Third Person

Sicario

Sutradara: Denis Villeneuve

Penulis: Taylor Sheridan

Pemain: Emily Blunt, Josh Brolin, Benicio Del Toro, Victor Garber, Jon Bernthal, dan Daniel Kaluuya

Ada banyak hal yang berhubungan dengan pihak ketiga. Dalam sastra, misalnya. Dikenal sudut pandang orang ketiga. Cara bercerita yang mengungkap kisah dari pihak luar, tidak terkait dengan kejadian yang diceritakan. Sang pencerita bertindak selayaknya “Tuhan” – yang mengetahui segala sesuatu yang terjadi, bahkan isi pikiran tokoh-tokoh yang terlibat. Dalam pembuatan perjanjian, diperlukan pihak ketiga sebagai saksi. Sebagai pihak yang akan menjadi penengah bila setelah perjanjian itu dibuat ternyata terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Contoh lain, yang sering saya dengar, diperlukannya pihak ketiga ketika terjadi perselisihan atau ketidakakuran dalam rumah tangga. Pihak ketiga di sini biasanya adalah ahli. Psikolog yang terbiasa menangani masalah pernikahan dan diharapkan dapat memberikan masukan agar perselisihan yang terjadi dapat teratasi. (Pihak ketiga pun sering kali muncul dalam hubungan. Pihak yang membuat hubungan menjadi renggang, retak, bahkan hancur. Tapi, untuk tulisan ini, mari hiraukan pihak ketiga yang itu – demi kebaikan bersama.)

Melihat dari beberapa contoh yang disebut, pihak ketiga memiliki pandangan yang lebih. Berada di luar permasalahan, hadirnya pihak ketiga dapat memberikan pandangan yang lebih netral – diharapkan. Karenanya, ketika melihat film ini, saya langsung berharap pandangan yang sama. Penyelundupan narkotika di perbatasan Amerika Serikat dan Meksiko dibahas oleh orang Kanada. Netral, setidaknya itu pandangan yang saya harap ditawarkan di film ini.

—-

Film garapan Denis Villenueve yang pertama kali saya tonton adalah Incendies. Mengangkat tragedi-kompleks yang terjadi karena perang. Seorang wanita, tanpa sepengatahuannya, harus mengandung anak dari anaknya sendiri. Setelahnya, saya pun lumayan rajin mencari, mengunduh, dan menonton film-film garapan sutradara asal Kanada ini. Satu hal yang menarik saya adalah caranya mempersiapkan akhir cerita. Dalam Incendies, misalnya. Salah satu tokoh utama adalah ahli matematika. Sementara, kunci jawaban dari misteri dalam cerita adalah bahwa hasil 1+1 tidaklah 2, melainkan 1 – sebuah permainan logika, terutama mengingat latar belakang salah satu tokoh utama. Begitu pula dengan film-film lain karya sutradara ini yang saya tonton. Dia dengan sangat rapi dan detail mempersiapkan akhir cerita. Bahkan, pada sebagian di antaranya, kunci utama penyelesaian masalah tersebut hanyalah masalah sepele. Tapi, karena dikemas dengan sangat baik, kehadirannya cukup mengecoh.

Menonton film yang jadi salah satu peserta Cannes Festival 2015 ini, saya berharap mendapatkan pengalaman yang serupa. Stereotipe, memang, tapi itu bukan sesuatu yang negatif – dalam hal ini.

—-

Kate Macer (Emily Blunt) seorang tentara muda yang mendapat kesempatan untuk masuk ke dalam tim khusus, yang dipimpin Matt Graver (Josh Brolin). Tim ini dibuat untuk menangani kasus-kasus penyelendupan narkotika yang dilakukan para kartel Meksiko. Terlibat dalam tim ini adalah Alejandro (Benicio Del Toro) – yang memiliki latar belakang panjang bergulat dengan dunia perkatelan serta memiliki misi pribadi untuk membalas kematian istri dan anaknya.

Sebagai tentara muda, Kate berpandangan sangat naif. Bahwa dalam tugasnya, hanya terdapat yang benar dan salah. Hitam adalah hitam dan putih adalah putih. Tidak ada warna lain. Sementara, tim yang dipimpin Matt bukanlah tim BW. Kadang harus memilih warna lain untuk dapat mencapai tujuan utama, dan itu legal saja untuk dilakukan – setidaknya menurut mereka. Konflik pun terjadi karena Kate tidak bisa menerima kenyataan itu. Sementara, para anggota tim Matt terus melakukan operasi seperti yang selama ini mereka lakukan.

Dalam sebuah misi, Kate coba menggagalkan aksi Alejandro. Menurut Kate, tindakan Alejandro di luar ranah hukum dan seharusnya dilakukan oleh seseorang yang berprofesi sebagai penegak hukum. Atas tindakan itu, Kate harus menerima dua kali tembakan dan Alejandro. Bahkan, tidak berhenti di situ. Alejandro pun kemudian mengajak Kate untuk berpikir ulang tentang keberadaannya di tim tersebut – karena dinilai tidak sesuai dengan cara kerja yang dilakukan oleh tim.

Misi selesai dengan baik. Rencana penyelundupan berhasil digagalkan. Alejandro pun berhasil membalaskan dendam pribadinya. Banyak orang bahagia. Tetapi, tidak pada Kate. Dan, para kartel pun tetap melakukan kegiatan bisnis seperti yang biasa mereka lakukan. Satu kegagalan tidak akan menghentikan usaha meraup keuntungan yang sangat besar dari bisnis narkotika – walau harus berhadapan dengan konsekuensi terlibat dalam baku tembak.

—-

Ini pertama kalinya saya meihat film karya Denis Villenueve dengan peralatan perang yang sangat canggih. Meski cerita yang dibahas juga terkait dengan perang, Incendies tidak memamerkan peralatan super-canggih seperti yang dapat dilihat di film ini. Berpikir positif, karena perang yang dibahas dalam film tersebut terjadi beberapa dekade yang lalu. Sementara, dalam Sicario, perang terjadi pada masa kini – dengan peralatan canggih seperti yang memang ada saat ini. Itu pikiran positif. Tapi, kan, positif selalu berpasangan dengan negatif. Karenanya, ketika pikiran positif muncul, pikiran negatif pun menyertai.

Nah, pikiran negatifnya peralatan canggih yang ditampilkan rasanya seperti menjadi ajang pamer: bahwa pemerintah Amerika Serikat serius menangani masalah penyelendupan narkotika dari negara tetangganya. Alasannya sederhana saja, karena menurut saya ada beberapa adegan yang seharusnya tidak perlu ditampilkan – seperti gambar yang menyorot begitu banyaknya peralatan militer yang tersedia di sebuah pangkalan militer. (Tapi, kan, namanya juga pangkalan militer, ya. Sudah sewajarnya ada banyak perlalatan militer. Tapi, ya, sudahlah.)

Pandangan negatif pun muncul karena saya tidak menemukan stereotip yang biasa dilakukan Denis Villenueve. Tidak ada kisi-kisi mengenai akhir cerita. Tidak ada hal sepele yang dipersiapkan untuk menjadi kunci utama dari penyelesaian masalah yang dihadapi. Dan lagi, harapan saya terhadap pandangan pihak ketiga tidak muncul – atau setidaknya tidak terlalu dominan. Yang ditampilkan justru citra yang tidak akan dapat diubah. Bahwa Amerika Serikat adalah negara adikuasa yang memiliki peralatan super canggih dan super lengkap, sementara Meksiko akan terus berusaha mendapatkan uang dari tetangganya yang kaya – meski dengan cara yang ilegal. Dan pada akhirnya, yang saya dapatkan adalah rasa kecewa. Hasrat besar ketika melihat file film ini tersedia di situs unduh film, harus dibayar dengan kekecewaan. Tapi, tidak berarti saya akan berhenti menunggu karya-karya Denis Villeneuve selanjutnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s