Asa Setengah

AcsentSabtu siang, karena ada suatu keperluan, saya datang ke sebuah pusat perbelanjaan. Ini merupakan pengalaman pertama saya datang ke pusat perbelanjaan tersebut. Sebelumnya, saya hanya beberapa kali melintas di dekatnya.

Area parkir untuk motor berada di seberang pusat perbelanjaan. Bukan hal mengherankan untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya. Setelah memarkirkan motor, saya pun berjalan menuju gedung pusat perbelanjaan tersebut – sambil merokok. Setelah menyeberang jalan dan akan memasuki area taman, seorang petugas keamanan menegur saya. “Maaf, Pak. Rokoknya mohon dimatikan.” Sikap dan intonasi yang sopan pun membuat saya menaruh penghargaan pada petugas keamanan tersebut. Karena rokok di sela-sela jari masih cukup panjang, saya pun memutuskan untuk menghentikan langkah dan menunda keinginan untuk masuk ke dalam area pusat perbelanjaan. “Berarti baru bisa merokok lagi pas nanti selesai urusan,” ujar saya dalam hati sambil memperkirakan urusan yang mungkin akan selesai dalam beberapa jam ke depan. Memikirkan penantian yang begitu panjang untuk dapat menikmati batang rokok berikutnya, saya pun rela berpasrah diri diterpa terik matahari.

Bara rokok pun hampir mencapai garis batas penyuling asap. Jemari saya melontarkan batang rokok ke aspal, yang dilanjutkan dengan gerakan kaki untuk memastikan bara api sudah padam. Saya pun melangkah ke dalam area pusat perbelanjaan.

Cuaca Sabtu siang kemarin terbilang terik. Berkendara motor selama kurang lebih 1,5 jam membuat rasa dahaga tak tertahan. Ketika memasuki pusat perbelanjaan itu, tujuan utama adalah toko yang menjual minuman dingin.

Setelah mendapatkan minuman yang diinginkan, saya pun kembali berjalan keluar gedung. Maklum, di tengah proses berhemat, berkeliling pusat perbelanjaan bukanlah keputusan yang bijak. Menikmati minuman dingin dari botol, keinginan untuk merokok pun kembali timbul. Tapi melihat suasana terik di luar, rasanya itu pun bukan keputusan yang bijak. Namun, saya bukanlah orang yang mudah menyerah. Sambil menunggu kabar dari seseorang yang saya tunggu, mata saya pun mencari. Dan ternyata, di luar bayangan saya, area teras pusat perbelanjaan tersebut merupakan area merokok. Beberapa orang saya lihat sedang menikmati rokok masing-masing. Yang lebih membuat tercengang, wadah abu yang digunakan dan tersedia di atas meja bukanlah “wadah-darurat” – semisal gelas bekas minuman atau semacamnya. Yang tersaji di atas beberapa meja adalah wadah abu yang sebenarnya. Yang terbuat dari kaca, yang di bagian sisinya dilengkapi beberapa cekungan agar batang rokok dapat bersandar dengan mantap. Saya pun seperti menemukan oase di tengah gurun pasir. Tanpa menunggu lama, segera beranjak menuju deretan meja di bagian teras.

Namun, sambil menikmati rokok, saya berpikir, “Kalau memang di bagian dalam tersedia area untuk merokok, kenapa tadi saya ditegur dan diminta untuk mematikan rokok sebelum memasuki area pusat perbelanjaan?” Kenapa harus menggunakan standar-ganda? Atau mungkin, yang lebih tepat, harus bermuka-dua?

Pusat perbelanjaan ini tidak berada di luar Jakarta. Jadi, sebelum tiba di sini, saya tidak terlalu mempersiapkan diri untuk menghadapi pusat perbelanjaan yang tidak menyediakan tempat merokok bagi pengunjungnya. Tetapi, ketika mendapati teguran dari petugas keamanan, saya pun menerimanya dengan baik. Bagaimanapun, tuan rumah yang punya aturan. Dalam hal ini, pihak manajemen pusat perbelanjaan tersebut. Dan jika pihak manajemen ingin menjadikan pusat perbelanjaan yang dikelolanya menjadi area yang nyaman bagi semua orang – tanpa harus terganggu oleh asap rokok, misalnya –, saya pun amat menghargainya. Hanya saja, lakukanlah secara konsisten.

Kalau memang dilarang, terapkan aturan itu di seluruh area. Jangan hanya setengah-setengah. Selain standar-ganda, bagi saya, penerapan aturan seperti itu hanya menunjukkan pihak manajemen merupakan orang-orang yang tidak berani bersikap. Alih-alih coba menjadikan pusat perbelanjaannya sebagai kawasan yang tanpa asap rokok, yang terjadi hanyalah sekadar keinginan. Tindakan yang dilakukan “sekadar ada”, tidak benar-benar ada.

Melihat tata letak pusat perbelanjaan tersebut, merupakan hal tepat jika diberlakukan pelarangan merokok. Di bagian teras, tidak sekadar deretan meja. Di sini juga terdapat area kolam yang didesain dengan sangat menarik sehingga para pengunjung bisa bermain-main dengan ikan yang ada. Tak perlu analisa panjang, bahwa yang senang bermain-main dengan ikan adalah anak-anak. Dan karena ada banyak anak yang bermain di area ini, sudah sewajarnya jika pihak manajemen menetapkan area ini bebas asap rokok. Terlebih, berdampingan dengan area kolam ikan, terdapat taman yang cukup luas. Ketika sore menjelang, taman ini menjadi area yang sangat ramai. Pengunjung dari berbagai usia menikmati suasana sore di sini. Bercanda, berlari-lari, atau sekadar duduk menikmati suasana sore.

Sekadar memberi masukan, kalau memang pihak manajemen takut kehilangan pengunjung dengan aturan kawasan tanpa asap rokok, mungkin bisa disediakan area merokok di bagian yang terpisah dengan area kolam dan taman. Membagi area sesuai dengan fungsi dan peruntukkan, menurut saya, merupakan hal bijak dan dapat membuat para pengunjung yang datang merasa nyaman. Membuat suasana yang nyaman sangat penting agar para pengunjung senang berada di area pusat perbelanjaan dan akan terus datang di lain kesempatan. Dan rasa nyaman itu tidak akan terbangun jika sang tuan rumah tidak dapat menjalankan aturan dengan konsisten.

Memang, mengubah perilaku manusia merupakan hal yang sangat sulit. Tapi, yang perlu digarisbawahi: sangat sulit tidak berarti tidak mungkin. Belajar dari berbagai pengalaman, saya yakin para perokok pun akan dapat mematuhi aturan. Ada kalanya memang muncul perokok yang tidak peduli dengan aturan dan norma yang ada (semisal merokok di dalam kendaraan umum). Perilaku seperti ini pun saya tidak suka, dan menolaknya. Tapi melihat keberadaan pusat perbelanjaan tersebut yang seperti ditujukan bagi kalangan menengah (yang secara sederhana dapat diasumsikan dengan orang-orang berpendidikan), aturan penetapan kawasan merokok sepertinya bukan sesuatu yang mustahil – asal dilakukan dengan konsisten.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s