Self-Centre

Ego

If people were employed at creating heaven on earth, everybody would be happy; instead each one is creating his own heaven by creating hell for others” – Bangambiki Habyarimana.

 

Ini tidak ada kaitannya dengan gender, jenis kelamin, atau hal apapun yang dapat mendeskriminasi suatu kelompok atau golongan. Secara luas, ini adalah tentang manusia. Setiap manusia dapat melakukan hal ini. Setiap manusia punya kemungkinan. Tinggal pilihannya: apakah mereka ingin memanfaatkannya atau tidak. Itu saja. Jadi, sebelum terjadi salah pengertian yang dapat membahayakan, mungkin karena melihat dua poster film yang saya pasang di awal tulisan (yang sebenarnya hanya kebetulan belaka judul keduanya menjurus pada golongan tertentu), tulisan ini sama sekali tidak bermaksud menyudutkan atau memandang remah suatu golongan – dan bersamanya memuji golongan yang lain. Tulisan ini tentang sekelompok manusia dengan pilihan yang dibuat dalam hidup yang mereka jalani.

—-

Dikatakan bahwa, seiring kehadiran di dunia, seorang manusia membawa serta dua peran: individu dan sosial. Sebagai individu, dia memiliki tanggung jawab terhadap tubuh dirinya, sementara dalam kehidupan sehari-hari, dalam kehidupan yang dijalani, seorang manusia pasti akan berhubungan dengan orang lain. Dia akan menjalin komunikasi, saling membantu, saling membutuhkan, dengan orang lain. Bersama dengannya, manusia menjadi mahluk sosial.

Mulia tampaknya ketika manusia menjalankan kedua fungsi tersebut. Satu dengan yang lainnya bersama berusaha saling memenuhi kebutuhan: baik secara individu maupun sosial. Tolong-menolong, saling memberi, saling melengkapi, bekerja sama. Sayangnya, itu pandangan utopis. Pada kenyataannya, ada sebagian orang yang memanfaatkan pandangan tersebut demi terpenuhi ambisi individunya.

Banyak manusia baik di dunia ini. Manusia-manusia dengan pandangan yang begitu murni hingga melihat dunia dengan sangat naif. Manusia-manusia yang memandang bahwa semua manusia di muka bumi ini pada dasarnya baik – atau setidaknya dilahirkan dalam kondisi yang suci dan akan kerap berusaha mempertahankan kesucian itu hingga akhir hayatnya. Manusia-manusia seperti inilah yang kemudian dimaanfaatkan. Manusia-manusia yang dengan tulus melakukan hal-hal yang dibutuhkan oleh orang terdekat/sekitar. Demi cinta, atau demi kemanusiaan. Tetapi, di luar yang dibayangkan, yang mereka lakukan sebenarnya demi memenuhi ambisi manusia lain. Dan sejujurnya, manusia-manusia seperti inilah yang Anda butuhkan jika memiliki ambisi untuk “menjadi besar”.

—-

Bukan tanpa alasan saya menyandingkan dua poster film di atas. Menurut saya, dua film tersebut menggambarkan keadaan yang saya maksud: pemanfaatan ketulusan pengorbanan untuk memenuhi ambisi. Dalam hal ini, tindakan tersebut dilakukan tidak dengan sengaja. Kondisi, situasi, serta berbagai hal yang terjadi membuat seseorang ‘terpaksa’ melakukannya.

Beberapa hari yang lalu saya baca berita tentang Aung San Suu Kyi. Setelah melalui proses dan perjuangan yang sangat panjang dan melelahkan, wanita ini akhirnya menjadi pemimpin kenegaraan di Myanmar. Perjuangan panjang. Pengorbanan besar. Perlawanan yang tak kenal lelah. Semua telah dilakukan. Ketika pemimpin yang berkuasa menunjukkan sikap tiran, ketika masyarakat membutuhkan semangat untuk kembali bangkit menuntut kehidupan yang layak, jiwa wanita ini tidak menghindar. Meski tinggal di lain benua, rasa nasionalisme tidak memudar dari hatinya. Aung San Suu Kyi meninggalkan ketenangan Inggris dan memilih menjalani hidup penuh konflik di negara yang menjadi kampung halamannya.

Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap perjuangan dan segala yang telah dilakukan wanita hebat ini, ada sosok lain yang seharusnya jangan sampai disingkirkan. Perjuangan yang dilakukan Aung San Suu Kyi, terutama di masa awal, tidak lepas sosok sang suami – Michael Aris. Melepas istri tercinta untuk berjuang di kampung halaman merupakan suatu bentuk pengorbanan, tapi yang dilakukan penulis ini lebih dari itu. Tidak sekadar memberi izin, dia berusaha semampunya mendukung perjuangan yang dilakukan oleh wanita yang dicintainya. Meski sangat minim memiliki kesempatan untuk berada di sisinya (bukan karena tidak ingin, tapi lebih karena alasan politis), Aung San Suu Kyi sadar bahwa ada seorang pria yang memberikan dukungan penuh terhadap perjuangan yang dilakukan.

Bukan kehendak Aung San Suu Kyi untuk meninggalkan sang suami – yang kemudian menderita sakit cukup parah sehingga kemudian meninggal. Kondisi menjadi begitu sulit ketika perjuangan dimulai. Negara yang seharusnya menjadi kampung halaman tercinta malah menjadi penjara yang sangat mengekang. Ruang lingkupnya sangat terbatas. Geraknya tak bebas. Jangankan untuk mengurus suami yang sedang sakit dan berada di benua lain, bahkan untuk keluar dari gerbang rumah pun menjadi kesempatan yang sangat langka untuk dinikmati.

Ketika menonton film The Lady, alih-alih memperhatikan perjuangan yang dilakukan oleh wanita hebat ini, perhatian saya malah lebih tertuju pada sang suami. Dengan kondisi tubuh yang semakin menurun, dengan kebijakan politik yang tidak mendukung, dia masih tetap berusaha memberi semangat kepada sang istri. Kesepian tentu saja dia alami. Kesedihan? Jangan ditanya. Bahkan ketika sakit yang dialami semakin parah, dia tetap berusaha terdengar baik-baik saja oleh sang istri. Alasannya sederhana saja, agar Aung San Suu Kyi tetap fokus dengan perjuangan yang dilakukan.

Hal serupa terjadi ketika menonton The Danish Girl. Mari singkirkan sejenak isu LGBT yang belakangan kembali marah dibicarakan di tanah air. Yang menjadi perhatian saya adalah Gerda Wegener. Bukan sekadar karena kemolekan tubuh Alicia Vilkander (saya mendapat visualisasi yang lebih jelas ketika menonton Ex Machina), tapi, seperti halnya yang dilakukan Michael Aris terhadap Aung San Suu Kyi, pengorbanan yang dia lakukan demi (mantan) pria yang sangat dicintai. Kondisi ironi yang harus dihadapi. Memberikan semangat meski sebenarnya dalam hati meronta untuk berkata sebaliknya. Menerima kesepian demi kebahagiaan orang lain.

—-

Andai saja Gerda tahu tindakannya meminta Einar menjadi model pengganti dan harus mengenakan pakaian wanita berakibat rasa kehilangan yang begitu pahit, dia tentu mengurungkan niatan tersebut. Toh, beberapa saat kemudian, model yang sebenarnya datang. Einar tidak akan menyadari sisi tersembunyi dalam dirinya, yang kemudian mendorong munculnya sosok Lili serta berbagai ambisi yang menyertai, dan diakhiri dengan kematian. Mungkin ‘penyesalan’ yang sama dialami oleh Michael Aris. “Andai….” (dan Armand Maulana pun mulai bernyanyi)

Namun, kalau kata pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Jadi, lebih baik kasih kecap asin, tambahkan suiran daging ayam, potongan cakwe, daun seledri, dan kerupuk. Nikmati saja. Bahwa itu adalah nasib yang harus dijalani, ya jalani. Berat? Tentu saja. Wong setelah menyantap dua porsi bubur ayam di GBK saja akan terasa berat untuk beranjak dari tempat duduk. Apalagi harus kehilangan sosok orang yang kita cintai.

Dan di saat-saat yang terberat itu muncul, senandung Armand Maulana pun semakin kencang terdengar di telinga. Tapi, lagi-lagi, yang tersedia adalah bubur. Apakah masih berniat menghabiskan mangkok ketiga sementara mangkok kedua saja sudah membuat semangat untuk bergerak tertimbun di dalam palung samudera? Berharap ada laci ajaib yang dapat membawa kita ke masa lalu dan ‘mengoreksi’ keadaan hanya akan memperdalam rasa frustasi. Toh, seri komik Doraemon sudah selesai. Tidak ada gunanya.

Yang harus diingat adalah jangan sampai melakukan sesuatu (walau atas nama cinta) yang akan disesali di masa depan. Dan kalau sudah terlanjur, daripada harus kembali makan bubur, lebih baik secepatnya angkat wadah dari rice cooker. Atas nama cinta pula sajikan hidangan lain. Nasi liwet sepertinya menarik.

Di sisi lain, bagi yang punya ambisi tingkat dewa, carilah celah seperti ini. Dan jika sudah menemukannya, pertahankan. Berilah alasan munafik yang paling manjur sepanjang masa, “Atas nama cinta.” Dan jika ternyata di masa depan Anda berhasil mewujudkan ambisi yang diimpikan, tolong jangan lupa untuk memberikan penghargaan atas segala yang dilakukan pasangan Anda – meskipun dia sudah berada di lain dunia. Sederhana saja, jangan rusak citra baik Anda karena lupa menghargai pengorbanan cinta yang telah dilakukan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s