Meminta pada Diri

Iseng_00002

Malam sudah cukup larut ketika pesawat yang saya naiki mendarat di Bandara Soekarno-Hatta. Sepertinya penerbangan yang saya jalani merupakan yang terakhir bagi pesawat itu, karena, setelah mencapai landasan pacu, pesawat di arahkan ke kawasan yang terlihat sebagai area parkir. Di kiri-kanan, banyak pesawat yang mesinnya sudah dimatikan.

Namun, meski sudah menghentikan lajunya, pintu tidak juga dibuka. Beberapa kali petugas di dalam pesawat berbicara melalui pengeras suara, meminta maaf atas belum dibukanya pintu pesawat akibat belum tersedianya bus yang akan mengantarkan para penumpang ke gedung terminal. Tak ayal, penumpang di dalam pesawat menjadi resah. Bahkan, saya mendengar ada beberapa di antaranya yang melontarkan umpatan. “Sewa Metro Mini aja,” seorang pria yang duduk di bangku seberang kanan saya berkata kesal.

Satu hal yang mungkin disetujui oleh banyak orang bahwa menunggu merupakan hal yang sangat tidak menyenangkan. Tidak peduli seberapa lama, menunggu tetaplah menunggu dan bukanlah sesuatu yang membuat hati orang yang melakukannya merasa riang gembira. Malam itu, para penumpang dibuat menunggu hampir sekitar 15 menit di dalam pesawat sebelum akhirnya pintu pesawat dibuka – dan penumpang dipersilakan turun dari pesawat.

Kesal? Wajar saja. Kecewa? Sangat mungkin. Tapi, mungkin ada hal yang perlu dipertimbangkan.

Saya tidak ingin membela maskapai penerbangan tersebut. Bukan pula saya ingin bersikap layaknya orang bijak yang mampu menanggapi berbagai permasalahan dan kejadian di dunia ini dengan ketenangan tanpa batas. Saya hanya ingin mengungkapkan pandangan yang ada di dalam kepala mengenai kejadian yang saya alami.

Rasa kesal dan kecewa merupakan hal yang sangat mungkin terjadi ketika seseorang dibuat menunggu. Jangankan oleh maskapai penerbangan yang memiliki rekam-jejak buruk yang cukup panjang, bahkan dengan pasangan atau orang-orang yang kita sayang pun rasa itu sangat mungkin muncul. Jujur saja, bahkan saya sering merasa kesal ketika dibuat menunggu dan sama sekali tidak memiliki tips untuk menghindari diri dari munculnya perasaan itu ketika menunggu itu tiba.

Di era sekarang, ketika berbagai informasi dapat diraih dengan sangat mudah, semua orang yang memiliki akses terhadap internet tentu sudah dapat mencari tahu tentang berbagai hal. Termasuk di antaranya rekam-jejak maskapai penerbangan yang malam itu saya pilih. Sialnya, bahkan orang yang tidak memiliki akses internet pun sepertinya sudah mengetahui tentang berita-berita buruk terkait maskapai penerbangan ini – beberapa hari sebelum perjalanan saya itu maskapai ini ramai mendapat sorotan karena kasus pencurian yang dilakukan oleh oknum porter di bandara.

Mengetahui rekam-jejak maskapai ini membuat saya bisa merasa sedikit nrimo. Wong ketika mencari tiket saya pun memilih yang harganya terendah. Kalau saya membeli tiket termahal tapi mendapat perlakuan yang buruk, rasa-rasanya rasa nrimo tidak akan singgah di dalam hati saya. Walau, bukan berarti penumpang harus pasrah begitu saja. Harga tiket yang murah bukanlah alasan maskapai penerbangan (atau perusahaan jasa lainnya) untuk memberikan pelayanan yang mengecewakan. Pengembangan dan perbaikan harus terus dilakukan. Dan untuk melakukannya, salah satunya, peran aktif penumpang sangat diperlukan. Alih-alih mengungkap kekecewaan melalui umpatan di dalam pesawat yang tentunya tidak akan terdengar oleh pihak manajemen perusahaan maskapai penerbangan tersebut, ada banyak cara yang dapat dilakukan agar “suara-suara kekecewaan” tersebut dapat lebih didengarkan. Dan semoga, dengannya, pelayanan yang diberikan pun menjadi lebih baik.

Iseng_00001

Namun, di luar itu, saya cenderung mempermasalahkan perilaku para penumpang. Dalam penerbangan malam itu, misalnya. Setelah pesawat mendarat dan melaju di atas landasan pacu, bahkan sebelum tanda aman untuk melepaskan sabuk pengaman, banyak penumpang yang sudah berdiri. Kebetulan saya duduk di bangku yang berada di bagian agak belakang, jadi dapat melihat hal-hal yang terjadi di bagian di depan saya. Pihak maskapai penerbangan, dan asosiasi penerbangan, tentunya memiliki alasan yang kuat untuk menentukan saat aman untuk melepaskan sabuk pengaman. Dan ketika pesawat masih melaju di landasan pacu, sekalipun untuk menuju tempat parkir dan bukan untuk lepas landas, tetap saja ada risiko yang mungkin saja terjadi.

Belum lagi dengan cahaya yang tiba-tiba muncul di beberapa bagian tempat duduk. Kejadiannya hampir bersamaan dengan para penumpang yang berdiri ketika pesawat masih melaju di landasan pacu.

Ketika mendarat, sepertinya sesuai dengan standar aturan penerbangan, lampu di bagian kabin pesawat akan dimatikan. Penerangan akan dikembalikan ke keadaan normal bersamaan dengan dinyatakannya saat aman untuk melepas sabuk pengaman. Tetapi yang terjadi saat itu, beberapa penumpang sudah menyalaman telefon genggamnya ketika masih berada di dalam pesawat – sementara pesawat masih melaju di landasan pacu. Sudah menjadi aturan standar bahwa telefon genggam baru boleh diaktifkan ketika penumpang sudah berada di dalam gedung bandara. Sialnya, pada penerbangan sebelumnya, seorang penumpang bahkan langsung melakukan pembicaraan menggunakan telefon genggam ketika pintu pesawat belum dibuka.

Memang, sih, lebih mudah melihat kesalahan orang lain dibanding kesalahan yang kita lakukan. Saya pun kerap melakukan itu. Tapi, pandangan itu tentunya bisa diubah, kan? Kalau memang mau mendapatkan pelayanan yang baik, bersikap jugalah dengan baik. Kalau memang merasa kecewa, sampaikan dengan semestinya. Bukan dengan mengumpat atau meminta agar dihadirkan Metro Mini sebagai ganti armada bus di bandara. Waktu tempuh Metro Mini untuk dapat ke lokasi tentu lebih lama dibanding armada bus bandara. Belum lagi harus dibutuhkan negosiasi dan sebagainya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s