My Mood

image
Modigliani

Mudah sekali menyandangkan kesalahan pada pihak lain ketika mengalami kegagalan, kesialan, atau semacamnya. Ketika proyek yang ditangani berakhir dengan bencana, salahkan cuaca buruk yang terjadi dalam beberapa minggu terakhir. Ketika harga saham anjlok, salahkan para teroris yang membuat kondisi keamanan tidak kondusif. Ketika telur yang dipanaskan di atas penggorengan menjadi terlalu hitam, bahkan hampir menyaru seperti rupa permukaan wajan, salahkan tukang air kemasan yang datang begitu cepat sejak pemesanan.

Selalu saja ada yang bisa disalahkan. Selalu ada yang salah. Selalu ada yang berbuat tidak baik. Selalu ada yang menjadi penghalang. Selalu ada yang berniat buruk. Selalu ada yang tidak senang jika kita meraih keberhasilan. Selalu, selalu, dan selalu tidak pernah bercermin.

Ketika harga minyak dunia melonjak, ketika nilai kurs mata uang asing terbang mengangkasa, ketika lahan bangunan yang selama ini ditempati kemudian diratakan oleh pemerintah, ketika terasa para penguasa bertindak semena-mena dan kita menjadi korban terhadap kekejaman yang mereka lakukan. Ketika yang terjadi adalah hasil, akibat dari rentetan penyebab. Ketika kekusutan benang tak mungkin lagi teruraikan, mudah sekali untuk menyalahkan pihak lain. Menempatkan diri sebagai korban, pihak lemah yang selalu ditindas, sementara mereka adalah penguasa jahat yang tak pernah peduli akan nasib sesama.

Hidup merupakan rentetan kejadian. Satu kejadian berpengaruh pada kejadian lain. Satu kejadian menyebabkan kejadian yang lain. Semua saling terhubung. Terangkai dalam satu jalinan. Mereka yang menjadi kuasa merajut untaian itu dengan seksama. Tak membiarkan satu kusutan yang terjadi. Sekalipun ada simpul yang tak diharapkan, itu menjadi pelajaran yang tak akan diulangi. Pengingat untuk bisa lebih teliti.

Satu simpul melekat. Laju agak terhambat. Disusul simpul-simpul lainnya, yang kemudian menjadi penghambat. Ketika matahari terbenam di ufuk barat, ketika malam kiat kesat, ketika mata tak lagi dapat jelas melihat, yang terjadi adalah tersesat.

Berpikir, menjadi pintar, lalu memperoleh kuasa bukanlah berarti berkuasa akan kehidupan orang lain. Kuasa tidak bisa dijalankan dengan suka-suka. Pemimpin yang baik tentu akan mempertimbangkan hal yang terbaik ā€“ menurutnya, tentunya. Dan sering kali, yang terbaik memerlukan pengorbanan. Korbankan waktu bermain di siang hari demi pemahaman mendalam, korbankan uang jajaln sebulan demi membeli mainan yang diidamkan, korbankan waktu bersama teman demi wanita idaman. Pengorbanan pasti ada dalam setiap keputusan. Itu wajar dan memang sudah menjadi bagian dari kehidupan. Yang terpenting adalah prioritas. Tujuan yang ingin dicapai. Impian untuk digapai.

Berkorban bukan untuk menguasai dan mengatur hidup orang lain. Berusaha mencapai yang terbaik untuk bisa berkuasa terhadap diri sendiri. Tidak menjadi korban dari keadaan. Ketika kondisi ekonomi menjadi tak terkendali, laju inflasi seperti air laut di malam purnama, setidaknya ada simpanan yang dapat menjadi penyeimbang keadaan. Ketika pemerintah menetapkan rancangan pembenahan tata kota, tempat tinggal kita tidak termasuk di kawasan yang terkena rencana tersebut. Ketika orang-orang berontak karena merasa dinista, kita berada di tempat yang nyaman. Bukan berarti tak peduli, tak punya empati, tapi semua ini memang sesuai dengan kendali. Sudah diperhitungkan sejak awal. Sudah dipersiapkan sejak dini. Menjadi Sang Alkemis, mengutip Paulo Coelho. Menjadi manusia yang bisa membaca tanda ā€“ bukan si buta yang tak peduli akan bahaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s