Di Sebuah Seremoni

IMG_20151126_210246765

Baru-baru ini, saya menghadiri sebuah undangan. Sebuah acara. Perayaan ulang tahun suatu institusi tepatnya. Pesta yang meriah. Taman yang diatur dengan indah. Kolam renang berhias begitu banyak rangkaian mawah indah. Lampu gemerlap. Merangkai semua hal yang disajikan di acara tersebut: indah. Tetapi, itu hanya awal. Berlangsung menjelang malam, jamuan di taman merupakan awal dari acara inti. Setelah menyelesaikan malam malam yang diiringi alunan musik merdu dan sedikit pertunjukan berbagai tari dan musik asal berbagai daerah di Indonesia, para tamu dipersilakan memasuki ruangan besar tempat acara utama berlangsung.

Ketika pembawa acara mengajak para tamu untuk masuk ke ruangan besar, di momen itulah saya tahu arti tanda warna yang tertera di kartu undangan. Bukan masalah bagi saya mengetahui bahwa saya termasuk undangan reguler, bukan kelas spesial. Pada kenyataan, mendapatkan undangan ke acara tersebut saja sudah menjadi sesuatu yang spesial bagi saya. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian saya.

Saat mengarahkan para tamu untuk masuk ke ruangan besar, pembawa acara meminta para tamu reguler untuk masuk ke ruangan besar tersebut terlebih dahulu – baru kemudian disusul oleh tamu spesial dan sangat spesial. Tidak masalah. Bukankah memang sudah menjadi kebiasaan dan sepertinya sudah menjadi aturan baku bahwa yang spesial tidak boleh menunggu – ataukah seharusnya yang spesial didahulukan?. Entah pandagan mana yang Anda pilih.

Memasuki ruangan utama, saya dan beberapa orang teman memilih duduk di barisan kursi paling belakang. Maklum, kami berencana tidak mengikuti acara hingga usai. Bukan karena kami tidak suka terhadap acara yang berlangsung. Bukan pula karena kami tidak menghormati sang tuan rumah yang dengan sangat murah hati mengundang kami ke acara perayaan ulang tahun yang begitu meriah. Hanya saja, ada pertimbangan lain yang harus didahulukan, harus menjadi prioritas.

Duduk di bangku barisan paling belakang membuat kami dapat memperhatikan orang-orang yang datang di acara tersebut. Mulai dari yang sederajat dengan kami (maksudnya yang menjadi tamu reguler) sampai pada tamu-tamu yang sangat spesial. Dan, di sinilah letak keheranan saya.

Bukan masalah besar sebenarnya. Karena, tidak ada hal spesial yang terjadi. Acara pun berlangsung dengan lancer dan sukses – setidaknya sampai kami beranjak pergi dari ruangan besar tersebut. Hanya saja, ada sesuatu yang mengganggu pikiran saya yang sering kali kosong dan karenanya diisi oleh hal-hal yang tidak berguna – seperti yang sedang saya kemukakan di sini.

Menempati tempat duduk yang berada di bagian depan, para tamu spesial dan sangat spesial (yang memasuki ruangan besar setelah para tamu reguler duduk manis) seperti menjadi “tontonan”. Seberapa pun tidak pedulinya Anda pada orang-orang yang menjadi tamu spesial dan sangat spesial tersebut, saya yakin Anda tidak akan mampu menahan keinginan untuk memperhatikan orang-orang yang berjalan di koridor yang berada di antara dua bagian rangkaian bangku. Terlebih, ketika para tamu sangat spesial yang memasuki ruangan besar dengan iringan rombongan pemusik tradisional dan para penari. Sesuatu yang sangat mencuri perhatian, dan Anda tidak akan mungkin menahan diri untuk tidak melihatnya.

Kembali ke pernyataan tadi: tergantung sudut pandang mana yang Anda pilih.

Ketika menaiki angkutan umum, jika Anda menjadi penumpang yang awal naik, Anda akan diminta untuk duduk di bagian yang paling belakang. Alasannya sederhana saja: agar memudahkan penumpang berikutnya. Jika penumpang yang datang awal duduk di bagian depan, tentu akan menghalangi akses penumpang-penumpang yang datang berikutnya. Tidak peduli siapa Anda, ada prioritas yang harus dipertimbangkan. Ada tenggang rasa yang harus didahulukan. Ada kepentingan umum yang harus dipertimbangkan.

Bayangkan jika Anda ingin menaiki angkutan umum dan satu-satunya posisi kosong yang tersedia berada di bagian paling belakang? Anda harus melewati jejeran penumpang lain yang sudah berada di dalam angkutan umum tersebut. Suatu kondisi yang tidak nyaman, tentunya. Anda mengumpat? Manusiawi. “Kenapa, sih, enggak mau geser?” mungkin begitu ungkapan di dalam hati kecil Anda.

Yang juga mungkin terjadi adalah para penumpang yang sudah duduk di dalam angkutan umum akan memperhatikan Anda. Tidak peduli seberapa pun “biasa” penampilan Anda. Masuknya penumpang di sela-sela penumpang lain tentu akan menarik perhatian. Senggol sana, senggol sini. Kecuali jika memang Anda termasuk orang yang menikmati menjadi pusat perhatian, keadaan seperti itu rasanya cukup tidak nyaman.

Namun, kembali lagi, tergantung dari sisi mana Anda memandang. Atau, tipikal orang seperti apakah Anda: yang menginginkan perhatian atau mengedepankan kenyamanan. Hidup penuh dengan pilihan. Bukankah begitu?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s