Musik Merdeka

26502184835_51ca64ec24_o

Music is the shorthand of emotion. –Leo Tolstoy

Tidak bermaksud membuntut, tapi sesungguhnya saya menyetujui kutipan pendapat di atas. Musik, seperti halnya karya seni lainnya, merupakan ungkapan emosi penciptanya. Dan berbicara mengenai ungkapan ekspresi, tidak ada batasan dengannya. Setiap orang, sesuai dengan referensi, kemampuan, serta segala hal yang ada di diri dan kehidupannya, dapat mengeluarkan ekspresi – dalam bentuk apapun. Itu hal penting, setidaknya menurut saya.

Karenanya, ketika berbicara mengenai musik, juga karya seni lainnya, tidak ada yang namanya bagus-jelek, rendah-tinggi, atau sebagainya. Yang ada hanyalah penilaian subjektif dari setiap orang yang menikmatinya.

Seperti halnya si pembuat karya, penikmat karya pun memiliki referensi tertentu ketika mengekspresi karya seni. Bagi saya, tidak ada karya seni yang buruk, jelek, atau tidak bermutu. Kembali ke prinsip tadi, karya seni merupakan bentuk ekspresi si pembuatnya – dengan segala referensi dan kemampuan yang dimiliki.

Tidak adil rasanya ‘menghakimi’ suatu karya yang label ‘jelek’, ‘tidak bermutu’, ‘kampungan’, dan sebagainya. Karena, selain atas dasar prinsip dasar tadi, ketika beredar atau disebarkan kepada masyarakat, suatu karya akan ‘dinilai’ oleh masyarakat tersebut.

Apakah musik yang digemari sebagian besar masyarakat disebut ‘kampungan’? Ya, bisa seperti itu jika masyarakat yang dimaksud dalam hal ini menempati kawasan yang disebut kampung. Meski diaransemen dengan musikalitas yang sederhana, meski didukung lirik yang apa adanya, meski dimainkan dengan kualitas yang begitu saja, jika karya tersebut diterima dengan baik oleh masyarakat, ya sudahlah. Memang itu musik yang disukai masyarakat.

Apakah karena memiliki kemampuan bermusik yang lebih baik bisa menjadi alasan seseorang atau sekelompok orang memberi label ‘buruk’ pada musik yang tidak mereka mainkan? Atau mungkin, karena bermain di depan penggemarnya, orang-orang yang menyukai musik yang dimainkan, bisa membuat seseorang atau sekelompok orang memandang rendah musik yang dibuat oleh pihak lain?

Lagi-lagi menurut saya, apapun alasannya, tidak ada yang berhak merendahkan selera musik (seni dalam cakupan yang luas) pihak lain. Masing-masing orang memiliki referensi (selera). Keunikan tersebutlah, salah satunya, yang membuat kita sebagai manusia. Atau, bagaimana jika pernyataannya diubah, “Yakinkah Anda sudah membuat musik yang baik, karena pada kenyataannya musik sayalah yang diterima dengan baik oleh masyarakat?”

Music is everybody’s possession.” –John Lennon

Advertisements

One thought on “Musik Merdeka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s