Conflict Management

Black MassBlack Mass

Sutradara: Scott Cooper

Penulis: Mark Mallouk, Jez Butterworth , Dick Lehr, dan Gerard O’Neill

Pemain: Johnny Depp, Joel Edgerton, Benedict Cumberbatch, Dakota Johnson, Kevin Bacon, Peter Sarsgaard, Rory Cochrane, David Harbour, Adam Scott, Corey Stoll, Julianne Nicholson, Bill Camp, W. Earl Brown, dan Juno Temple

Saya kenal seseorang yang sangat menghindar dari konflik. Baginya, hidup haruslah selalu berjalan dengan selaras, harmonis, tanpa konflik. Aman, damai, sentosa, loh jinawi. Untuk mewujudkan keinginannya itu, sering kali (walaupun sebenarnya dapat dibilang selalu) dia harus mengalah. Demi mengindari timbulnya konflik, dia rela menyodorkan dirinya menjadi “korban”. Mengalah agar kehidupan dapat terus berjalan dalam harmoni.

Beberapa kali saya berkata padanya bahwa terkadang konflik sangat diperlukan. Ada banyak hal positif yang bisa didapat dari terjadinya konflik. Tetapi, bukan berarti harus terus menciptakan konflik. Saya pun menginginkan kehidupan yang aman, damai, loh jinawi. Tapi dalam hidup ini, ada momen ketika konflik tidak bisa dihindari. Yang terpenting, ketika momen-momen seperti ini muncul, adalah tahu cara mengatasinya. Conflict management sangatlah penting pada momen-momen seperti itu. Menjadikan situasi kritis menjadi peluang untuk meraih berbagai hal positif. Tentu, jenis konflik yang kita “manage” bergantung juga pada kemampuan dan pengalaman yang dimiliki. Kalau memang dirasa tidak mampu, atau tidak yakin dapat mengatasi, tak perlu malu untuk meminta pertolongan orang lain.

Conflict management pulalah yang coba dilakukan John Connolly (Joel Edgerton). Sebagai agen FBI yang kariernya sedang menanjak, John melihat peluang besar ketika dia kembali ke kota asalnya. Kesempatan itu bernama James “Whitey” Bulger (Johnny Depp). Tumbuh dan besar di likungan yang sama, hubungan keduanya boleh dibilang cukup akrab – sebelum John menghilang demi membangun karier sebagai agen. Sementara, James terus bertahan di wilayah kelahirannya. Tumbuh menjadi salah satu “penguasa kecil” di wilayah tersebut.

Meski hanya berstatus “penguasa kecil”, James memiliki pengaruh yang cukup besar – juga informasi penting, yang sangat dibutuhkan John untuk semakin melambungkan kariernya. Jerry Angiulo (Bill Haims) menjadi incaran FBI. Mafia Italia ini merupakan sasaran yang sangat licin. Sulit sekali mencari celah untuk mendapat bukti kejahatannya. John pun meminta bantuan kepada James – dengan imbalan “keleluasaan” bagi James untuk mengembangkan bisnisnya.

Dengan payung keamanan yang diberikan John, bisnis yang dimiliki komplotan James pun berkembang dengan luar biasa. Tidak hanya di Selatan Boston (tempat kelahiran mereka), tapi juga ke berbagai negara bagian di Amerika. Dari sekadar “penguasa kecil”, James menjadi “mafia”. Sementara, John pun mendapatkan keuntungan. Meski kasus utama yang diincarnya belum juga menemui titik terang, tapi James memberikan “dukungan” yang begitu besar pada John dan rekannya, John Morris (David Harbour).

James dikenal sebagai orang yang sangat membenci informan. Baginya, informan merupakan orang yang sangat hina dan karenanya patut mendapatkan perlukuan yang sepadan. Melakukan kerja sama dengan John membuatnya berada dalam situasi dilematis. Meski mendapat “perlindungan” dari John, James harus memberikan informasi yang dibutuhkan John – sebagai imbalan atas “perlindungan” yang diberikan. Dalam film, ada beberapa adegan ketika James coba meyakinkan kepada timnya bahwa yang dia lakukan bukanlah tindakan informan. Dan memang, melihat perkembangan situasi (hubungan antara James dan John), James sama sekali tidaklah menjadi pihak yang dikuasai John – bahkan sebaliknya. Meski tumbuh dan besar di jalanan, James menunjukkan kemampuannya dalam mengendalikan situasi. Dia tidak hanya menjadi pemimpin yang hanya tahu kekerasan, tapi juga pandai memanfaatkan situasi untuk kepentingannya.

Seiring waktu, masing-masing pihak semakin mengembangkan kemampuannya. Begitu juga adik James, Billy Bulger (Benedict Cumberbatch), yang terpilih menjadi senator – tapi yang terakhir ini menitis karier tanpa campur tangan James maupun John.

Keadaan terus berjalan. Ibarat bola salju, kumparan kecil yang menggelinding di sebuah bukit akan terus bertambah ukurannya. Bisnis James semakin membesar, “dukungan” yang diberikan kepada John semakin besar, begitu juga tekanan atasan John karena kasus Jerry tidak juga menemui titik terang – sementara pembunuhan dan aksi ilegal komplotan James semakin menjadi-jadi. John berusaha keras menguasai situasi. Dia merasa menjadi “pengendali”. Sementara, pada kenyataannya, yang terjadi tidaklah seperti yang John rencanakan. Teman masa kecil yang awalnya “dimanfaatkan” untuk mendukung karier ternyata tidak hanya tumbuh menjadi penguasa lokal yang hanya mengandalkan “kebringasan”. Yang luput dari perhatian John adalah kemampuan James dalam memanfaatkan segala situasi. Alih-alih dimanfaatkan, James sebenarnya merupakan pihak yang mengendalikan situasi. Dia tahu kapan dan bagaimana untuk memuaskan “hasrat” John. Dia tidak begitu saja memberikan informasi yang sangat diinginkan John dan FBI. Dia tahu kapan saatnya memberikan informasi yang sangat penting – sambil mempersiapkan “triumph” lainnya yang dia simpan sebagai pengendali situasi.

Meski kemudian kerja sama John-James terbongkar (John harus kehilangan karier cemerlang dan mendekam di penjara untuk waktu yang sangat lama, James menjadi buronan, juga untuk waktu yang lama, serta Billy harus melepaskan jabatannya meski dia tidak terlibat dalam kerja sama itu), kemampuan James dalam conflict management bisa menjadi pelajaran yang sangat berharga. Dan bagi teman yang saya bicara di awal, jika membaca tulisan ini, tontonlah film ini. Ada pelajaran yang sangat berharga di film ini. Tidaklah terlarang memelihara anak singa. Asalkan saja kita mengenal peringai dan tahu cara agar “kelebihan” yang dimiliki anak singa tersebut dapat menyumbang hal positif bagi diri kita. 😉

NB: *Senang melihat “tampilan” berbeda dari Cumberbatch, meski enggak terlalu berbeda, sih – tapi setidaknya enggak terlalu “dingin” stereotipe orang Inggris. Hehehe….

Advertisements

2 thoughts on “Conflict Management

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s