26 Mei 2016 (22:38 WIB)

image

Rasa kantuk menyerang ketika kereta hampir tiba di stasiun tujuan. Tirai mata perlahan turun seiring lantunan suara Alanis Morisstte. “That I would be good if I did nothing. That I would be good if I got the thumbs down…” Suara roda besi bergesekan dengan rel lirih masuk ke dalam telinga. Kantuk semakin terasa sementara jarak dengan tujuan semakin dekat.

“… That I would be fine, if I went bankrupt…” Mata yang terpejam, kesadaran yang hampir hilang, dibangunkan gerakan orang yang lalu lalang. Kereta mulai memasuki stasiun. Beberapa orang berjalan tergesa ke gerbong terdepan.

Bukan hal yang asing. Setiap kali, selalu saja ada orang-orang seperti ini. Bukan karena laju kereta tak cukup kencang. Justru karena kencangnya laju kereta, dibutuhkan kegesitan untuk dapat menaklukkan. Berada di gerbong terdepan, bergegas ke luar dari gerbong ketika pintu terbuka, dan menyebrangi rel sebelum kereta kembali melaju – menghemat sedikit waktu daripada menunggu hingga gerbong terakhir meninggalkan stasiun.

Sementara, bangku dari besi menjadi tempat peraduan sesaat bagi tubuh saya yang terkantuk. Beberapa teguk air mineral mengembalikan kesadaran. Orang melintas di depan. Tak ada yang bergegas. Sebuah usaha percuma coba mengalahkan laju kereta dari tengah peron sementara lampu hijau tanda aman bagi kereta sudah menyala.

Kaum urban, begitulah status yang disematkan pada orang seperti kami, termasuk saya. Bekerja di Ibukota dan tinggal di luar kawasan Jakarta. Setiap hari, rutinitas yang dijalani (hampir) selalu sama. Keluar dari rumah pagi, mengejar transportasi umum, berdesakkan di dalamnya.

Bukan masalah tak sabar ketika bergegas di dalam kereta atau di stasiun ketika harus pindah ke jalur yang lain. Bagi kami, ada kalanya waktu terasa singkat. Bukan berarti 24 jam tidak cukup untuk mengakomodasi segala aktivitas. Hanya saja, pada saat-saat tertentu, ada kebutuhan untuk bergerak lebih cepat dari yang seharusnya.

Telat beberapa menit berangkat dari rumah akan membuat kereta yang biasanya dinaiki sudah melaju sebelum tiba di stasiun. Berangkat dengan kereta berikutnya berarti harus mengeluarkan tenaga ekstra untuk membayar jeda waktu yang terbuang. Berjalan cepat atau bahkan berlari merupakan sebuah keharusan. Bahkan dengan usaha yang seperti itu, (terkadang) keterlambatan tetap saja tak bisa dihindarkan. Dan bagi pekerja, terlambat datang ke kantor bisa berarti bencana. Teguran dari atasan atau malah Surat Peringatan.

Ketika keadaan saldo di rekening memasuki minggu ketiga seperti air laut di siang hari, hal-hal seperti itu bukanlah kabar menggembirakan – sementara tagihan tak juga kunjung menghilang. Bertabrakan dengan orang lain, menyebot antrean, memaksa masuk di kala gerbong tak lagi cukup menampung, atau tak peduli “aturan” dahulukan penumpang yang akan turun, menjadi pemandangan keseharian.

Emosional? Terkadang. Siapa yang suka ketika sedang berjalan tiba-tiba bersenggolan bahu dengan orang yang berlari dari arah berlawanan atau dari belakang. Siapa pula yang tak kesal ketika harus berbenturan dengan orang-orang yang memaksa masuk ketika hendak ke luar dari gerbong kereta. Tapi, ketika hal-hal seperti itu sudah menjadi menu harian, dalam hati hanya bisa berujar, ‘Ya, sudahlah.’ Nikmati saja. Inilah alunan kehidupan. Seperti suara merdu yang sempat menurunkan tingkat kesadaran saya.

“… That I would be good even if I lost my sanity….” Gerbong terakhir sudah tak lagi terlihat dari pandangan. Tukang ojek berebut penumpang di depan stasiun. Mengeluarkan sebatang rokok lalu menjadikannya bara, sebentar lagi akan tiba di peraduan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s