Melaju dengan Ironi

The-Past.gif

Sometimes you have to go back in order to go front.” (Mistress America)

Kutipan tersebut memang mengandung ironi. Bagaimana mungkin ketika ingin melangkah maju kita harus terlebih dulu mundur? Tambah ironi karena ucapan tersebut diungkapkan oleh seorang paranormal. Entah Anda termasuk ke dalam tipe yang mana: mementingkan siapa yang berbicara atau mengedepankan hal yang dibicarakan. Tetapi, walaupun Anda termasuk orang yang sangat mengedepankan logika dan tak pernah ambil peduli terhadap segala hal yang berbau metafisika, ucapan tersebut ada benarnya.

Bukankah kehidupan ini penuh dengan ironi? (Ceilah… dalem banget. Hahahaha….)

Itulah yang terjadi. Kehidupan sehari-hari yang dijalani selalu diwarnai dengan ironi. Mengambil langkah mundur untuk menapaki masa depan. Seperti seorang atlet yang mengambil aba-aba. Sebelum melakukan aksinya, dia akan mengambil beberapa langkah mundur, sebagai persiapan, sebelum kemudian menunjukkan kemampuannya.

Dan dalam satu minggu terakhir, entah kenapa, film-film yang saya tonton menyajikan tema seperti itu. Selesaikan masalah di masa lalu jika ingin melangkah maju. Dimulai dari Youth, I Smile Back, lalu Mistress America. Belum lagi Spectre dan Skyfall yang juga tak terlepas dari masalah di masa lalu.

Masa lalu sepertinya menjadi salah satu tema favorit yang diangkat ke layar lebar. Entah sebagai tema utama atau bagian dari konflik yang disajikan. Sampai dengan tahun ini, entah berapa banyak jumlah film yang menjadikan peristiwa atau masalah di masa lalu sebagai tema yang disajikan – dan sepertinya hal tersebut akan terus terjadi di masa-masa yang akan datang.

Tema ini pun muncul, bisa dibilang, dalam setiap genre film yang ada. Drama, action, horor, komedi, dan lainnya. Ironisnya, bahkan film scient fiction, dengan berbagai kecanggihan teknologi yang mungkin dibuat di masa depan, masa lalu pun turut ambil bagian di dalamnya. Pernahkah melihat film penemuan mesin waktu yang digunakan untuk menjalani perjalanan ke masa lampau? Kalau bukan ironi, apa sebutan yang lebih tepat untuk itu?

Saya sangat yakin bahwa dalam hidup ini segala hal saling berkaitan. Ada kausalitas yang jelas. Kejadian di hari ini pasti terhubung dengan rangkaian kejadian yang saya alami di hari-hari sebelumnya. Kejadian hari ini pun akan berkaitan dengan kejadian-kejadian di masa mendatang. Sebagai garis linear. Tak terputus.

Berbeda dengan masa depan, masa lalu bersifat telah. Akan lebih mudah membahas kejadian-kejadian yang telah terjadi dibanding dengan membayangkan kemungkinan yang akan terjadi di masa mendatang. Sederhana saja, karena kita pernah mengalaminya. Dengan semua panca indra yang dimiliki, pikiran kita merekam semua kejadian tersebut – termasuk perasaan dan emosi yang menyertainya. Mengungkapkannya kembali seperti membuka buku-buku yang tertata di rak. Meski, bukan juga merupakan hal yang mudah – jika masa lalu itu mengandung hal yang menyakitkan bahkan traumatis.

Sayangnya, justru masa lalu seperti itulah yang seringkali dijadikan tema dalam sebuah film. Masa lalu yang sebenarnya ingin dihapus, dilupakan, bahkan mungkin tidak pernah terjadi. Luka di masa lalu, begitulah mungkin ungkapan yang tepat.

Dan karena kejadian di masa lalu tersebut mengandung luka, serta cenderung ingin dilupakan, kita terkadang tidak berani menyelesaikannya. Berharap untuk hilang walau sebenarnya masih tertinggal. Menggantung dan menanti untuk diselesaikan.

Seiring waktu berlalu, kenangan seperti itu semakin lama semakin tertimbun. Tertumpuk di antara kejadian-kejadian yang berlaku. Sampai kemudian, pada suatu titik, kenangan itu menjadi kunci. Terlalu lama menunggu, tiba saatnya dia menuntut untuk diselesaikan – atau jika tidak, kita tidak akan bisa melaju.

Gagal move-on, begitu istilahnya – mengutip bahasa masa kini. Bukan karena ada rasa begitu besar, misalnya, tapi karena ada hal yang tidak terselesaikan. Yang dibiarkan berlarut, cenderung dilupakan, walau sebenarnya tak terlupakan dan selalu menanti untuk diselesaikan. Yang selalu menggayut di setiap langkah. Menjadi berat? Tentu saja. Jika sudah begini, jangankan diajak untuk berlari. Bahkan untuk dapat terus melangkah pun sudah merupakan hal hebat yang bisa dilakukan.

Menemukan kejadian di masa lalu yang dimaksud hanya merupakan langkah awal. Menyelesaikannya merupakan langkah berikutnya yang tak kalah berat untuk dilakukan. Bahkan, di langkah ini, tak jarang yang terjadi adalah kekalahan. Alih-alih bisa berdamai dan menemukan penyelesaikan, yang terjadi adalah terbenam dalam masalah yang semakin dalam.

Bicara mengenai pengalaman pribadi, pada suatu ketika saya pernah dianggap berpandangan “aneh”. Saat itu, bukannya mengemukakan solusi dari masalah yang dihadapi, saya malah coba menggali pengalaman-pengalaman yang terjadi di masa lalu. Alasan saya sederhana: saya merasa masalah yang terjadi saat itu memiliki kesamaan dengan masalah yang terjadi di masa lalu. Pihak yang terlibat merasa saya hanya coba “melarikan diri”, atau mencari pembenaran. Entahlah, bagi saya saat itu, mencari solusi dari masalah yang dihadapi merupakan hal mudah. Ya, enggak juga, sih, sebenarnya. Tapi yang lebih menjadi perhatian saya adalah agar jangan sampai kejadian yang serupa kembali berulang – karena saya melihat kecenderungan itu jika melihat masa lalu dari pihak yang terlibat dalam masalah itu. Siapa yang benar? Perhatian saja untaian benang linear yang masih terus memanjang entah sampai di mana.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s