Do You?

image

Keponakan saya melotot sambil menarik-narik tangan saya ketika melihat seorang pria berbusana khas Kalimantan. Maklum saja. Itu pertama kalinya dia melihat orang berbusana seperti itu. Lagipula, sejak dulu keponakan ini takut dengan berbagai hal berkostum “tidak biasa” – termasuk di antaranya badut. Walhasil, saya pun harus memikirkan cara agar bisa masuk ke tempat acara sebuah festival yang diadakan di museum.

Keputusan saya mengajak keponakan plesiran ke museum memang berisiko. Dia mengalami kebosanan adalah risiko terbesarnya. Beberapa tahun lalu, itu yang terjadi. Mukanya cemberut ketika saya mengajaknya ke museum di kawasan Kota Tua, Jakarta. Beruntung di dalam musuem itu ada taman bermain. Taman itulah yang akhirnya jadi penghibur sekaligus penghilang raut cemberut keponakan saya.

“Toh museum yang ini tidak sesuram yang waktu itu,” begitu pikir saya. Memang benar. Museum yang saya datangi kali ini suasananya lebih ‘terang’. Meski aneka patung dan benda bersejarah lain mengisi tiap sudut ruang, tapi penataannya lebih rapi dan pencahayaannya lebih baik. Saya pun sudah siap dengan kemungkinan keponakan ini akan merasa bosan. Tapi, kehadiran sosok berkostum Kalimantan di luar persiapan yang saya lakukan.

Coba mencari solusi, saya berjalan-jalan di sekitar area museum – sambil bertanya-tanya adakah akses lain untuk dapat masuk ke ruang yang saya tuju. Tetapi, yang saya temui bukan sekadar fakta bahwa pintu dengan orang berkostum Kalimantan itu adalah satu-satunya akses menuju ruang acara. Selama coba mencari-cari info, saya beberapa kali mendapat teguran. “Mas, minggir sedikit, dong,” “Mas, geser dulu ya sebentar,” dan “Mas”-“Mas” lainnya. Alasannya, keberadaan saya menjadi objek yang tidak diinginkan dalam foto yang ingin diabadikan.

Ya memang, sih, penampakan saya tidaklah istimewa. Kehadiran saya di sebuah foto mungkin akan merusak estetika yang diinginkan. Tapi, saya sadar diri, kok. Saya tidak akan berusaha masuk ke dalam frame ketika ada sesi foto, terutama di studio. Tapi jika sesi foto itu di tempat umum, bahkan dilakukan di depan akses utama menuju tempat acara, salahkah saya jika tanpa sengaja masuk ke menjadi bagian dari objek yang diabadikan?

Tanpa mengurangi rasa tenggang rasa, saya benar-benar berniat mengganggu orang-orang yang sedang berpose dan akan mengabadikan gambar. Saat itu, saya hanyalah seorang ‘om’ yang kebingungan dan coba mencari solusi agar bisa masuk ke ruang acara dan keponakan saya tidak ketakutan karena melihat orang berkostum Kalimantan. Itu saja. Kalau saya beberapa kali melintas di depan papan besar bertuliskan keterangan mengenai acara yang berlasung sekaligus menjadi spot berfoto, itu karena saya berusaha mencari berbagai kemungkinan. Berkali-kali saya coba merayu keponakan. “Om gendong aja, ya?” “Kamu merem aja, biar ga ngeliat,” dan sebagainya. Jujur, sama sekali tidak ada unsur kesengajaan.

Lagipula, kalau boleh menggugat, bukankah papan besar itu terdapat di depan akses utama? Dan yang namanya akses utama, serta satu-satunya, sudah barang tentu akan ada banyak orang yang melintas. Itu sepertinya sudah takdir.  Sangat sulit untuk diubah. Jadi, jika Anda ingin melakukan sesi foto di tempat yang dilalui oleh banyak orang, bukankah seharusnya Anda yang mengalah? Andalah yang seharusnya berkompromi dengan riuhnya orang yang berlalu-lalang – bukan malah menegur atau meminta dia berhenti, mundur, atau yang lainnya.

Saya sadar. Setiap orang memiliki sifat berbeda. Saya datang ke museum itu karena ingin tahu tentang acara yang berlangsung. Kalau ternyata saya tidak memiliki dokumentasi atau bukti keberadaan saya di area tersebut, saya tidak apa-apa. Tidak jadi masalah. Toh saya pun lupa membawa kamera, dan memang tujuan saya datang bukanlah untuk menambah koleksi foto pribadi.

Namun ternyata, keponakan saya bukanlah orang yang mudah diajak berkompromi. Tak peduli dengan segala rayuan yang saya utarakan, dia tetap saja menolak masuk ke ruang acara. Saya pun harus mengalah. Berputar arah menuju pintu keluar dan seterusnya menuju rumah. Sambil menunggu kedatangan bus TransJakarta, saya sempat mengabadikan foto di atas. Sebagai pengingat, ada rasa yang harus dikalahkan di hari itu.

Advertisements

One thought on “Do You?

  1. Masih banyak orang-orang yang kurang toleransinya. Plus dateng ke suatu acara hanya untuk eksis di socmed “yang penting udah foto di situ”. Sabar ya, ganbatte!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s