Perjalanan Nasib Sang Anak

image

“Bagi seorang seniman, karya yang dihasilkan bisa diibaratkan sebagai anaknya.” Mungkin seperti itulah gambaran mengenai hubungan seniman dengan karyanya. Mengingat kejadian lebih dari satu dekade lalu, saya masih ingat kekecewaan yang dialami seorang teman.

Untuk menyemarakkan sebuah acara, teman ini diminta oleh pihak panitia membuat sebuah pementasan. Permintaan diterima, naskah sudah ditentukan, pemain serta kelengkapan lain disiapkan. Dan pada saat pertunjukkan, tepatnya di tengah pementasan, sebuah insiden terjadi. Merasa tayangan video yang menjadi bagian dari pertunjukkan terlalu ‘vulgar’, pihak panitia ‘berinisiatif’ mencabut kabel proyektor. Pertunjukkan terus berjalan sampai selesai – meski tidak seperti yang direncanakan.

Usai pementasan, proses mediasi diadakan. Pihak panitia memberikan penjelasan mengenai keputusan dan tindakan yang mereka lakukan. Dan bagi teman ini, penjelasan yang diberikan tidak masuk akal. Melakukan pementasan di gedung pertunjukkan yang berada di area kampus, tempat berbagai teori dan ilmu pengetahuan dikembangkan, dikaji, dikritisi, dan sebagainya, tayangan video yang ditampilkan – dan bahkan seluruh pertunjukkan yang disajikan – bisa menjadi bahan kajian, atau setidaknya topik diskusi. “Gw ngerasa kayak anak gw dibunuh di depan mata gw,” begitu kira-kira ungkapan kekecewaan teman pada saat itu.

Sebagai seorang seniman – yang mungkin pada level part-time – tentu saja teman ini merasa kecewa dengan kejadian. Pada dasarnya, dalam lingkup yang lebih luas, keadaan serupa bisa dianalogikan dalam berbagai bidang. Mungkin itu pula yang terjadi pada seorang arsitek ketika kertas kerja rancangannya disobek saat seseorang dengan tergesa-gesa membutuhkan sesuatu untuk mengelap tumpahan kopi di pakaiannya. Dan, masih banyak lagi contoh lainnya. Hubungan orangtua-anak bukan sekadar monopoli para seniman. Tapi, tulisan ini saya buat setelah mengikuti sebuah obrolan yang berhubungan dengan karya seni, dan karenanya hubungan itu akan saya maksudkan dalam lingkup seniman dan karya seni.

Wajar saja ketika seorang seniman menggagap karya yang mereka buat sebagai “anak”. Menggunakan kalimat yang rada njelimet, sebuah karya tentunya dihasilkan dari pergumulan antara rasa, estetika, intelegensia, dan segala hal yang ada di dalam diri dan dunia sang seniman. Jika seorang kuli bangunan melakukan kristalisasi keringat untuk menyelesaikan pekerjaannya, seniman melakukan kristalisasi rasa-raga untuk menghasilkan karya yang diinginkan.

Dalam kehidupan sehari-hari, ada pasangan yang begitu mudah mendapatkan keturunan. Sekali berhubungan, sang wanita langsung mengandung. Sementara, di sisi lain, ada pasangan yang begitu sulit mendapatkan keturunan. Entah sudah berapa kali persenggamaan yang dilakukan, entah sudah berapa kali sesi terapi yang diikuti, entah berapa banyak ahli yang diminta petunjuk, hasilnya tetap sama. Itu contoh dua titik ekstrim. Di antaranya, tentu ada kemungkinan titik yang tak terhingga. Titik-titik ini pun sebenarnya dialami oleh para seniman.

“Puisi saya yang saya anggap berhasil justru dibuat dalam sekejap. Tanpa perencanaan. Puisi yang saya rencanakan malah enggak jelas juntrungannya,” ungkap Joko Pinurbo (mohon maaf jika terjadi kesalahan kutipan karena saat acara berlangsung saya tidak merekam pembicaraan yang berlangsung sehingga kutipan yang dimuat hanya berdasar ingatan yang susunan maupun pemilihan katanya sangat mungkin tidak seperti yang diucapkan oleh narasumber, tapi tanpa bermaksud mengubah pesan yang disampaikan), salah seorang penyair yang hadir pada acara malam itu. Karya yang spontan. Yang muncul begitu saja. Yang mencuat tiba-tiba.

Diakui penyair asal Yogyakarta ini, bahwa perjalanannya sebagai penyair bukanlah seperti aliran sungai di musim penghujan. Lebih tepat seperti aliran sungai, dalam berbagai musim. Kadang ada masa deras, bahkan banjir, tapi kemudian ada saatnya untuk kering kerontang hingga batas waktu yang tak terprediksi. Sebagai orangtua, tidak selalu persenggamaan yang dilakukan membuahkan hasil. Ada kalanya benih itu terlalu lemah untuk membuahi, atau bahkan sama sekali tidak ada benih yang dihasilkan. Dan dalam perjalan karier sebagai penyair, itu merupakan hal yang wajar. Bagian dari perjalanan hidup yang harus dijalani dengan legowo, ikhlas. Bayangkan kalau setiap persenggamaan yang dilakukan oleh sebuah pasangan pasti menghasilkan keturunan, akan ada berapa ratus/ribu anak yang dimiliki pasangan itu.
—-
Jangan membuat keputusan dalam keadaan emosi. Jangan bertindak di kala dipengaruhi emosi. Begitu pula, jangan berkarya di saat diri dikendalikan emosi. Karya bukanlah ungkapan emosi. “Jarak estetika” menjadi sangat penting, begitu menurut Sapardi Djoka Damono, penyair lainnya yang hadir pada sesi malam itu.

Spontanitas menjadi hal penting dalam perjalanan karier penyair ini. Toh, seperti yang diungkapkannya, “Aku Ingin” ditulis dalam waktu sekitar 15-20 menit. Dalam satu kali proses, tanpa editing. Tapi, bukan berarti seketika muncul entah dari mana. Spontan setelah pengendapan. Atur emosi, buat jarak dengan permasalahan yang ingin diangkat, dan setelahnya mulailah berkarya.

“Puisi adalah mengenai permainan bunyi.” Bagaimana sesuatu bisa dimainkan jika bunyi yang dihasilkan tidak tersusun dengan baik, atau bahkan tidak ada bunyi sama sekali.

Perhatikan, resapi, ambil jarak, dan karenanya akan diperoleh sudut pandang yang lebih luas mengenai suatu permasalahan. Pilihlah jalan terbaik, paling menarik, yang ingin dituju untuk mencapai maksud. Apakah “Aku Ingin” puisi yang sangat romantis? Iya. Buktinya saja banyak orang yang mengutipnya saat merayu atau sebagai ungkapan cinta atau bahkan sebagai ikrar kesetiaan. Tapi, bagaimana jika “Aku Ingin” disebut sebagai puisi yang sangat tragis? Berterimakah? Apapun mungkin dalam intepretasi terhadap karya. Dan, tanpa bermaksud mengarahkan pandangan atau mencabut kemerdekaan mengapresiasi karya, malam itu sang penyair menyebut demikian mengenai puisinya yang begitu sering dikutip tersebut. Kayu sudah menjadi abu, awan sudah tiada, dan kata cinta itu tak juga tersampaikan.

Sesuatu yang kaya, bukan? Dan, itulah karya. Karya yang dibuat bukan semata atas dasar emosi. Ada jarak. Ada peluang untuk melihat permasalah dari kejauhan. Dari sudut pandang yang memungkinkan pandangan sangat luas. Sudut pandang yang memungkinkan sang penyair menyajikan kegetiran sebagai sesuatu yang sangat indah.

Seni merupakan harta yang begitu kaya bagi para seniman – sementara Jokpin dan Sapardi sepanjang sesi malam itu berulang kali menyebut peruntungan penyair yang tidak jelas. Karya yang multi tafsir menjadi kekayaan tak ternilai bagi seniman. Bahwa Sapardi berucap interpretasi Jokpin terhadap karya yang berjudul “DukaMu Abadi” melewati yang dimaksudkan pada awalnya. Tak ada sama sekali referensi mengenai kejadian 1965 ketika puisi tersebut dibuat. Tapi, menurut Jokpin, tragedi itu begitu melekat pada pada “DukaMu Abadi”. Siapa yang benar? Semua. Interpretasi, sepanjang dapat dipertanggungjawabkan, adalah kebenaran.
—-

image

Dan, itulah perjalanan takdir seorang anak. Setelah keluar dari kandungan, keluar dari tubuh sang ibu, anak akan menjalani garisan nasibnya sendiri. Seperti juga karya seni.

“Pengarang telah mati,” mengutip judul salah satu karya Sapardi. Hidup sepenuhnya menjadi hak dan tanggung jawab si anak. Dia akan bertahan sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Seperti juga karya. Interpretasi menjadi modal utama kehidupan sebuah karya. Multi interpretasi, pemahaman yang berbeda-beda, kemajemukan penerjemahan, akan membuat sebuah karya akan terus hidup – mungkin jauh melebihi usia sang seniman.

Dan pada beberapa kejadian, pengarang pun benar-benar telah mati.

Shakespeare tidaklah mendapatkan popularitas atau nama besar atau penghargaan atau penghormatan pada masa hidupnya. Justru setelah meninggal dunia, karya-karyanya begitu dihargai sebagai adikarya yang abadi. Kisah legendaris yang akan terus diperbincangkan dalam kelas-kelas drama, dipertunjukkan di ruang-ruang pementasan, dikagumi sepanjang masa.

Ironis? Ya, itulah faktanya.

Kegetiran itu pula yang disampaikan Sapardi pada malam itu. Apakah mungkin sebuah puisi singkat yang dimuat di sebuah koran sore hari yang tidak begitu populer akan menjadi karya yang dikagumi? Apakah mungkin para pecinta akan mengutip puisi yang mengungkap kesempatan yang terbuang?

Dengan suara yang santun, Sapardi menyadari “Aku Ingin” tidak akan dikenal seperti sekarang jika tidak pernah ada anak-anak muda yang menginterpretasi puisi tersebut sebagai ungkapan cinta yang begitu dalam dan menyajikannya sebagai lagu yang indah – yang kemudian berlanjut menjadi inspirasi sebuah film, komik, dan sebagainya.

Orangtua tidaklah berhak mengalangi jalan laju kehidupan seorang anak. Apakah salah anak seorang dokter yang berkeinginan menjadi insinyur pertanian, tapi dengannya dia menemukan kebahagiaan dalam hidup? Tidak. Apakah salah jika sebuah puisi diinterpretasi dalam makna yang sebenarnya berlawan dengan maksud sang penyair ketika membuat puisi tersebut? Tidak. Salah satu hal yang membedakan manusia dari hewan dan kemampun berpikir yang jauh lebih tinggi. Interpretasi bukan sekadar masalah tingkat intelektualitas. Ada referensi-referensi lain yang juga turut menyumbang, berkontribusi, dalam pemahaman terhadap suatu karya. Setiap orang tentunya memiliki referensi yang berbeda antara satu sama lain. Karenanya, interpretasi terhadap karya pun akan saling berbeda antara satu orang dan orang lain. Jutaan interpretasi, miliaran interpretasi, dan mungkin dalam jumlah tak terhingga. Interpretasi-interpretasi yang akan membuat suatu karya menjadi terus ada, bahkan jauh setelah sang seniman meninggal dunia.

Dan jika memang itu yang terjadi, sebuah kalimat yang patut disematkan pada nisan sang seniman: KaryaMu Abadi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s