Bagaimana Caranya…

image

Ini sebenarnya bukan tentang lagu yang dibawakan oleh Dian Pramana Putra. Ya, memang. Boleh dibilang saya terlahir di generasi yang salah. Ketika orang-orang seusia saya mendendangkan musisi masa kini, alunan musik yang merasuk ke dalam telinga saya berasal dari masa lalu. Tapi, untuk kali ini, dalam tulisan ini, yang menjadi bahasan utama bukanlah lagu-lagu yang masuk dalam daftar tembang kenangan – meski masih ada kaitannya dengan mereka.

Ini tentang kejadian yang sering saya temui sehari-hari. Dalam berbagai suasana, diutarakan oleh berbagai kalangan, baik lisan maupun tulis, dan seperti sudah menjadi sebuah kewajaran. Dan jangan dulu menyangka tulisan ini akan menghakimi yang baik dan benar. Saya hanya ingin beropini. Mengemukakan pendapat, menyatakan sikap. Lagipula, siapa pula saya ini, berani bertindak hakim yang mengadili? Saya percaya budaya merupakan produk masyarakat, dan bahasa yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari, dalam berbagai suasana, oleh semua kalangan, merupakan bagian dari produk budaya masyarakat tersebut.

Dalam lagu yang didendangkan Dian Pramana Putra, bagaimana caranya dirangkai menjadi bagian sebuah baris. Tapi, dalam kehidupan sehari-hari, dua kata tersebut seringkali menggantikan. Lebih tepatnya, bagaimana menggantikan cara.

“Ini tentang bagaimana kamu memperlakukanku.”

“Agar suatu peraturan dapat diterima oleh masyarakat, tergantung bagaimana komunikasi yang dilakukan pemerintah.”

Selain dua kalimat tersebut, tentunya ada banyak sekali contoh yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari, dan mungkin pula Anda termasuk orang yang menggunakan gaya bahasa seperti itu. Tidak salah. Karena pada dasarnya, toh, kalimat yang Anda sampaikan dipahami oleh lawan bicara Anda. Pesannya diterima dengan baik. Bukankah itu yang terpenting dalam komunikasi? Dan karenanya, seperti yang saya utarakan sebelumnya, tulisan ini tidak akan mengadili yang baik dan buruk. Ini hanya tentang saya dan hal-hal yang pernah saya pelajari.

Ketika masih menjadi pelajar, ada satu hal mengenai pelajaran Bahasa Indonesia yang saya ingat, tentang kalimat tanya. Hal paling mudah untuk mendeteksi kalimat tanya adalah adanya tanda tanya di akhir kalimat. Itu suatu hal yang mutlak sifatnya. Tapi, selain itu, ada pula kata-kata yang kehadirannya di suatu kalimat menjadi penanda bahwa kalimat tersebut merupakan kalimat tanya. Apa, mengapa, kenapa, dimana, kapan, dan termasuk pula bagaimana. Setiap kata memiliki perbedaan pada aspek yang ditanyakan.

Kehadiran kata tanya tidaklah menjadi hal mutlak sebagai penanda kalimat tanya. “Pergi?”, “Dari tadi?”, “Lurus saja?”, tidak memerlukan kehadiran kata tanya untuk mengukuhkan sebagai kalimat tanya. Tapi, seingat saya menurut penjelasan yang dipaparkan pengajar saya, kehadiran kata tanya dalam sebuah kalimat membuat kalimat tersebut menjadi kalimat tanya – yang pastinya akan diakhiri dengan tanda tanya. Jadi, dua kalimat di awal tadi seharusnya diakhiri dengan tanda tanya.

“Ini tentang bagaimana kamu memperlakukanku?”

“Agar suatu peraturan dapat diterima oleh masyarakat, tergantung bagaimana komunikasi yang dilakukan pemerintah?”

Yang kemudian menjadi pertanyaan adalah, ketika dua kalimat tersebut diakhiri dengan tanda tanya, apakah pesan yang disampaikan diterima dengan baik? Apakah komunikasi menjadi lancar? Hmmm… sepertinya tidak. Dua kalimat tersebut merupakan kalimat pernyataan, yang tidak memerlukan tanda tanya di akhir kalimat.

Tapi, kan, memakai kata tanya. Jadi, seharusnya diakhiri dengan tanda tanya, dong!

Menghadapi kasus seperti itu, alih-alih menggunakan bagaimana, saya lebih memilih memakai cara. Tidak berlawanan dengan pelajaran yang disampaikan pengajar, tidak pula mengubah, apalagi mengacaukan, pesan yang ingin disampaikan. Solusi yang tidak perlu mengorbankan pihak manapun. Bagaimana tidak perlu merasa kikuk karena berada di lingkungan yang tidak seharusnya, sementara cara pun tidak perlu merasa minder karena eksistensinya tersisihkan.

Dan, atas dasar alasan yang sama pula saya lebih memilih menuliskan “Itulah alasan saya mengunjungi Anda” daripada “Itulah kenapa saya mengunjungi Anda”. Dalam kalimat tersebut, saya tidak bertanya kepada Anda – melainkan memberi penjelasan. Saya tidak mencari penjelasan dari Anda – tapi saya-lah yang memberi penjelasan pada Anda.

Segala sesuatu ada karena memiliki tujuan. Ada fungsi yang berbeda yang diemban karena keberadaannya. Begitu pula dengan kata. Bahkan kata-kata bersinonim pun memiliki perbedaan antara satu dengan lainnya – bisa dalam kaitan dengan kondisi sosial, jenis komunikasi yang dilakukan, dan lainnya.

Tujuannya, dalam kasus ini, hanya satu: agar komunikasi terjalin dengan baik. Tidak ada salah paham. Ketika aku merasa rindu padamu, tapi tak tahu cara untuk dapat bertemu, “Bagaimana caranya?” menjadi pertanyaan putus asa, penuh harap, yang perlu kamu jawab. Pada nada tidak tercetak tanya, tapi ada gulana yang menanti untuk kamu sapa.

Advertisements

One thought on “Bagaimana Caranya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s