Kausal

image

Mungkin bisa dibilang saya ini termasuk orang yang sangat mementingkan kausal. Bukan berarti tidak peduli dengan hasil atau kejadian yang ada di depan mata, tapi bagi saya, yang lebih penting adalah alasan terjadinya kejadian itu atau hadirnya sesuatu di suatu tempat pada suatu waktu.

Seperti misalnya beberapa waktu yang lalu ketika membaca berita mengenai kejadian tragis Hillsborough. Dua puluh tujuh tahun berlalu dan baru beberapa waktu lalu kejadian tersebut menemui titik terang. Berdasar berita yang saya baca, ketidakmampuan kepala kepolisian yang bertugas menjadi penyebab jatuhnya begitu banyak korban pada kejadian tersebut – selain salah prioritas dalam memberikan instruksi.

Menurut pengakuan, memang benar sang kepala polisi tidak menguasai situasi, denah lokasi, dan berbagai hal yang sangat diperlukan dalam menghadapi situasi yang sangat ricuh seperti yang terjadi pada 15 April 1989 itu. Bahkan, tidak ada inisiatif untuk menunda pertandingan hingga situasi dapat dikendalikan. Dan kalau memang semua yang ditulis tersebut benar adanya, tetap saja ada hal yang sangat mengganjal di benar saya.

Dalam sebuah kesaksian, seorang polisi yang bertugas mengatakan tribun yang dipersiapkan untuk pendukung Liverpool sudah penuh. Penonton harus berdesak-desakan, sementara di luar masih ada kerumunan penonton yang tak sabar untuk masuk. Yang lebih parah, di jalan, terlihat gerombolan pendukung yang jumlahnya mencapai ribuan. Dan, semuanya merupakan pendukung Tim Liverpool. Yang menjadi aneh adalah kesemua (mungkin ada sebagian kecil yang tidak) pendukung tersebut memiliki tiket yang sah.

Kalau saja saat itu yang sedang bertugas merupakan seorang anggota polisi yang sudah sangat berpengalaman, tetap saja korban jiwa tidak dapat dihindarkan. Bayangkan saja sebuah area yang ditujukan untuk 5.000 orang dipenuhi oleh sekitar 20.000 orang. Polisi yang bertugas memang punya andil yang menyebabkan jumlah korban jiwa begitu tinggi. Tapi, yang lebih bertanggung jawab adalah pihak yang menjual dan menyebarkan begitu banyak tiket kepada para pendukung Liverpool. Sayangnya, aspek itu sama sekali tidak diungkit.

Mengecewakan? Tentu saja. Pihak yang seharusnya sangat bertanggung jawab malah tidak ditindak, bahkan tidak disinggung sama sekali. Tapi, ya, namanya juga dunia. Tidak ada yang sempurna. “Tak ada gading yang tak retak” selalu menjadi dalih dan pembelaan yang luar senantiasa berhasil atau setidaknya dimaklumi. Hanya saja, yang menjadi pertanyaan, mau sampai kapan? Ketidaksempurnaan memang menjadi bagian dari eksistensi manusia di dunia, tapi bukankah setidaknya kita bisa coba memperhatikan hal secara mendetail. Kalau memang tidak secara keseluruhan, setidaknya pada sebagian. Kalau tidak bisa hingga akhir, setidaknya pada bagian awal.

Awal adalah mula dari segalanya. Menurut kitab suci, Adam dan Hawa menjadi awal dari kehadiran manusia di Bumi. Menurut ilmu pengetahuan, mahluk bersel satu yang menjadi awal kehidupan semua mahluk hidup di planet. Entah mana yang benar atau malah keduanya salah. Satu hal yang penting, keduanya coba menjelaskan “Pada awalnya”.

“Pada awalnya” ini menjadi sangat penting. Kadang, malah, menjadi yang paling penting. Seorang warga tewas dimakan buaya ketika sedang memancing di kali. Padahal, sebelumnya tidak pernah ditemukan atau ada berita mengenai keberadaan buaya di sungai. Setelah diselidiki, ternyata ditemukan kerusakan pada jaring pengaman penangkaran. Petugas penangkaran lalu mengembangkan pencarian – sambil mendata ulang jumlah buaya yang ada di penangkaran.

Mengetahui penyebab terjadi atau adanya sesuatu dapat menentukan tindak lanjutan. Dalam cerita, menentukan pengembangan cerita. “Pada awalnya” menjadi titik utama, poros, pengembangan cerita. Dan ketika ada drakula cantik di sebuah kota, pertanyaan yang perlu diajukan: Kenapa bisa ada di situ? Dari mana asalnya? Kenapa bisa jadi drakula? Lalu, ketika drakula tersebut sudah mulai membunuh manusia, motivasi menjadi pertanyaan yang kemudian diajukan – terlebih jika pembunuhan yang dilakukan bersifat selektif, meski tidak jelas kriterianya.

Pada awalnya, saya tertarik dengan yang disajikan film ini. Dengan pengambilan gambar serta gambar hitam-putih yang disajikan. Hingga kemudian, saya merasa tersesat, bingung dengan pengembangan cerita yang ditampilkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s