Karena….

Everest

Everest (2015)

Sutradara: Baltasar Kormákur

Penulis: William Nicholson, Simon Beaufoy

Pemain: Jason Clarke, Ang Phula Sherpa, Thomas M. Wright, Thomas M. Wright, Martin Henderson, Tom Goodman-Hill, Charlotte Bøving, Pemba Sherpa, Amy Shindler, Simon Harrison, Chris Reilly, Ingvar Eggert Sigurðsson, ohn Hawkes, Naoko Mori, Michael Kelly, Tim Dantay, Todd Boyce, Mark Derwin, Emily Watson, Sam Worthington, Keira Knightley, Elizabeth Debicki, Josh Brolin, Justin Salinger, Jake Gyllenhaal, dan Vanessa Kirby

Saya lupa detail mengenai suatu percakapan yang pernah terjadi. Kapan, dimana, dan siapa saja yang terlibat di dalam percakapan tersebut. Detail mengenai setiap komentar atau alasan topik ini dibicarakan dalam percakapan pun tersebut sudah tidak lagi melekat di dalam ingatan. Yang saya ingat, percakapan ini pernah terjadi – dan saya yakin ini bukan sekadar ilusi.

“Ngapain, sih, naik gunung? Jalan capek-capek, pas sampe atas, terus balik lagi. Ga ada kerjaan banget.” Begitulah kira-kira yang dipercakapkan kali itu. Bukan percakapan yang serius, karena seingat saya orang-orang yang terlibat dalam percakapan tersebut pun tertawa ketika mendengar pernyataan itu – termasuk saya yang pada suatu masa ‘menekadkan’ diri ikut terlibat dalam sebuah kelompok pecinta alam.

Sudah bertahun berlalu sejak terakhir sebuah tas besar dan berat menempel di punggung dan saya melakukan perjalanan berjam-jam yang melelahkan. Bahkan ketika percakapan itu terjadi, sleeping bag menjadi selimut hangat yang sangat berguna ketika saya merasa demam.

Bukan karena telah lama meninggalkan kegiatan yang dibahas yang membuat saya ikut tertawa setelah mendengar pendapat tadi. Sama sekali tidak. Tapi, setelah dipikir-pikir, pendapat itu ada benarnya juga. Kenapa harus menyiksa diri melakukan perjalanan melelahkan jika pada akhirnya kita hanya akan kembali ke tempat asal – dengan tubuh yang sangat letih, pakaian yang kotor, dan lain sebagainya.

Coba mengingat-ingat, sepertinya ada beberapa jawaban yang bisa saya utarakan. Yang pertama adalah diajak teman. Maklum, saat itu, teman dekat saya menjadi anggota kelompok pecinta alam dan saya pun akhirnya ikut-ikutan terlibat dalam kelompok tersebut. Alasan kedua adalah keinginan untuk mencoba. Tas ransel yang selalu saya gunakan ketika naik gunung adalah milik abang saya. Dari dialah saya tahu mengenai kegiatan ini. Melihat foto-foto yang dicetak usai abang saya turun dari gunung, saya pun menjadi penasaran dan ingin suatu saat melakukan hal yang sama. “Sepertinya menyenangkan,” begitu kata saya dalam hati. Terakhir, mungkin ini akan terdengar sangat naif, tapi jujur saya akui saya pernah menjadikan hal ini sebagai alasan untuk naik gunung: mencari jati diri. Tolong, jangan tanya apa yang dimaksud dengan jati diri, bagaimana mencarinya, kenapa harus dicari di gunung, dan lain sebagainya. Sudah saya katakan bahwa itu alasan yang sangat naif dan sangat tidak bisa saya pertanggungjawabkan saat ini.

Namun setelah dipikir-pikir, kedua alasan yang lainnya pun tidak dapat dipertanggungjawabkan. Yang pertama, karena saya masih beberapa kali naik gunung setelah berpisah dengan sahabat tadi. Yang kedua, kalau hanya ingin mencoba, sepertinya hanya cukup sekali. Tidak sampai berulang kali. Dan, sepertinya di situlah alasan yang sebenarnya.

Saya bukanlah pendaki profesional yang memiliki pengetahuan dan kemampuan mumpuni. Sekadar tahu, itu saja bekal yang saya miliki. Lagipula, gunung yang saya naiki hanyalah yang itu-itu saja. Tidaklah termasuk gunung dengan tingkat tantangan yang luar biasa.

Dari sedikit pengalaman naik gunung yang saya lakukan, harus diakui kegiatan ini memiliki sifat addictive yang cukup besar – setidaknya bagi saya. Sederhana saja. Saya yang pada awalnya hanya ingin mencoba tapi ternyata sampai beberapa kali melakukannya. Apa namanya kalau bukan addictive?

Entah dengan jati diri atau segala hal naif yang diungkapkan berkaitan dengan alasan naik gunung. Tapi bagi saya, ada rasa berbeda ketika selesai melakukannya. Capek? Iya. Lemes? Tentunya. Menyesal? Hmmm… tidak. Mungkin di awal, sekitar 15-30 menit di awal perjalanan, rasa penyesalan itu timbul. “Ngapain, sih, gw?” Kalimat itu terus berulang seiring napas terengah, dengkul yang terasa amat pegal, dan punggung yang seperti ditarik ke dalam tanah. Tapi, hanya dalam durasi itu. Setelahnya, yang terasa adalah pengalaman menyenangkan.

Tidak selalu menyenangkan, sebenarnya.

Ketika berbicara mengenai naik gunung, satu hal yang sangat mungkin terucap adalah bahwa alam akan mengungkap sifat sebenarnya dari seseorang. Saya setuju dengan pernyataan itu. Karena, saya pernah mengalaminya. Saya pernah mengalami melakukan perjalanan bersama orang-orang yang begitu setia dan sabar menemani teman yang kepayahan sambil tak letih memberikan semangat. Sebaliknya, saya pun pernah melakukan perjalanan dengan orang-orang yang dengan tenangnya naik mobil menuju Jakarta meski tahu bahwa masih ada anggota dari rombongannya yang bahkan belum mencapai pos keluar.

Manusia adalah manusia. Alamlah yang akan mengungkap diri mereka sebenarnya. Hanya saja pengalaman itu tidak pernah membuat saya menyesal. Saya justru berterima kasih. Saya diberitahu mengenai sifat asli orang-orang di sekitar saya sebelum saya menaruh kepercayaan begitu jauh padanya. Mungkin itu salah satu hal yang membuat saya tidak jera naik gunung. Sementara, yang membuat saya jera adalah kondisi kedua lutut yang sudah bisa berkompromi. Terakhir naik gunung, saya sempat terjatuh ketika coba berdiri. Meski fisik masih cukup kuat (karena saya masih tertawa-tawa setelah terjatuh), tapi kedua dengkul saya tidak lagi mampu menumpu tubuh. Meski ada rasa keinginan untuk melakukannya lagi, saya pun harus pasrah dan sadar diri bahwa ada kondisi yang tidak bisa dipaksakan.

Kembali ke percakapan yang disebut di awal, lalu apa yang saya cari dari naik gunung? Kenapa harus bersusah payah melakukan perjalanan yang melelahkan, membawa beban berat, kalau pada akhirnya hanya untuk kembali ke tempat semula? Entahlah. Mungkin sekadar mengisi waktu luang. Mungkin untuk disebut keren oleh teman-teman. Mungkin untuk mencari bahan cerita yang akan dibagikan di hari tua nanti. Mungkin seperti yang diungkap Doug Hansen, “… because I can.” Atau, mungkin juga karena kita adalah manusia, yang tercipta dari tanah dan akan kembali menjadi tanah. Mungkin….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s