Pegang Kendali

image
Take This Waltz

Pesannya sederhanya saja: jangan memulai jika tidak tahu cara untuk menghentikannya. Memegang kendali merupakan hal penting. Bukan berarti dalam maksud untuk mengatur apalagi menguasai pihak lain, tapi lebih untuk memantapkan otoritas terhadap diri sendiri. Memegang kuasa untuk kepentingan pribadi. Terdengar egois? Biar saja. Karena, kadang harus seperti itu. Demi kebaikan – setidaknya kebaikan personal.

Pegang kendali dalam berbagai aspek. Tidak hanya sebagian, tapi keseluruhan. Dari hal yang remeh, sampai yang tidak temeh. Dari yang ramah, sampai yang mengundah amarah. Semuanya.

Saya ingat cerita seorang instruktur saat mengikuti ujian SIM. Suatu kali, seseorang datang ke instruktur ini. Ingin diajari agar berani membawa sebuah motor besar yang baru dibelinya. Kata sang instruktur, itu hal mudah. Yang terpenting adalah pengereman. Ketika seorang pengendara paham cara pengereman yang baik dan benar, dia akan merasa percaya diri membawa motor seperti apapun, dalam kecepatan berapapun. Benarkah? Coba saja buktikan sendiri.

Sayangnya, terkadang (atau sering, tergantung pengalaman masing-masing) kita lupa tentang yang sederhana itu. Baik tentang memegang kendali atau cara mengerem. Terbawa suasana, lupa akan konsekuensi, atau menikmati hanyut terbawa arus membuat kita lupa kemampuan untuk mengendalikan situasi – atau sekadar tahu saatnya mengerem.

Saya pernah mengalaminya (penyederhanaan untuk kekhilafan yang tak terhitung jumlahnya). Sebagai pengendara motor, saya lupa mengerem. Saya lupa untuk menghentikan laju motor. Saya lupa bahwa pada setiap motor terdapat dua jenis rem yang dapat digunakan setiap saat – dan pada saat kejadian tersebut kedua rem pada motor saya berfungsi dengan baik. Saya lupa. Benar-benar lupa. Saya khilaf. Hilang kendali. Hanyut terbawa suasana. Tak peduli akan konsekuensi. Saya hanya ingin menikmati.

Mengisi waktu senggang semasa menjadi pengangguran, saya sering melakukan tindakan impulsif. Tanpa rencana atau tempat yang ingin dituju, saya mengeluarkan motor dan mulai berkendara. Suatu hari, impulsivitas memuncak. Saya benar-benar menikmati kebersamaan bersama sepeda motor saya. Saya hanya terus berkendara. Terus memacu sepeda motor di atas jalan beraspal. Sampai, tak terasa sudah beberapa jam saya lalui. Tanpa berhenti, untuk sekadar minum, makan, atau mengisi bensin (untungnya saat itu tanki bensin terisi penuh). Sampai kemudian, pada satu titik, ada sesuatu yang mengingatkan saya bahwa saya sudah terlalu jauh berkendara.

Secara usia, saat itu, saya belumlah bisa disebut tua. Masih beberapa tahun untuk mencapai usia 30. Tapi, tetap saja, tubuh manusia memiliki batas kemampuan. Tak peduli pada usia berapapun. Dan, batas itulah yang telah terlewati ketika tiba-tiba pinggang saya terasa sangat pegang, sangat sakit. Rasa sakit yang membuat saya tersadar bahwa saya telah berkendara lebih dari 3 jam, lebih dari 120 kilometer. Rasa sakit yang membuat saya mulai berpikir akan seberapa jauh lagi jarak yang ingin saya tempuh. Mungkin sudah saatnya untuk beristirahat. Lalu, berhenti? Sayangnya, tidak.

Di saat kepala memikirkan hal-hal itu, sebuah motor melaju mendahului saya. Melihat plat nomor motor tersebut, saya tahu si pengendara berasal dari daerah yang lebih jauh jaraknya dibanding rumah saya. Rasa sakit pada pinggang tak lagi diacuhkan. Tarik gas dan kembali melaju, entah sampai mana. Laju saya baru berhenti ketika tiba di sebuah pelabuhan. Sempat terbesit pikiran untuk melanjutkan ke pulau seberang, tapi mungkin lain kali. (Ponsel saya bergetar. Suara seorang pria terdengar. Berita tentang panggilan pekerjaan. Esok pagi. Saatnya untuk kembali ke rumah.)

Sialnya, saya harus menempuh perjalanan dengan jarak yang sama seperti yang saya lalui sebelumnya. Jarak yang membuat pinggang saya terasa begitu menyiksa. Jika satu kali jarak tersebut saja sudah membuat pinggang saya terasa seperti itu, bagaimana rasanya jika jaraknya dikali dua?

Selesai berbicara di ponsel, saya mengarahkan motor ke sebuah mini market. Membeli minuman kemasan. Meminumnya sambil menghisap rokok dalam-dalam. ‘Perjalanan selanjutnya Anyer-Panarukan’

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s