Atas Nama Totalitas

For-Art

Creativity takes courage.
Henri Matisse

“Sejauh mana pengorbanan atau apapun namanya yang harus dilakukan atas nama pengabdian pada seni?” Pertanyaan seperti itu mungkin pernah Anda dengar. Pada suatu ketika, pertanyaan semacam itulah yang “menghantui” Ki-Duk Kim. Sutradara, penulis naskah, aktor, produser, dan art director ini pernah merasa begitu tertekan karena suatu kejadian yang dialami ketika proses syuting sebuah film.

Dalam film tersebut, sebagai penutup cerita, salah satu tokoh utama melakukan gantung diri di dalam penjara. Persiapan matang sudah dilakukan. Tali string pengaman sudah diatur untuk menyangga tubuh sang aktris yang akan melakukan adegan tersebut. Jadi, meski terlihat menggantung pada seuntai kain yang melingkar di leher, sebenarnya tubuh aktris tersebut tergantung pada tali string. Namun, kecelakaan terjadi. Saat syuting dilakukan, tali string ternyata mengalami kendala sehingga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Alih-alih memberi tahu kru dan sutradara, sang aktris memutuskan melanjutkan aktingnya, dengan seuntai kain yang melingkar di leher dan mencekiknya dengan erat. Tanpa menyadari hal tersebut, Ki-Duk Kim dan para kru terus melakukan pengambilan gambar hingga mendapatkan materi yang diinginkan. Setelah kata “cut” terucap, alangkah terkejutnya bahwa muka merah dan badan gemetar sang aktris bukanlah akting – tapi reaksi yang biasa terjadi pada orang yang tercekik. Pertolongan pun diberikan. Beruntung nyawa sang aktris berhasil diselamatkan.

Namun ternyata, tidak selesai sampai di situ. Pascakejadian tersebut, sang sutradara mengalami trauma yang cukup dalam. Selama hampir tiga tahun dia “menghilang”. Menyendiri di sebuah bukit. Memutus hubungan dengan dunia luar. Dalam pikirannya, terjadi pergulatan: sejauh mana pengorbanan yang dilakukan atas nama pengabdian pada seni? Apakah sang aktris tersebut benar-benar mengabdikan dirinya pada seni hingga rela membahayakan diri demi akting diharapkan? Dan pertanyaan yang lebih besar: apakah seni lebih penting dibanding hidup?

Bukan hanya dalam bidang seni, sebenarnya. Dalam berbagai bidang lain di dunia ini, dedikasi atau loyalitas serupa pun dapat ditemui. Tetapi dalam tulisan ini, mari fokus pada bidang seni, terutama film.

Beberapa tahun yang lalu, ada sebuah film yang menarik perhatian masyarakat internasional. Pasalnya, dalam film tersebut, para aktor dan aktris melakukan hubungan seks secara riil. Organisasi aktor-aktris pun melakukan protes terhadap hal tersebut. Yang dipertanyakan: apa beda aktor-aktris tersebut dengan para pemain film porno? Jadwal peluncuran film pun terpaksa ditunda, karena harus dilakukan syuting ulang khusus untuk bagian hubungan seksual yang akhirnya diperankan oleh para pemain film porno. Dan di akhir pekan yang lalu, saya pun menonton film dengan sajian yang serupa.

Dalam berkreasi, batas seorang seniman adalah imajinasi (kreativitasnya) sendiri. Segala hal akan dilakukan demi mengungkapkan imajinasi (kreativitas) tersebut. Tak terkecuali hal-hal yang dianggap tabu atau terlarang. Pernah mendengar seorang pelukis yang membuat lukisan dengan vaginanya?

Kreativitas tanpa batas. Itu yang sering disebut-sebut. Totalitas dalam berkarya pun menjadi moto atau pedoman yang kukuh dipegang. Tapi kembali ke pertanyaan awal, sejauh mana totalitas tersebut? Apakah totalitas tersebut menempati posisi yang maha-tinggi dan karenanya tidak ada satupun hal di dunia ini yang dapat menghalangi demi mewujudkan karya seni yang dimaksud?

Eksistensi seorang seniman adalah karya yang dibuat. Dalam perfilman, eksistensi itu akan terus ada ketika film yang dibuat tetap terjaga keberadaannya. Kalaupun seorang pekerja film meninggal dunia (baik dalam proses kreativitas yang dilalui ataupun karena alasan lain), karya yang ditinggalkannya yang akan terus mengingatkan orang pada pekerja seni tersebut. Yang kemudian perlu diperhatikan: apakah pengorbanan yang dilakukan tersebut memang benar-benar atas dasar totalitas yang tanpa dilakukannya hal tersebut maka karya yang dibuat tidak akan seperti yang diinginkan, ataukah hanya sekadar mencari sensasi?

Bukankah seorang aktris berhak meminta agar proses syuting berhenti sejenak karena ada kesalahan teknis yang dapat mencelakakannya? Bukankah syuting film suatu proses yang bisa dilakukan berulang kali? Kenapa harus memaksakan untuk terus berlangsung meski bukan dalam pertunjukan langsung? Lalu, apakah hubungan seks harus dilakukan secara riil? Apakah tidak bisa dilakukan proses kreatif sehingga adegan yang dilakukan terlihat nyata tanpa harus menunjukkan proses masuknya penis ke dalam vagina? Apa jika adegan hubungan seks tersebut dihilangkan maka keseluruhan cerita yang disajikan akan rusak?

Satu hal yang saya pahami: totalitas tanpa dilandasi kesadaran hanya akan menjadi tindakan bodoh atau sekadar mencari sensasi.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s