Book (Fair) Temptation

image

Mungkin dasar pendapat yang saya kemukakan tidak tepat. Mungkin pemikiran yang saya miliki terlalu usang – seperti halnya selera musik saya. Mungkin saja tulisan ini seharusnya diutarakan beberapa dekade yang lalu. Atau, berbagai kemungkinan yang lain. Dan, saya tidak peduli dengan semua kemungkinan itu. Saya hanya ingin bercerita tentang pengalaman yang baru pertama kali saya alami.

Untuk pertama kalinya, sepanjang lebih dari 30 tahun kehadiran saya di dunia ini, saya harus mengantre untuk membayar buku. Bukan antrean yang hanya 3—5 orang menjelang kasir. Ini antrean selama hampir kurang lebih 40 menit. Ketika masuk dalam baris antrean, jarak saya sekitar 25—30 meter dari meja kasir. Saya tidak salah tempat. Saya berada di antara tumpukan buku. Sebuah hall besar yang di dalamnya dipenuhi puluhan, mungkin ratusan, ribu buku – beserta ratusan orang yang begitu antusias melihat, memasukkan dalam keranjang belanja, dan membeli buku-buku itu.

Melihat kejadian yang terpapar di depan mata, saya teringat foto-foto antrean sejenis. Misalnya saja hari pertama peluncuran iPhone terbaru. Atau, hari perdana penayangan AADC di bioskop. Atau, barisan panjang orang-orang yang mengantre sembako murah. Atau, orang-orang yang begitu antusias berburu barang-barang saat midnight sale. Atau, kejadian-kejadian yang lain. Satu yang pasti, saya belum pernah mengalami hal ini sebelumnya.

Meski beberapa tahun belakangan ini absen, tapi saya dulu cukup rajin datang ke acara semacam book fair. Ramai? Iya. Harus bersenggolan dengan orang lain ketika berjalan? Iya banget. Tapi, tidak sampai harus mengantre panjang untuk membayar buku-buku yang diinginkan. Ini sesuatu yang tidak biasa. Dan lagi, yang tambah tidak biasa, saya mulai masuk baris antrean menjelang tengah malam. Iya, menjelang tengah malam. Anda tidak salah baca.

image

Berkata minat baca masyarakat Indonesia rendah? Hmmm… setidaknya ada sebagian masyarakat negeri ini yang begitu antusias membeli buku-buku. Bahkan, rela menghabiskan malam hingga dini hari demi mendapatkan buku yang diinginkan. (Menurut info dari seorang petugas kasir, suasana di lokasi acara ‘agak sepi’ setelah jam 3 dini hari).

Kejadian di sebuah hall memang tidak bisa dijadikan patron untuk menilai kondisi masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Tapi setidaknya, bisa menjadi pelajaran – atau setidaknya bahan pemikiran.

Singkirkan pandangan tingkat minat baca masyarakat negeri ini rendah. Terlalu mudah menyimpulkan ‘rendah’ tanpa berusaha mencari penyebab ‘kerendahan’ itu. Dan melihat suasana bazar buku yang baru saja saya datangi, sangat mungkin penyebab ‘kerendahan’ itu karena alasan ekonomi.

Agak dilematis, memang. Melihat orang-orang yang datang ke bazar buku ini boleh dibilang tidaklah berasal dari golongan yang kekurangan secara finansial. Bahkan, bisa dibilang mereka termasuk dalam kelompok yang berkecukupan. Cukup untuk membeli produk gadget terbaru, cukup untuk mengaktualisasi diri dengan gaya penampilan terkini, cukup untuk membayar cicilan mobil, rumah, dan sebagainya, serta cukup untuk menyempatkan diri berlibur setidaknya dua kali dalam setahun. Orang-orang yang sebenarnya cukup mampu untuk membeli buku-buku tersebut dengan harga normal. Tapi, kan, kalau bisa membeli dengan harga yang lebih murah, kenapa tidak?

Dan lagi, pernyataan ini masih sangat perlu dibuktikan, sepertinya buku belum menjadi prioritas belanja bagi masyarakat Indonesia. Bahkan, mungkin berada setelah pakaian, liburan, dan gadget. Karenanya, pengeluaran untuk membeli buku berada pada status “kalau ada sisa”. Makanya, ketika ada acara semacam ini, antusias pun membuncah – walaupun yang harus dipertanyakan adalah apakah antusias itu memang karena senang membaca buku atau sekadar karena tawaran harga yang murah.

Namun, apapun itu, acara seperti ini berdampak positif – sementara bagi saya menjadi ada unsur negatif karena mengganggu perencanaan finansial terutama di saat berstatus “pengetatan-super”. Masih ingat dengan kalimat “Alah bisa karena biasa” atau “Cinta tumbuh seiring waktu”. Pertambah acara seperti ini. Biarkan masyarakat Indonesia menjadi begitu terbiasa dengan buku. Dan seiring waktu yang dihabiskan bersamanya, tumbuh benih cinta. Dan yang namanya cinta, “Tai kucing saja dianggap cokelat”. Bujet membeli buku tidak lagi berada dalam status “kalau ada sisa”, tapi menjadi bagian yang memang diprioritaskan – atas nama Cinta. #longliveAADC

image

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s