Ya… Beginilah Dunia

Masterful Marks Cartoonists Who Changed the World
Masterful Marks: Cartoonists Who Changed the World

 

If people were employed at creating heaven on earth, everybody would be happy; instead each one is creating his own heaven by creating hell for others.
Bangambiki Habyarimana, The Great Pearl of Wisdom

Sebagian besar orang di dunia ini tentu ingin dihargai. Atau mungkin, malah seluruh umat manusia memiliki keinginan seperti itu. Terlebih penghargaan itu diberikan atas hasil karya yang dibuat. Pemahaman penghargaan di sini dalam arti luas. Mungkin sebagian menggangap apresiasi dalam bentuk pengakuan sudah cukup, sementara bagian yang lain menginginkan yang lebih dari itu. Tapi, apapun itu, penghargaan pada seseorang yang telah melakukan sesuatu merupakan hal yang sudah sepatutnya. Sekadar sepatutnya. Karena, pada kenyataannya, banyak kejadian yang tidak demikian.

Pernah mendengar cerita tentang sekelompok mahasiswa di Yogyakarta yang membangun merek Dagadu? Saya pernah mendengar cerita itu. Dari seorang teman, beberapa tahun yang lalu. Dan karena pendengaran itu sudah terjadi beberapa tahun yang lalu sementara kemampuan daya ingat saya pun di bawah standar, maafkan dan tolong koreksi jika terjadi kekeliruan.

Berawal dari keisengan dan kesenangan membuat desain pada kaos, akhirnya sekelompok mahasiswa mulai menjual hasil kreasinya dengan label Dagadu. Tak disangka, masyarakat menerima karya mereka dengan sangat baik. Kaos Dagadu laris manis, bahkan seperti menjadi oleh-oleh wajib bagi wisatawan yang berkunjung ke Kota Pelajar.

Senang? Sudah pasti. Siapa yang tidak senang karyanya diterima dengan baik serta mendapatkan uang. Tapi kemudian, karena berawal dari sekadar kesenangan dan keisengan, para mahasiswa ini hanya terus bersemangat membuat karya – dan lupa bahwa saat itu mereka sudah masuk dalam dunia industri dengan segala aturan main dan sebagainya. Hingga kemudian, ada pengusaha yang melihat peluang tersebut dan mendaftarkan merek dagang Dagadu. Para mahasiswa itu memang pencetus, tapi secara hukum sang pengusaha itulah yang memiliki merek Dagadu. Yang kemudian terjadi adalah terjadinya ‘kesepakatan’ yang cenderung merugikan para mahasiswa – hal yang ternyata tidak menyurutkan semangat mereka untuk berkarya hingga saat ini.

Sudah banyak cerita tentang orang-orang yang terlalu asyik membuat karya tapi lupa pada hal lain yang sebenarnya menjadi bagian tak terpisahkan, konsekuensi, dari karya tersebut. Seniman menjadi golongan yang paling banyak termasuk dalam kelompok ini. Jiwa bebas, semangat kreativitas tak terbentung, hasrat untuk terus berkarya, tapi lupa bahwa ada hal-hal lain yang juga mendukung hasil karya tersebut.

Dan, cerita seperti itu tidak hanya terjadi di negeri ini saja. Di negara maju seperti Amerika Serikat pun terjadi hal yang sama. Bahkan, mungkin lebih sadis. Permasalahan utamanya adalah manusia lebih dulu membuat karya dibanding kepastian hukum. Baru setelah adanya kejadian atau gugatan maka dibuatlah payung hukum. Nasib sial, jika boleh berkata kasar, bagi mereka yang berkarya sebelum payung hukum itu dibuat. Sekaligus, penghargaan besar karena atas upaya atau kasus merekalah orang-orang yang kemudian berkarya dapat mendapatkan perlindungan hukum yang pasti.

Pioner, begitulah mungkin sebutan yang tepat bagi orang-orang yang mengalami nasib sial. Dan, justru itulah ironisnya. Justru para pioner, peletak dasar, pembuka ranahlah yang mengalami nasib sial. Orang-orang yang seharusnya mendapatkan penghargaan malah mengalami nasib sial.

Beberapa waktu yang lalu masyarakat dunia tergila-gila dengan Captain America: Civil War. Tergila-gila dengan filmnya, terbuai dengan adegan aksi yang ditampilkan, terpesona dengan para pemain yang ada di dalamnya, tapi mungkin tidak banyak yang tahu tentang tokoh jenius yang pertama mengkreasikannya. Terlebih, nasib yang dialaminya. Jangan bayangkan kehidupan yang dijalani oleh seniman jenius itu seperti hal Stan Lee. Keduanya memang memiliki hubungan keluarga, tapi kehidupan yang dijalani Stan Lee, serta penghargaan dalam berbagai  aspek yang diterima, jauh lebih baik dibanding seniornya tersebut. Penyebabnya? Ya, seperti yang tadi sudah disebut. Terlalu sibuk untuk berkarya. Lebih sialnya lagi, Captain America merupakan komik superhero pertama. Dialah ‘ayah’ dari semua tokoh superhero yang sekarang dikenal.

Memang, tidak semua pioner mengalami nasib seperti itu. Rodolphe Töpffer dikenal sebagai Bapak Komik Modern, sementara Osamu Tezuka menjadi Bapak Manga. Ada sebagian orang yang memang mendapatkan penghargaan sesuai dengan kontribusi yang mereka buat, sementara sebagian yang lain hanya bisa dikenang berkat adanya orang-orang yang maish mau peduli.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s