Menyoal Film Sulih Suara

23538540923_55a1609471_o

Saya yakin bahwa anak-anak merupakan kelompok manusia yang paling jujur. Mereka akan melakukan apapun sesuai dengan keinginan, tanpa tendensi unsur kepentingan selain kesenangan untuk diri mereka. Hal itu yang saya lihat dari keponakan-keponakan saya. Tidak peduli dengan kehebohan dunia orang dewasa yang begitu antusias menyambut film Star Wars: The Force Awakens, mereka tetap saja mengidolakan Frozen. Bahkan, di pagi hari ketika saya membuat tulisan ini, sebelum mereka berangkat sekolah dan saya sedang bersiap-siap pergi ke kantor, mereka tetap saja meminta saya memutarkan film ini – padahal sore sebelumnya mereka sudah menonton film ini.

Masih berhubungan dengan film ini, saat liburan akhir tahun yang lalu, sebuah stasiun televisi swasta menayangkan Frozen – sebagai salah satu dari rangkaian film yang ditayangkan di masa liburan. Seperti biasa, keponakan-keponakan saya begitu antusias menunggunya. Saking antusiasnya, mereka yang biasanya begitu sulit disuruh mandi dan makan pun sore itu begitu menurut dengan perintah Ibunya – setelah diancam tidak boleh menonton  Frozen jika mereka tidak mau mandi dan makan. Dan ketika waktu tayang film tersebut tiba, mereka dengan manisnya duduk di depan televisi – walau hanya sesaat untuk kemudian berdiri dan bersiap menari dan bernyanyi mengikuti adegan di film tersebut.

Sayangnya, yang terjadi berikutnya adalah kecewa. Raut wajah mereka seketika berubah ketika mendengar dialog pertama.

“Om, kok, filmnya beda?” begitu komentar salah seorang keponakan saya.

“Beda gimana?” balas saya.

“Kok, pake bahasa Indonesia. Ini bukan film yang di laptop Om, ya?”

“Sama, kok. Bahasanya aja yang berubah,” saya coba menenangkan.

Walau agak kehilangan antusias, mereka masih tetap setia duduk menonton film tersebut. Sampai pada puncaknya, ketika adegan tokoh Anna menyanyikan lagu “Let it Go”. Seperti biasa, pada adegan ini, keponakan-keponakan saya akan berubah menjadi kelompok paduan suara. Tapi, ketika mendengar lagu tersebut dinyanyikan, mereka langsung meninggalkan televisi.

“Kok, pergi?” tanya saya.

“Ga enak, Om, nyanyinya. Masa “lepaskan”,” jawab keponakan saya yang paling besar.

“Itu, kan, bahasa Indonesianya “Let it go”,” saya kembali coba menenangkan.

Ga enak, Om. Enakan nonton di laptop Om.”

Antusias mereka terhadap film itu pun sirna.

Beberapa hari setelahnya, saya menceritakan kejadian tersebut kepada beberapa teman. Kebetulan, salah seorang teman bekerja di dunia broadcast sehingga bisa memberikan informasi yang cukup membantu. Diawali dengan ketidaksetujuan saya dengan kebijakan beberapa stasiun televisi swasta nasional yang menyulih suara film-film asing (berdasar pengalaman saya, film-film berbahasa asing membantu saya agar terbiasa dengan bahasa asing sehingga memudahkan saya mempelajari bahasa asing), pembicaraan pun berlanjut kepada sistem penjualan film-film asing dan kebijakan pemerintah mengenai penayangan film.

Menurut keterangan teman ini, setiap tahunnya diadakan semacam “pasar film”. Momen ini menjadi tempat berkumpulnya produsen, agen, serta pembeli dari penjuru dunia. Ribuan film ditransaksikan di sini. Dilanjutkannya, biasanya stasiun-stasiun televisi di Indonesia membeli film-film asing tidak langsung dari produsennya. Mereka lebih memilih membeli film-film asing (terutama yang berbahasa Inggris) dari agen karena harganya lebih murah. Sayangnya, film-film yang dijual oleh agen ini biasanya sudah disulih-suarakan sesuai dengan negara asal agen tersebut. “Biasanya udah berbahasa Spanyol,” terang teman saya. Dan karena bahasa Spanyol sangat asing untuk masyarakat Indonesia, film tersebut pun kembali disulih-suarakan ke bahasa Indonesia.

Satu pertanyaan kemudian muncul di kepala saya, “Apa pemerintah tidak melihat film sebagai sarana edukasi?” Teman saya pun menjelaskan bahwa pandangan itu sudah ada. Bahkan, ketika menyusun undang-undang mengenai perfilman, semangat nasionalisme menjadi salah satu acuan. Karenanya, sulih suara diizinkan karena dianggap sesuai dengan semangat nasionalisme. Namun, saya tidak puas begitu saja. Usai obrolan tersebut, saya coba mencari-cari informasi. Ternyata, undang-undang yang dimaksud oleh teman saya adalah Undang-Undang Nomor 33 tahun 2009. Saya pun coba membaca isi dari undang-undang tersebut, khususnya yang berkaitan dengan kebijakan sulih suara.

Sialnya, saya menemukan kenyataan yang berbeda. Pasal 43 undang-undang tersebut berisi “Pelaku usaha perfilman dilarang melakukan sulih suara film impor ke dalam bahasa Indonesia, kecuali film impor untuk kepentingan pendidikan dan/atau penelitian.” Menurut saya, isi pasal itu kontradiksi dengan kenyataan yang saya temukan. Memang, sulih suara film impor diizinkan, tapi dengan catatan untuk kepentingan pendidikan dan/atau penelitian. Sementara, penayangan film asing yang dilakukan oleh stasiun televisi swasta nasional tidaklah untuk kedua tujuan tersebut. Pihak stasiun televisi menayangkan film asing, menurut saya, dengan tujuan hiburan dan/atau komersial. Jadi, kembali menurut saya, hal tersebut seharusnya merupakan tindakan yang dilarang. Pemerintah, berdasarkan undang-undang tersebut, seharusnya melakukan tindakan terhadap stasiun televisi yang melakukan sulih suara. Dan jika itu dilakukan, saya yakin keponakan-keponakan saya akan kembali bisa bernyanyi dan menari mengikuti adegan di film Frozen. “Let it go… let it go…” bukannya “Lepaskan… lepaskan…” sambil menggerutu dan pergi meninggalkan pesawat televisi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s