Skenario Jangka Panjang

image
Like Father Like Son

“Tuhan bekerja dengan cara yang misterius.”

Saya yakin ada banyak orang yang sebal dengan kalimat tersebut – sementara banyak pula yang menyetujuinya. Keyakinan saya bukanlah tanpa dasar. Dalam keseharian yang saya jalani, ada beberapa orang yang pernah dengan tegas menyatakan ketidaksetujuannya terhadap kalimat tersebut. Marah? Mungkin saja, meski pada saat yang bersamaan saya juga melihat rasa cinta yang mendalam terhadap Sang Pencipta pada orang-orang tersebut.

“Ada hikmah dari segala yang terjadi.”

Saya pun yakin ada banyak orang yang tidak setuju dengan pernyataan itu, terutama jika yang terjadi adalah sebuah bencana. Hikmah apa? Kenapa harus lewat bencana? Lo pikir enak ngalamin bencana? Tentu, tidak ada manusia yang ingin merasakan bencana. Tapi, kenyataannya, dalam kehidupan, setiap orang pasti pernah mengalami bencana.

Saat ini saya usia saya sudah jauh dari remaja, meski masih terlalu hijau untuk menyebut diri telah makan asam-garam kehidupan. Masih banyak orang di dunia ini yang jauh lebih lebih berusia dari saya – serta mengalami lebih banyak pengalaman dibanding saya. Bahkan, saya yakin ada banyak orang seusia saya yang telah mengalami lebih banyak cobaan dibanding saya. Tapi, tetap saja, hal itu tidak menjadi alasan bagi saya untuk tidak berbagi pengalaman kehidupan pada orang lain.

Dengan segala pengalaman hidup yang telah saya lalui, salah satu hal yang saya syukuri adalah berada di antara orang-orang yang begitu beragam. Orang-orang yang memahami bahwa setiap orang memiliki keunikan, dan karenanya setiap orang harus diperlakukan secara berbeda. Setidaknya, begitu yang saya lihat sehari-hari, di lingkungan saya.

Percuma saja memaksakan kehendak pada orang yang memiliki sikap keras. Bukannya malah diterima, kita bahkan sangat mungkin tidak dianggap oleh orang tersebut. Contoh lain lagi. Jika banyak orang di luar sana yang berbicara mengenai kebebasanlah yang akan membuat seseorang dapat leluasa mengembangkan diri dan kemampuannya, pada kenyataannya, ada orang(-orang) yang justru harus dikekang agar dapat melakukan hal tersebut. Aturanlah yang (secara sadar atau tidak) memotivasinya untuk terus melangkah maju, mencapai titik yang baru dalam hidupnya.

Dan jika manusia saja paham mengenai keunikan tersebut, tentunya Sang Pencipta, yang mencipta dan memberi kehidupan di alam semesta, sangat mahfum dengan kondisi tersebut. Karenanya, Dia akan melakukan berbagai hal yang dirasa perlu, patut, dan baik pada setiap mahluk ciptaan-Nya – tentu berdasar pandangan serta konsep-Nya. Dan bagi para manusia, beruntunglah mereka yang tersadar pada panggilan Sang Pencipta.

Tidak ada pembuat yang tidak menyayangi hasil karyanya. Seorang pelukis akan sangat mengagumi hasil lukisannya. Begitu pula dengan musisi, penyair, arsitektur, dan sebagainya. Dan, saya yakin, Sang Pencipta pun memiliki perasaan yang sama pada manusia. Tidak hanya sebagian atau golongan tertentu, setiap manusia yang ada di dunia ini tentu disayangi. Hanya saja, terkadang, ada saja yang menolak terhadap rasa sayang itu. Dan bagi yang menerimanya dengan tulus, beruntunglah mereka.

Dia akan memberikan jalan bagi mereka yang menerima rasa sayang itu. Jalan yang tidak selalu berarti kemudahan. Bukan hamparan karpet merah dan hiasan buket bunga di samping kanan-kiri. Jalan yang terkadang dapat berupa tembok, atau kondisi yang begitu menyiksa untuk dilalui.

Saya pribadi percaya dengan dua pernyataan di awal tulisan ini, dan sedang berusaha untuk ikhlas menjalani kehidupan di dunia ini. Sedang berusaha, dan masih sangat jauh untuk bisa sepenuhnya ikhlas. Sadar bahwa kehidupan yang saya jalani beralur pelan, atau seperti pepatah Jawa alon-alon asal kelakon, sering kali saya iri melihat orang-orang yang dengan cepat mengalami kemajuan dalam hidupnya. Saya pun ingin memiliki yang mereka punya, merasakan yang mereka dapatkan. Tapi setelah menenangkan diri, meredam emosi, dan berpikir dengan lebih jernih, saya mensyukuri semua. Semua hal yang terjadi pada diri saya selama ini. Bahwa segala masalah, rasa sakit, kerumitan, dan segala hal tak mengenakkan selama ini, toh, setelah dipikir-pikir, saya ternyata diberikan berkah yang luar biasa. Saya tidak mengada-ada. Saya bukan pemuka agama dan tulisan ini bukan merupakan naskah pidato untuk disampaikan di hadapan umat. Saya bicara tentang kehidupan yang saya jalani.

Darah Jawa mengalir deras di dalam tubuh saya. Mungkin karena itu kehidupan dengan laju yang cepat tidaklah cocok dengan saya. Alur kehidupan yang saya jalani tidaklah digerakkan dengan mesin buatan Jaguar, atau bahkan Mercedez seperti yang terdapat pada mobil yang digunakan Roseberg. Sebagai pengendara motor yang hampir selalu berkendara pada kecepatan 60 km/jam, tentunya melesat pada 300 km/jam akan membuat jantung saya berhenti bekerja. Toh, dengan 60 km/jam, saya bisa menikmati perjalanan. Saya bisa menyenandungkan lagu-lagu favorit sambil melihat kejadian di kanan-kiri jalan. Segala sesuatu ada/terjadi karena suatu alasan, yang sering kali merupakan sebuah misteri.

Dengan keyakinan bahwa Tuhan bekerja dengan cara yang misterius, salah satu hal yang selalu saya panjatkan dalam doa: ikhlaskan saya menjalani kehidupan ini. Saya hanya manusia biasa. Tidak memiliki kemampuan untuk dapat melihat masa depan. Karenanya, ketika suatu saat mendapat cobaan, saya tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui keadaan tersebut terjadi karena suatu kebaikan yang terjadi pada saya di masa depan. Kebaikan yang hanya saya ketahui ketika saatnya tiba. Tidak ketika saya mengalami cobaan, tapi ketika yang disebut cobaan itu telah berlalu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s