Di Hari Kurban

SilhuetPeristiwa ini terjadi kemarin siang. Usai penyembelihan hewan kurban, seorang tetangga membagikan ‘sisa-sisa’ kurban. Ketika berhenti di depan rumah, tetangga ini membuka sebuah karung. Di dalamnya, ada banyak potongan kaki kambing. Empat potong dikeluarkan dan diberikan ke ibu saya. Meski tetangga itu coba mengambil potongan lain, ibu menolak karena merasa empat potong sudah cukup – karena saya lihat setiap potongannya pun cukup besar.

Cerita tetangga yang berkeliling membagikan potongan hewan kurban bukanlah cerita yang luar biasa. Sudah momennya. Sudah sewajarnya. Bahkan sudah seharusnya. Bukankah itu salah satu semangat di hari raya ini? Yang ‘cukup tidak biasa’ ada kejadian setelahnya.

Tak berapa lama setelah tetangga memberikan potongan kaki kambing, datanglah tetangga lain – yang juga membawa potongan kaki kambing, hanya saja tidak di karung. Begini kira-kira percakapan yang terjadi.

Tetangga: Bude, mau ini, ga? (Sambil menyodorkan beberapa potong kaki kambing) Saya ga bisa masaknya.
Ibu: Ga usah. Yang tadi aja udah banyak.
Tetangga: Saya ga bisa masaknya. Emang Bude masaknya gimana?
Ibu: Rendem dulu sama air panas, terus nanti dikerok kulitnya.
Tetangga: Lho bukannya dikerok dulu kulitnya baru direndem?
……. (Saya sudah kehilangan fokus mendengarkan karena terpancing emosi)

Di hari yang suci, saya seharusnya tidak mudah terpancing emosi – ya, sebenarnya begitu pula di hari-hari yang lain. Hanya saja, saya benar-benar terpancing ketika mendengar percakapan tersebut – meski mungkin juga pengaruh kurang istirahat karena baru sampai rumah jauh setelah tengah malam.

Bukan masalah besar sebenarnya, hanya saja yang tidak besar ini sangat efektif memicu emosi. Kenapa harus menyanggah saran Ibu soal mengolah kaki kambing, padahal sebelumnya bilang tidak tahu cara mengolah potongan kaki kambing itu – dan itu menjadi alasan tetangga ini berniat memberikan potongan kaki kambing kepada Ibu. Kenapa bisa seseorang yang tidak tahu malah menyanggah ketika diberi masukan? Di luar apakah masukan yang dikasih adalah yang terbaik atau bukan, tetap saja, bagi seseorang yang tidak tahu, menurut saya itu merupakan hal yang sangat berharga – dan bukan untuk disanggah.

Lagipula, kalau memang tidak tahu cara mengolah, kenapa tidak menolak ketika diberi oleh tetangga yang membawa karung tadi? Saya yakin, ketika tetangga yang membawa karung membagi-bagikan potongan kaki kambing, setiap orang punya hak untuk menolak – dengan alasan masing-masing. Kenapa tidak menggunakan hak itu? Kenapa harus menerima potongan kaki kambing meski tidak tahu cara mengolah, lalu berusaha memberikannya ke ibu saya – yang saran pengolahannya dibantah dan membuat saya yang sedang berusaha beristirahat menjadi terpancing emosi? Yang penting diingat, Idul Adha merupakan hari untuk berkurban, bukan untuk mengurbankan – meski itu tetangga.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s