It Isn’t Just an Auto, Plus a Motive

Copyright @Disney-Pixar, Universal Pictures, Filmline International, Cinema Center Films, Audley Films, Universal Studios, Paramount Pictures Corporation.jpg

“You’d never have imagined those pioneers who invented the automobile that it would possess us like this, our imaginations, our dreams.” (Rush: 2013)

 

Perkataan Lord Hesketh menjelang ajang Formula 3 di Crystal Palace Race Track, London, 1970, mengungkap semuanya. Tidak akan ada yang membayangkan mesin yang disambungkan dengan pemutar roda, dikaitkan pada chassis, dan dilindungi bodi akan memiliki pengaruh yang sangat besar dalam kehidupan (peradaban) manusia.

Dia melebihi fungsi awal pembuatannya. Dibuat sebagai sarana transportasi yang membantu manusia untuk berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, kehadiran automobile kemudian berpengaruh pada bermacam aspek kehidupan manusia. Menyelap begitu dalam. Dia tidak lagi sekadar menjadi alat, tapi juga ambisi, obsesi, simbol perjuangan, persamaan hak kemanusiaan, asmara, serta berbagai hal lainnya.

Ketujuh film ini hanya sebagian dari pengaruh yang dibuat automobile. Masih banyak pengaruh lain yang tidak terangkum dalam film-film yang dibahas di sini. Pengaruh yang kuat dan menyebar, automobile menjadi bagian penting dalam sejarah peradaban manusia. Dan bersamaan dengannya, tanpa tendensi apapun, F*rd menjadi empat huruf yang memiliki arti unik dalam dunia automobile.

 

The Italian Job (1969)

The Italian Job (Copyright @Paramount Pictures Corporation)
@Paramount Pictures Corporation

Sutradara: Peter Collinson

Penulis: Troy Kennedy-Martin

Pemain: Michael CaineNoel CowardBenny Hill, Raf Vallone, Tony Beckley, Rossano Brazzi, Margaret Blye, Irene Handl, John Le Mesurier

Produksi: Oakhurst Productions dan Paramount Pictures Corporation

Suara Lamborghini Miura meraung-raung di antara Pegunungan Alpen. Terdengar begitu menggairahkan, kesenangan yang purba, eksotis. Dan, itulah permulaan keeksotisan yang ditawarkan film berdurasi 100 menit ini. Ada banyak eksotisme yang ditawarkan di sini. Pegunungan Alpen, roda-empat yang menggairahkan, aksi-kecepatan yang original. Sebut merek-merek yang membuat Anda bergairah. Aston Martin, Jaguar, Fiat (?), serta tentunya Mini yang menjadi bintang utama di film ini. Mereka hadir di sini. Semua yang bisa membuat Anda terus duduk tenang sepanjang film.

Mini putih, merah, biru melesat di jalan-jalan sempit di Kota Turin, Italia. Mereka merangsek di dalam parit, melintasi aliran sungai, hingga akhirnya masuk ke dalam bus. Ya, inilah film ambisius tentang ambisi Inggris. Bahkan, tak peduli Mini tidak mau memberi dukungan pada proses pembuatan film – serta mengenyampingkan paket bantuan yang ditawarkan Fiat yang ingin mengganti Mini dengan Fiat 500 sebagai bintang utama film ini.

Lupakan kejanggalan yang ada di film ini. Tentang mobil polisi yang selalu muncul ketika mobil polisi yang lain terhalang atau akhir cerita yang menggantung. Juga kenyataan bahwa Michael Caine, pemeran utama dalam film ini, tidak bisa menyetir ketika film ini dibuat. Inilah film yang benar-benar bisa Anda nikmati. Film yang membuat Anda sadar bahwa di balik kemungilan Mini, dia memiliki kemampuan yang besar.

A city chaos, a smash-and-grab raid and $4 million through traffic jam.- The Italian Job: 1969

 

Le Mans (1971)

Le Mans (Copyright @Cinema Center Films)
@Cinema Center Films

Sutradara: Lee H. Katzin

Penulis: Harry Kleiner

Pemain: Steve McQueenSiegfried RauchElga Andersen, Ronald Leigh-Hunt, Fred Haltiner, Luc Merenda, Christopher Waite, Louise Edlind

Produksi: Cinema Center Films dan Solar Productions

Selama 363 hari dalam satu tahun, jalan sepanjang 13.469 kilometer ini hanya jalan biasa. Jalan yang tenang di tengah daerah sub-urban. Tapi, ada saat tertentu ketika dia menjadi tidak biasa, istimewa. Le Mans 24 Hours mengubah jalan ini menjadi tempat suci bagi para penggila kecepatan. Seperti Mekkah bagi umat Muslim atau Vatikan bagi umat Katolik. Di jalan inilah nama-nama seperti Bob Wolleck, Derek Bell, Graham Hill, Henri Pescarolo, Jacky Ickx, Mario Andretti, Paul Newman, Steve McQueen, dan Tom Kristensen menjadi legenda.

Khusus Steve McQueen, aksinya bisa Anda nikmati di film ini. Sayangnya, hanya kemampuannya berakting yang bisa dilihat. Sementara, keahliannya memacu kecepatan, karena alasan asuransi, tidak bisa dinikmati – meski ada rumor dia diam-diam menjadi pembalap sungguhan selama syuting berlangsung.

Pertama kali diadakan pada 1923, ajang yang merupakan buah pemikiran Charles Faroux dan Georges Durand menjadi sesuatu yang sakral. Mulsanne menjadi bagian yang paling menggairahkan. Di sinilah tempat semua birahi penggila kecepatan disalurkan. Suara mesin-mesin paling eksotis yang ada di muka bumi menyayat-nyayat udara sepanjang 24 jam. Ada yang lebih baik dari itu? Semakin eksotis karena persaingan di film ini terjadi antara dua sportscar paling legendaris yang pernah ada, Porsche 917 dan Ferrari 512.

Di lintasan, ada persaingan penuh ambisi. Di luar lintasan, ada kesenangan tak terhingga. Datang dari segala penjuru, para penggila kecepatan berkumpul, menginap di tenda-tenda sederhana, dan bersenang-senang. Otomotif bukan lagi sekadar kecepatan, tapi menjadi ritus kebersamaan.

A lot of people go through life doing things badly. Racing is important to men who do it well. – Le Mans: 1971

 

Ford: The Man and the Machine (1978)

Ford The Man And The Machine (Copyright @ Filmline International)
@Filmline International

Sutradara: Allan Eastman

Penulis: Robert HamiltonRobert Lacey (buku)

Pemain: Cliff RobertsonHope LangeHeather Thomas, Michael Ironside, R.H. Thomson

Produksi: RHI Entertainment, Inc.

Keluar dari tradisi sepertinya sudah menjadi takdir pria yang dilahirkan di Michigan pada 30 Juli 1863 ini. Terlahir di keluarga petani, Henry Ford sudah tergila-gila pada mesin sejak usia belia. Usia 16 tahun, dia meninggalkan rumah untuk magang sebagai mekanis di Michigan Car Company, Detroit. Perjalanan hidup selanjutnya adalah tentang penemuan serta ambisi.

Dua kali gagal membangun usaha sendiri, bahkan salah satunya “diambil” dan diubah menjadi Cadillac, tidak membuatnya berhenti. Lagipula, bukankah sesuatu dimulai setelah hitungan ketiga? Dan, hitungan ketiga itulah yang membuat namanya dikenang sebagai penemu sekaligus pendiri salah satu produsen otomotif ternama di dunia, Ford Motor Company.

Namun, sejarah ambisinya tidak selalu terkait dengan mesin, oli, dan sejenisnya. 5 Januari 1914 menjadi salah satu hari penting dalam sejarah ketenagakerjaan di Amerika Serikat. Jenuh dengan tingginya turnover di perusahaan, Ford membuat gebrakan. Dia mengungkap rencana membagikan keuntungan kepada para pekerja. Juga, bayaran $5 per delapan jam (pada 2011, jumlah ini setara dengan $110). Kebijakan yang terbukti berhasil memupuk royalitas para pekerja.

Sebagai manusia, perjalanan hidup Henry Ford bukan hanya tentang keberhasilan. Dia gagal menjadi Senat pada 1918. Dia pun gagal menjadikan anak tunggalnya sebagai penerus. Karena, walaupun sudah mengangkat Edsel sebagai Presiden Ford Motor Company, kekuasaan Henry di perusahaan yang dibangunnya masih sangat besar.

Bahkan setelah Henry meninggal pada 1947, perusahaan ini pun masih terlibat dengan berbagai konflik. Konflik-konflik yang tidak melulu tentang mesin, tapi juga tentang ketenagakerjaan, dan secara lebih luas tentang kemanusiaan.

This is automobile plan, that means we make the aoutomobile. The name of it’s plan is Ford. Ford has to be my name. – Ford: The Man and the Machine: 1978”

 

Cars (2006)

Cars (Copyright @Disney-Pixar)
@Disney-Pixar

Sutradara: John LasseterJoe Ranft

Penulis: John LasseterJoe RanftJorgen Klubien

Pemain: Owen WilsonBonnie HuntPaul Newman, Larry the Cable Guy, Cheech Marin, Tony Shalhoub, Guido Quaroni, Jenifer Lewis, Paul Dooley, Michael Wallis, George Carlin, Katherine Helmond

Produksi: Walt Disney Pictures dan Pixar Animation Studios

Mobil yang bisa berbicara? Hmm… ini bukan tentang mobil hitam dengan pengemudi tampan-berjambul-dan pakaian serba hitam. Ini tentang imajinasi yang melebihi serial televisi itu. Dibuat oleh rumah produksi yang kaya akan imajinasi. Toy Story (1995), A Bug’s Life (1998), dan Monster Inc. (2001), Cars menjadi penerus yang sempurna, sekaligus perpisahan yang mengharukan – sebelum rumah produksi ini diakuisisi Walt Disney Pictures.

Lagipula, ini bukan sekadar realisasi dari imajinasi tak berbatas. Empat puluh tiga ribu sketsa yang digunakan dalam pembuatan film ini juga tentang penghormatan. Lightning McQueen, si tokoh utama misalnya. Dia bukan untuk mengenang aktor ganteng yang juga hobi membalap – atau pembalap ganteng yang sampingannya berakting?

Glenn McQueen merupakan salah seorang animator di Pixar yang meninggal pada 2002. Lighting McQueen juga terinspirasi dari Michael Jordan – apa dia suka kecepatan? Sementara, sifat ngeselin-nya mereferensi Joe Namath, Muhammad Ali, dan Kid Rock – apa mereka juga suka kecepatan?

Tokoh The Duc Hudson yang bijaksana dibuat berdasar pembalap Nascar Herb Thomas yang memacu Hudson Hornet di kejuaraan Grand National 1951 dan 1953. Kecelakaan pada 1955 dan 1956 yang kemudian mengakhiri karier membalapnya – seperti juga kisah The Duc di film.

Film ini pun bisa menjadi sarana perkenalan kepada buah hati Anda. Ketika mereka mengenal dunia, putarlah film ini. Biarkan imajinasi mereka dimanjakan dengan tokoh-tokoh serta cerita yang disajikan. Setelahnya, tugas Anda untuk mengajaknya mengenal “dunia” yang sebenarnya.

 

When was the last time you cared about something except yourself, Hot Rod? You name me one time and I will take it all back. – Cars: 2006

 

Flash of Genius (2008)

Flash of Genius (Copyright @ Universal Pictures)
@Universal Pictures

Sutradara: Marc Abraham

Penulis: Philip RailsbackJohn Seabrook (artikel)

Pemain: Greg KinnearLauren GrahamAlan Alda, Dermont Mulroney, Andrew Gillies

Produksi: Universal Pictures dan Spyglass Entertainment

Suatu hari yang diguyur hujan pada November 1962 menjadi hari bersejarah bagi Bob Kearns. Saat berkendara bersama keluarga, dia menyadari kekurangan pada sistem wiper Ford Galaxie miliknya. Wiper itu tidak memenuhi kebutuhan yang diperlukan pengemudi, dan itulah kejadian yang membuatnya terinspirasi membuat penemuan kecil yang membuat perubahan besar pada hidupnya – juga dunia otomotif.

Itulah awal tercetusnya ide membuat wiper yang secara elektronis bergerak simultan seperti yang kita kenal sekarang. Di ruang kerjanya di basement rumah, Bob Kearns mewujudkan pikirannya. Ide yang kemudian dia tawarkan pada Ford, pabrikan otomotif yang begitu dihormatinya. Sayang, ketika kontrak kerja hampir digenggamnya, impian itu harus melayang. Ide Bob Kearns malah kemudian diaplikasikan oleh pabrikan otomotif, Ford (1969), General Motors (1974), Chryslers (1977), dan diikuti pabrikan lainnya.

Terjadilah “pertarungan” yang tidak seimbang. Bob Kearns yang didukung anak-anaknya (yang tidak memiliki pendidikan hukum) melawan korporasi global. David melawan Goliath. Bukan kondisi yang mudah, walau bukan hal yang mustahil.

Dalam artikel yang diterbitkan di The New Yorker pada 11 Januari 1993, John Seabrook menulis, “The most frightening thing about Kearns, from the aoutomobile companies’ point of view, is that he is not particularly interested in money.” Artikel ini pula yang menjadi dasar pembuatan film Flash of Genius.

Cerita dalam film ini memang berfokus pada perseteruan Bob Kearns melawan Ford. Tapi, itu awal dari perjuangan panjangnya. Setelah berhasil memenangkan gugatan terhadap Ford, Bob Kearns pun memenangkan gugatan-gugatan terhadap pabrikan lain. Saat ini, setiap tahunnya, setidaknya 30 juta mobil yang memanfaatkan penemuan Bob Kearns dijual kepada masyarakat.

 

The most frightening thing about Kearns, from the automobile companies’ point of view, is that he is not particularly interested in money. – Flash of Genius: 2008

 

Made in Dagenham (2010)

MID_QUAD_LAYOUT_4
@Audley Films

Sutradara: Nigel Cole

Penulis: William Ivory

Pemain: Sally HawkinsBob HoskinsAndrea Riseborough, Jaime Winstone, Lorraine Stanley, Nicola Duffett, Geraldine James, Matthew Aubrey, Daniel Mays

Produksi: Audley Films, BBC Films, BMS Finance, HanWay Films, Lipsync Productions, Number 9 Films, UK Film Council

Akhir Mei 1968, 187 wanita pekerja di pabrik Ford di Dagenham memulai aksinya. Mereka menuntut perubahan status, dari unskilled-employee disamakan dengan pekerja lain (pria). Mereka sudah jengah kemampuan memotong, menjahit, hingga menjadi pelapis jok serta trim tidak dianggap sebagai pekerjaan yang membutuhkan skill. Sementara, semua itu dilakukan tanpa menggunakan pola. Dikerjakan berdasarkan insting serta pengalaman – juga keahlian.

Aksi ini awalnya tidak mendapat tanggapan serius. Dipimpin Rita O’Grady, para wanita pekerja pun melakukan mogok untuk menunjukkan keseriusan mereka. Akibatnya, kegiatan produksi pabrik yang mempekerjakan 55.000 pria ini terganggu. Semua berhenti. Padahal, di saat itu, Ford sedang memproduksi Ford Escord untuk pertama kali.

Aksi yang awalnya hanya dilakukan di dalam pabrik lalu dilakukan di berbagai tempat. Di London, bahkan di pabrik Ford yang berada di Liverpool. Mereka mulai mendapatkan perhatian dari berbagai kalangan, media, kementerian tenaga kerja, juga manajemen Ford di pusat, Amerika Serikat. Perlahan, mereka mendapat dukungan dari berbagai pihak. Juga, cemoohan. Produksi yang berhenti berarti hilangnya penghasilan bagi 55.000 pekerja Ford di Dagenham.

Ford Dagenham menjadi titik tolak perjuangan persamaan upah wanita dan pria. Dan, Ford Escord menjadi simbol persamaan hak pria dan wanita pekerja.

 

This strike Is about one thing and one thing only: fairness. Equal pay or nothing. – Made in Dagenham: 2010”

 

Senna (2010)

Senna (Copyright @ Universal Studios)
@Universal Studios

Sutradara: Asif Kapadia

Penulis: Manish Pandey

Pemain: Ayrton SennaAlain ProstFrank Williams, Ron Dennis, Milton da Silva, Neide Senna, Jackie Stewart, Gerhard Berger, Nelson Piquet, Nigel Mansell

Produksi: Universal Pictures, StudioCanal, Working Title Films, Midfield Films

Ayrton Senna, sebuah nama yang “disakralkan” di dunia balap, terutama di Formula One. “Apa lagi yang bisa disampaikan?” menjadi pertanyaan utama ketika Asif Kapadia berniat membuat film dokumenter tentang pembalap asal Brazil ini.

Sepuluh tahun berkarier di Formula One (tiga kali juara dunia), ada banyak referensi tentangnya. Tentang perjalanan karier, kehidupan pribadi, serta persaingannya dengan Alain Prost. Selain film ini, ada banyak film lain yang mengangkat kisah hidupnya. Lalu, apa lagi?

Perjudian besar bagi sutradara yang sebelumnya berkutat dengan film pendek. Sialnya, dia berhasil. Sosok Ayrton Senna dihadirkan sebagai manusia biasa. Dia pembalap hebat dengan nyali super besar – yang tidak jarang dianggap sebagai ancaman bagi pembalap lain. Tapi, ada pula kalanya dia menjadi frustasi, marah terhadap situasi yang dihadapi.

Grand Prix Jepang 1990 menjadi penentu juara dunia tahun itu. Senna yang memimpin klasemen dan berada di pole position merasa kebijakan pengubahan posisi start tidak adil. “Today is no way. Today has to be my way. No matter what happens, has to be my way,” ucapnya dalam hati sebelum memulai lomba. Senna menjadi juara dunia sebelum melintasi tikungan pertama – setelah terlibat kecelakaan dengan Alain Prost dan keduanya keluar dari lomba.

Kecelakaan tunggal yang dialami Ayrton Senna di Grand Prix San Marino 1994 tidak membawanya menjadi juara dunia. Dia bahkan harus mengakhiri karier dan hidupnya. Pembalap bernyali besar telah meninggal. Dunia balap berduka. Bahkan sang musuh utama menjadi salah seorang pengangkat peti jenazah ke pemakaman.

 

Today is no way. Today has to be my way. No matter what happens, has to be my way – Senna: 2010”

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s