Balboa in Compact Package

SouthpawSouthpaw

Sutradara: Antoine Fuqua

Penulis: Kurt Sutter

Pemain: Jake Gyllenhaal, Rachel McAdams, Oona Laurence, Forest Whitaker, 50 Cent, Beau Knapp, Miguel Gomez, dan Dominic Colón

Tiga puluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Itu hampir mencapai usia saya saat ini. Terlebih, untuk ukuran sebuah rangkaian film. Tidak banyak proyek film yang dikerjakan dalam rentang waktu selama itu. Hanya ada beberapa, dan salah satunya adalah Rocky Balboa. Pertama kali muncul pada tahun 1976 (Rocky), rangkaian terakhir proyek ini rilis pada 2006 (Rocky Balboa).

Tidak mengherankan jika kisah kehidupan petinju hebat ini diberi tempat yang istimewa seperti itu. Bagi angkatan ayah saya, mungkin juga kakek saya, atau juga teman-teman saya yang sudah “berusia”, Rocky merupakan sosok yang begitu “hebat”. Dialah idola. Dialah harapan. Dialah manusia yang bisa menjadi inspirasi. Petarung jalanan yang kemudian mendapatkan kesempatan menjadi besar dan bahkan menjadi juara sejati. Kisah perjalanan Balboa adalah harapan akan kehidupan, atau setidaknya kesempatan untuk mendapatkan, yang lebih baik.

Saking legendarisnya ketokohan sosok Rocky, saya ingat ada sebuah permainan di masa kecil yang lirik lagunya menyebutkan nama petinju fiksi ini. “Rocky… Rocky… Rocky jago tinju.” Saya yang bahkan di masa itu belum pernah sekalipun menonton film yang sangat populer tersebut sudah tahu bahwa Rocky adalah petinju. Bahkan, bukan sembarang petinju. Dia adalah legendaris. Lebih legendaris dari Mike Tyson – yang pertandingannya tidak pernah dilewatkan oleh ayah saya.

Seiring waktu, masa pun berubah. Rocky yang begitu legendaris, mungkin, hanya menjadi bagian nostalgia generasi ayah saya. Permanian anak-anak saat ini pun tidak lagi menggunakan lagu seperti yang dulu saya nyanyikan. Tapi, satu hal yang tidak berubah. Manusia tetap membutuhkan sosok idola. Sosok yang dapat menjadi inspirasi. Sosok yang dapat memberikan ketenangan bahwa masih ada harapan. Dan, muncullah sosok baru: Billy Hope (Jake Gyllenhaal).

Menonton Southpaw, saya seperti mengulang perjalanan cerita yang dilalui Rocky Balboa (meski baru berkesempatan menontonnya jauh setelah rangkaian film ini melewati masa keemasan). Seseorang yang berasal dari jalanan, mendapat kesempatan mengembangkan bakatnya, menjadi petinju hebat, mengumpulkan berbagai gelar juara, mengalami masalah besar yang merenggut kejayaannya, bertemu dengan “juru selamat”, meraih kembali kehidupan yang sempat hilang. Hanya saja, alur cerita tersebut disampaikan tidak dalam enam film. Bisa dibilang, Southpaw merupakan compact version dari seri Rocky Balboa. Anda tidak harus bersusah payah pergi ke toko yang menjual koleksi film lama atau duduk di depan layar selama hampir setengah hari. Cukup dengan menyaksikan film berdurasi 126 menit, Anda disuguhkan dengan pengalaman, serta pelajaran, yang sama.

Membosankan? Tidak. Meski menonton di ruang bioskop yang hanya terisi kurang dari 10 orang pada menjelang tengah malam, saya tidak merasa kantuk ketika menonton film ini. Terlebih, Antoine Fuqua mengemas dengan sangat baik.

Kemampuan Fuqua dalam mengemas kisah action-drama memang mengagumkan. Menurut saya, yang berlagak layaknya pengamat film kenamaan, dalam film ini Fuqua berhasil terhindar dari “keterburu-buruan” yang kerap terjadi pada film yang coba mengangkat cerita tentang suatu kejadian yang terjadi dalam durasi yang cukup lama atau begitu banyak hal yang ingin disampaikan. Karena ada begitu banyak hal yang ingin disampaikan, kerap yang terjadi adalahnya penyampaian sekadarnya. Sekadar tampil tanpa coba membuat kesan atau penekanan pada yang ditampilkan. Dan, itu tidak terjadi di film ini.

Fuqua dengan sangat apik mencari celah untuk memasukkan berbagai hal yang ingin dia sampaikan. Misalnya saja mengenai masa lalu Billy. Alih-alih menampilkan flashback, kisah masa lalu sang petinju legendaris cukup ditampilkan saat berpidato di sebuah acara amal. Ringkas, sekaligus multifungsi. Begitu pula dengan berbagai aspek lainnya.

Dan yang terpenting, meski zaman sudah berubah, meski Rocky sekarang telah sibuk bernostalgia dengan sesama rekan sejawat, ada satu hal yang tetap ada: harapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s