Dalam Iktirad

Youth

Sebagai salah satu ajang terbesar di muka bumi, penyelenggaraan kontes Miss Universe selalu menarik perhatian, menjadi bahan pembicaraan. Tapi untuk penyelenggaraan tahun ini, popularitas itu bertingkat seiring dengan “kejadian istimewa” yang terjadi pada puncak acara. Di luar sana, dalam berbagai media, peristiwa ini menjadi salah satu topik popular yang ramai dibicarakan – bahkan mungkin menyingkirkan popularitas (walau untuk sejenak) Donald Trump atau penanggulangan serangan-serangan ISIS di mancanegara.

Menurut saya, yang dilakukan Steve Harvey sebenarnya hanyalah kesalahan manusiawi. Siapapun dapat melakukan kesalahan serupa. Menjadi pemandu acara di ajang sebesar Miss Universe tentulah menimbulkan ketegangan tersendiri. Bahkan bagi pemandu acara sekaliber apapun, mungkin, ajang besar tetap memberikan ketegangan tersendiri – yang sangat mungkin mengakibatkan terjadinya kesalahan. Sialnya, justru karena tingkat kebesaran acara inilah yang membuat kesalahan manusiawi itu menjadi bahan pembicaraan – bahkan menjurus olok-olok. Wong namanya Miss Universe, Ratu Sejagat kalau versi Vonny Sumlang. Ratunya miliaran umat manusia di muka bumi. Makanya, ketika terjadi salah penyebutan pemenang wanita yang berhak menyandang gelar tersebut – beserta mahkota –, tidak mengherankan kalau umat manusia sedunia (sebenarnya enggak semua juga, sih) membicarakannya. Kembali lagi, itu manusiawi.

Saya sebenarnya tidaklah termasuk ke dalam orang-orang yang begitu mengikuti perkembangan, terutama yang berhubungan dengan ajang seperti pemilihan Ratu Sejagat. Saya tahu mengenai “kejadian istimewa” tersebut dari seorang teman. Lalu, pada malam harinya, ketika memindah-mindahkan saluran televisi, sebuah televisi swasta nasional melakukan siaran-tunda ajang tersebut. Tidak dari awal. Ketika saya menonton, Steve Harvey sudah memanggil tiga orang peserta yang berhak masuk ke babak final. Amerika Serikat, Kolumbia, dan Filipina menjadi tiga finalis terpilih. Ketiganya harus menjawab sebuah pertanyaan yang kemudian akan menjadi bahan pertimbangan bagi para ke-77 peserta lainnya untuk menentukan siapakah yang berhak menyandang predikat sebagai Ratu Sejagat. Dan, pada momen inilah timbul keinginan saya untuk membuat tulisan ini.

Mendengar jawaban dari ketiga peserta finalis, saya jadi teringat pada beberapa adegan di film Youth. Pada film ini, muncul sosok Ratu Sejagat yang ingin berkenalan dengan Jimmy Tree (Paul Dano) – seorang aktor terkenal yang sedang “mengasingkan diri” untuk mendalami karakter tokoh yang akan diperankan di film berikutnya. Dari beberapa adegan mengenai Ratu Sejagat di film ini, satu hal yang dapat disimpulkan. Faktor utama terpilihnya seseorang menjadi Ratu Sejagat berdasarkan penampilan fisik, dan mengesampingkan kemampuan intelektual. Sarkas, memang. Tapi, begitulah opini yang terbentuk – menurut saya.

Sialnya, ketika mendengar jawaban dari ketiga finalis di ajang Ratu Sejagat 2015, pendapat sarkas tersebut pun semakin kuat. “Apa yang akan Anda lakukan ketika menjadi Ratu Sejagat?” Bukankah pertanyaan seperti itu sudah sangat standar sekali? Pertanyaan yang saya yakin setiap peserta, bahkan ke-77 peserta yang tidak berhasil masuk babak final, sudah mempersiapkan jawabannya. Pada proses persiapan, tentu pertanyaan ini termasuk dalam daftar pertanyaan standar yang akan ditanyakan. Pertanyaan yang diajukan oleh Steve Harvey tidaklah menyangkut teori kuantum atau permasalahan njelimet yang begitu memusingkan. Stephen Hawking tidak termasuk dalam daftar juri, kan?

Dalam konsep kerajaan, seseorang menjadi ratu atas dasar garis keturunan atau pernikahan. Hanya anak dari seorang raja atau seorang wanita yang menikah dengan raja sajalah yang berhak menyandang gelar ratu. Tapi, karena kita hidup di planet yang demokratis, setiap wanita di muka bumi memiliki hak yang sama untuk bersaing demi meraih gelar ratu. Ajang inilah sarananya. Tentunya, karena di belakang gelar “ratu” terdapat embel-embel “sejagat”, terdapat kriteria-kriteria yang harus dipenuhi. Tidak hanya dalam hal penampilan (tentunya seorang raja punya kepentingan terhadap penampilan wanita yang menjadi pendampingnya, meskipun si Ratu Sejagat tidak pernah bersanding dengan Raja Sejagat), seorang ratu pun harus memiliki kemampuan intelegensia yang mumpuni. Dalam kenegaraan, misalnya, seorang Ibu Negara tidak hanya menjadi “boneka” yang hanya bertugas menjadi pemanis penampilan sang Kepala Negara, tapi juga memiliki segudang bidang yang diurus. Apalagi ini dibarengi dengan embel-embel “sejagat”. Bahwa gelar yang diembannya berurusan dengan miliaran manusia di muka bumi, dan karenanya kemampuan intelegensia merupakan hal penting yang harus dimiliki. Sayangnya, alih-alih memberikan jawaban yang memuaskan, dua dari tiga finalis memberikan jawaban yang mengecewakan – kembali lagi, setidaknya menurut saya. Salah satu orang memberikan jawaban yang sangat mengambang, bias, seorang remaja yang penuh semangat tanpa tahu hal yang diinginkan, sementara seorang yang lain lupa bahwa gelar Ratu yang disandang bersembel-embel “sejagat” dan karenanya dia tidak lagi hanya menjadi Ratu dari regional tempat dia berasal.

Kecewa? Tentu saja. Ditambah dengan pose hafalan yang senantiasa ditampilkan sepanjang acara, jawaban-jawaban tersebut tentulah sangat tidak memuaskan dari seseorang yang akan menyandang gelar Ratu Sejagat. Dan karenanya, saya pun menjadi lebih memihak pada sarkasme Paolo Sorrentino. Eitss…. Tulisan ini belum berakhir. Beruntunglah (sifat dasar manusia Indonesia yang selalu mengambil untung dari segala maca kejadian) pengumuman pertama yang diucapkan Steve Harvey tidaklah benar. Revisi yang memberikan kelegaan, kepuasan. Meski tidak terpilih sebagai finalis, ternyata banyak dari ke-77 peserta ajang Ratu Sejagat yang mengedepankan rasionalitas ketika memilih wanita yang berhak menyandang gelar kehormatan tersebut.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s