Gelar-Otonom

Iris-Apfel-Poster

Iris

Sutradara: Albert Maysles

Pemain: Carl Apfel, Iris Apfel

Bermaksud menutup tahun ini dengan kegembiraan, saya bersama beberapa teman di kantor mengunjungi sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta Selatan. Tujuannya: ingin berkaraoke melepas segala kepenatan. Ketika tiba di tempat hiburan yang dituju, ternyata ada begitu banyak orang yang memiliki ide seperti kami. Antrean begitu panjang. Bahkan setelah bersantap makan, daftar antrean tak kunjung memendek. Kehabisan persediaan sabar dan waktu yang terlalu malam, kami membatalkan niatan untuk berkaraoke. Gantinya. Sebagai penghibur, kami berjalan mengunjungi outlet-outlet yang ada di pusat perbelanjaan tersebut. Tidak semua, hanya beberapa. Sampai pada suatu ketika, ketika berada di sebuah outlet yang sempat dipenuhi remaja-remaja pria, seorang teman berkata “Gua bingung, deh. Gelar itu, kan, seharusnya diberikan oleh orang lain, bukan kita sendiri yang mengklaim.” Teman itu lalu menunjuk tulisan yang terpampang di depan outlet tadi.

“Indonesia’s Most Sophisticated Show” begitu tulisan yang terpampang di depan outlet tersebut.

“Gelar itu, kan, diberikan badan, pihak, institusi, organisasi, atau apapun itulah karena hal-hal yang sudah kita lakukan. Bukan kita yang melabelkan diri sendiri,” lanjut teman dengan intonasi yang semakin tinggi.

Benar juga pendapat teman saya ini. Anda disebut sarjana hukum karena telah menempuh pendidikan di Fakultas Hukum dan dapat menyelesaikan studi tersebut dengan baik. Kemudian, pihak Perguruan Tinggi akan memberikan gelar Sarjana pada Anda. Begitu pula dengan hal lain. Ya, kecuali jika Anda tergolong dalam orang-orang yang mau cari gampang, mendapat gelar dengan cara membeli, itu lain soal.

Di sisi lain, jika memperhatikan iklan-iklan (baik di media cetak maupun elektronik), rasa-rasanya memberikan gelar pada diri sendiri bukanlah hal yang baru. Menjuluki produk yang dibuat sebagai yang “ter-“ bukanlah hal tabu atau terlarang, setidaknya itu yang saya lihat. Coba saja perhatikan iklan-iklan yang ada di sekitar Anda. “Hunian terbaik….” “Penawaran dengan harga teristimewa….” dan semacamnya.

Karenanya, ketika menonton film ini, saya pun mengganggu seorang teman dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjengkelkan. Membaca sinopsisnya, sang tokoh yang didokumentasikan disebut sebagai Fashion Icon. Jawaban yang sama pun saya dapat dari teman saya itu. Dan karenanya, rentetan pertanyaan pun saya utarakan. “Kenapa dia disebut Fashion Icon?” “Apa yang dilakukannya hingga dia diberi gelar tersebut?” “Apa saya yang dilakukannya?” dan berbagai pertanyaan lainnya. Bukannya ingin usil atau meragukan. Tidak sama sekali. Tanpa bermaksud mengagung-agungkan orang-orang di negeri sana, tapi ada rasa percaya yang tinggi bila sebuah gelar diberikan oleh pihak dari negeri di luar sana.

Mengikuti cerita yang disajikan di film, dan jawaban-jawaban yang diberikan oleh teman saya, saya pun paham alasan tokoh ini diberi gelar Fashion Icon. Pemberian gelar yang dapat dipertanggungjawabkan. Bukan sekadar demi alasan komersil atau mencari popularitas semata. Iris Apfel mendedikasikan hidupnya pada dunia fashion dan melakukan hal yang luar biasa pada bidang yang digelutinya. Tidak sekadar sebagai konsumen, tapi dalam pengembangan terhadap hal yang dia cintai. Seorang legenda yang membangun reputasinya secara perlahan, penuh ketulusan, dan dalam waktu yang begitu panjang. Tidak mudah, tentu saja. Tapi, karena yang diperoleh merupakan gelar yang diberikan atas kontribusi yang luar biasa, penghargaan yang diterima dari orang-orang pun bukan sesuatu yang biasa. Rasa hormat yang timbul ada sikap tulus yang timbul atas kekaguman.

Dan bagi teman saya yang bingung dengan gelar-otonom yang dilakukan oleh sebuah outlet tadi, tenang saja. Di dunia ini, walaupun tidak di negara kita yang tercinta, masih ada pihak atau orang yang mendedikasikan eksistensinya untuk sesuatu yang dapat dipertanggungjawabkan. Masih ada orang yang melakukan kontribusi pada hal yang dicintainya dengan tulus hari, tanpa berharap gelar atau popularitas. Dan jika ada gelar yang diberikan atas hal yang dilakukan, itu murni sebagai penghargaan atas segala upaya dan usaha yang telah dilakukan.

Advertisements

One thought on “Gelar-Otonom

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s