Hidup itu (Su)Realis

image
A Perfect Day

Dari sekian banyak petuah bijak yang saya dapatkan selama duduk di atas bangku kuliah, salah satunya adalaha “Tidak ada yang lebih surealis dibanding realitas itu sendiri”. Kira-kira, begitulah yang disampaikan salah seorang dosen di kampus. Bingung? Jangan. Tidak paham? Tak perlu khawatir, wong saya saja yang menjadi mahasiswanya tidak pernah mudeng. Hehehe….

Mungkin jika disederhanakan seperti ini: dalam kehidupan sehari-hari, yang dikatakan realitas, yang terjadi adalah sesuatu yang surealis. Misalnya saja, satu minggu lagi kekasih saya ulang tahun sementara rekening di tabungan sudah sangat menipis. Jangankan untuk mengajaknya makan, menonton, dan membelikan hadiah, untuk mencukupi kebutuhan hingga tanggal gajian pun dibutuhkan kebijakan moneter yang sangat ‘kejam’. Walhasil, diajukanlah permohonan maaf kepada gadis tercinta dengan embel-embel suatu saat, ketika ada rejeki, akan diberikan hadiah – serta diajak makan dan menonton. Sementara, untuk hari ulang tahun nanti, bisakah diganti dengan sesuatu yang tidak perlu mengeluarkan uang? Pengajuan itu pun disetujui. Sang kekasih hanya ingin dinyanyikan sebuah lagu yang sangat berarti baginya.

Hari demi hari dilalui dengan latihan. Mulai dari mencari nada yang pas hingga rencana yang tepat agar momen tersebut menjadi tak terlupakan. Hingga kemudian, pagi hari sebelum aksi dilakukan, sebuah kabar diterima. Ada teman yang membayar hutang. Beberapa saat kemudian, kabar yang lain datang: ada honor yang dimajukan. Tak berselang beberapa saat, kabar yang lainnya pun tak ingin kalah memberi kejutan: honor yang belum dibayarkan pada bulan sebelumnya. Rejeki nomplok. Rencana acara ulang tahun yang sederhana pun batal. Bergegas membeli hadiah, mencari referensi tempat makan yang spesial. Dan pada akhirnya, jadilah momen perayaan ulang tahun yang tak terlupakan: persembahan lagu di sebuah tempat yang romantis lengkap dengan kado istimewa.

Apakah itu terlalu mengada-ada? Bagi saya, itulah realita. Tidak ada yang bisa yakin bahwa rencana yang dibuat akan berjalan100% seperti yang diharapkan. Bisa kurang, bisa melebihi. Dan bagaimana Anda memandangnya: apakah sesuatu yang seperti itu disebut realis atau surealis?

Rencana awalnya adalah pergi ke pasar, membeli bahan sayur, lalu kembali ke rumah. Tapi, di tengah perjalanan, bertemu seorang teman lama yang ternyata baru pindah kembali ke rumah orangtuanya. Lama tak berjumpa, obrolan mengalir deras. Dari sekadar tegur sapa di tengah jalan, berlanjut dengan duduk-duduk santai ditemani secangkir minuman hangat dan sajian camilan aneka rasa. Hingga akhirnya, rencana makan di rumah harus batal karena disuguhkan makanan oleh sang tuan rumah.

Selalu ada ‘kekuatan lain’ yang mengatur perjalanan hidup ini. Stres? Tidak usah. Jalani saja. Untuk apa berusaha keras melawan ‘kekuatan’ tak terlihat yang tak mungkin dilawan. Nikmati saja, jadi bagian darinya, dan dalam perjalannya, akan ditemukan banyak hal yang tak terbayangkan sebelumnya. Seperti yang disajikan film ini.

Tentang perjalanan yang dilakukan oleh enam orang dalam satu hari. Tujuannya sederhana: hanya ingin mengangkat mayat yang tergenang di sebuah sumur agar masyarakat sekitar dapat kembali memanfaatkan air dari sumur itu. Tapi, apa mau dikata, hal yang sepertinya mudah ternyata membawa mereka dalam perjalanan satu hari satu malam. Menjelajah ke berbagai daerah yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Menemukan fakta yang ada kalanya lucu, tapi ada pula kalanya tragis. Membuka sisi diri masing-masing. Memberikan pelajaran berharga bagi si pemula. Dan, sebagainya.

Di tengah kecamuk perang, yang dilakukan orang-orang ini adalah berusaha meringankan kehidupan warga sipil yang menjadi korban perang. Tapi dalam usaha tersebut, kadang kala merekalah yang menjadi korban. Dan lebih tragisnya, dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun, tidak ada pertolongan yang bisa mereka harapkan. Mereka terikat hukum dan harus patuh terhadapnya. Bertindak sedikit di luar aturan yang berlaku akan fatal akibatnya.

Hari yang sempurna. Tergantung dari sisi Anda melihatnya. Atau, sudut pandang mengenai ‘kesempurnaan’. Yang pasti, jika Anda penggemar band Andra dan Si Tulang Punggung, kesempurnaan yang disampaikan di sini sangatlah tidak cocok bagi Anda. Seperti bahasan awal: jika sesuatu yang sangat surealis adalah realis, kesempurnaan yang sesungguhnya adalah ketidaksempurnaan. Bukankah, begitu? Entahlah. Bahkan saya pun tidak paham dengan yang deretan kata yang tertera di tulisan ini. Saya hanya coba mengalir, menjadi bagian dari kekuatan yang menggerakkan jemari saya. Saya tidak ingin melawannya. Karena, saya mah apa atuh.

Satu hal tentang film ini adalah sangat menarik. Pemaparan sebuah sisi dari perang yang dirangkai dengan sangat cerdik. Tidak ada unsur memaksakan agar sesuatu dapat masuk di dalamnya. Semua berjalan mengalir. Dan kalaupun ada bagian-bagian yang dianggap “kok, bisa?”, ingat kembali bahasan awal: bukankah sesuatu yang sangat surealis adalah realitas itu sendiri?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s