival Film Cannes. Lalu, apakah serta-merta merupakan film yang disukai semua orang? Setiap orang diberi kemampuan untuk berpikir yang mengarahkannya untuk berpendapat. Setiap orang bisa dan boleh memiliki pendapatnya masing-masing. Tidak ada yang salah dengan itu. Dan jika pendapat saya, seorang penonton film yang sangat bergantung pada situs torrent, berbeda dengan para juri di festival film ternama, itu merupakan hal yang wajar.

Tidak ada yang salah jika seseorang memutuskan mengembangkan diri dan kemampuannya. Justru itu merupakan hal yang bagus dan perlu didukung. Begitu pula ketika Mas Ryan memutuskan tidak cukup sekadar menjadi alat. Dia menginginkan yang lebih. Menjadi pencetus ide. Dan lagi, mengembangkan kemampuan akan menambah daya tarik yang dimilikinya. Setidaknya, begitu yang seharusnya. Sayangnya, tidak seperti itu yang terjadi.

Kembali lagi, Tuhan itu maha adil. Bayangkan jika ada sosok pria yang sangat tampan, berkemampuan sebagai aktor yang menawan, mampu menuliskan cerita menarik, menjadi sutradara yang ciamik, serta piawai dalam berkomunikasi, apa yang akan terjadi? Berharap penyakit katarak menjangkiti para wanita di dunia menjadi opsi terbaik bagi pria seperti saya, demi mendapatkan pasangan hidup.

Dalam film ini, Mas Ryan tidak cukup berhasil mengembangkan kemampuannya yang baru. Cara komunikasinya tidak biasa. Tidak mudah diterima. Cerita tidak mengalir dengan baik. Tidak seperti sungai di musim penghujan – meski tidak pula menjadi sungai di musim kemarau. Ada yang terasa tidak pas. Tidak berjalan dengan seharusnya. Dan ini menjadi peluang bagi saya. Niatan Mas Ryan untuk menambah daya tarik menjadi boomerang bagi dirinya.

Persaingan masih terbuka. Peluang tetap terjaga. Kekurangan dalam satu aspak bukan berarti kekalahan mutlak. Masih ada aspek lain. Masih ada hal lain yang bisa diperjuangkan. Terlebih kelemahan sang lawan sudah terbuka. Saatnya untuk mengasah kemampuan demi terus menjaga persaingan. Kalau kemampuan itu tetaplah tidak dapat diandalkan (dan sepertinya memang seperti itu adanya), ya sudah. Tak perlu bersedih. Yang penting sudah usaha.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s