Kompetisi Ambisi

Ambisi

Bagi penggemarnya, selalu ada hal menarik dari sepakbola. Bahkan di libur musim panas seperti sekarang, ketika kompetisi belum dimulai, ada saja hal yang menarik perhatian para penggemar olahraga ini. Bagi yang tinggal di negara yang menjadi “rute” persiapan pra-kompetisi klub-klub besar (atau memiliki dana untuk datang ke tempat tersebut), itu merupakan bonus. Tapi, bagi yang tidak, tenang. Ada hal yang tak kalah menarik untuk diikuti.

Seperti musim-musim sebelumnya, transfer pemain menjadi salah satu hal yang tidak pernah luput dari perbincangan. Kejutan demi kejutan, perindahan yang melibatkan dana besar, atau perpindahan yang disertai “kejutan” emosional. Bursa transfer musim panas ini memang jauh dari berakhir. Masih ada sekitar enam minggu lagi. Masih banyak kemungkinan yang akan terjadi. Walau begitu, beberapa tim sudah begitu gencar mendapatkan pemain baru untuk musim kompetisi mendatang – sementara yang lain masih “menunggu waktu yang tepat”. Drama, itu yang disajikan. Bahkan, untuk kali ini, disertai air mata. Lebay? Itu fakta, kok, dan memang sudah sewajarnya. Bayangkan anak yang dibuang oleh orangtuanya. Wajarnya, kan, kalau kemudian sang anak menitikkan air mata.

Seperti yang sudah dibilang, juga seperti musim-musim sebelumnya, kepindahan pemain akan melibatkan uang dalam jumlah besar – meski tidak selalu karena ada saja klub yang mencari keuntungan dari free-transfer –, begitu kali ini. Pemain muda usia 20 tahun yang menjadi pelakunya. Hasil akademi Queens Park Rangers, nama Raheem Sterling mencuat ketika berbaju Liverpool. Dia bahkan berhasil menjadi skuat inti tim nasional Inggris. Di musim ini, sang pemain muda menciptakan rekor termahal yang dibuat Manchester City. Artinya, harganya lebih mahal dari Aguero, Tevez, Balotelli, Toure, atau pemain mahal lainnya yang ada di Manchester Biru.

Soal agresivitas, Manchester City bukanlah yang paling pada bursa transfer kali ini – setidaknya sampai dengan saat ini. Klub ini jauh kalah agresif dibandingkan klub yang ditinggalkan Sterling. Tapi, dari sisi lain, ada satu hal yang membuat transfer yang dilakukan klub ini menjadi perhatian – selain rekor harga Sterling. Sejak akhir musim yang lalu, tanda-tanda kepindahan Sterling memang sudah terlihat – meski belum dapat dipastikan akan ke klub mana. Kontrak baru yang disodorkan Liverpool tak kunjung ditandatangani. Bahkan, terkesan ogah dengan perjanjian yang ditawarkan. Ketika musim libur usai, si pemain pun membuat ulah dengan “beralasan” sakit agar tidak datang ke tempat latihan. Meski kemudian sempat bergabung berlatih dengan pemain-pemain yang lain, tapi beberapa hari kemudian kepindahannya pun terealisasi. Secara kasat, mudah mencari tahu alasannya. Manchester City menyodorkan gaji £200.000 sementara kontrak baru yang disodorkan Liverpool “hanya” £100.000 – walau mungkin alasan sebenarnya hanya si pemain yang tahu.

Yang lebih mencuri perhatian adalah kepindahan Fabian Delph. Sempat “berikrar” kesetiaan pada Aston Villa, bahkan kebanggaannya menjadi kapten tim ini, tidak lebih dari 24 jam kemudian ternyata resmi bergabung dengan Manchester City. Jadi, uang begitu berkuasa?

Pindah ke klub lain demi mendapatkan penghasilan yang lebih besar tentulah bukan hal yang haram. Siapapun melakukan hal seperti itu. Tidak hanya pemain sepakbola. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak yang melakukannya. Penghasilan yang lebih besar berarti kehidupan yang lebih layak (meski belum tentu lebih menyenangkan). Itu bukanlah hal tercela – walaupun saya pribadi sangat menghargai pemain yang mengusung “kesetiaan” di atas kontrak bernilai setinggi langit.

Dalam kasus Sterling dan Delph, mungkin, uang berbicara banyak. Rayuan uang dalam jumlah berlimpah membuat kedua pemain muda tersebut memutuskan untuk pindah. Namun, musim ini, uang tidak selalu berkuasa. Berita kepindahan pemain yang tak kalah mengejutkan adalah Iker Casillas bergabung dengan Porto. Kiper legendaris yang merupakan hasil didikan Real Madird dan seperempat abad mengabdikan dirinya di klub ibukota tersebut “harus” berganti klub. Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang singkat, apalagi untuk karier seorang pesepakbola. Di usia 25, seseorang mungkin saja sudah bergelar dokter.

Dengan iringan air mata ketika menggelar jumpa pers mengenai kepindahannya, Casillas bukanlah mengejar uang dalam jumlah besar. Dia “harus” pindah. Ada keterpaksaan dalam kasusnya. Keterpaksaan yang dibuat oleh klub yang selama 25 tahun dibelanya. Jadi, uang tidak selalu berkuasa ketika seorang pemain berpindah klub.

Namun, melihat transfer yang terjadi pada ketiga pemain tersebut, ada hal yang lebih besar dibanding uang: ambisi. Manchester City berambisi tidak terkena sanksi dari UEFA mengenai batas pemain lokal (mengingat jumlah pemain lokal yang begitu minim di klub ini), selain tentunya harapan agar performa di musim depan dapat lebih baik. Begitu juga dengan Real Madrid.

Performa Iker Casillas memang menjadi sorotan beberapa musim belakangan ini. Sejak ditangani Jose Mourinho, posisi Casillas memang tidaklah aman. Bahkan, pelatih asal Portugal itu “berani” mencadangkan Casillas dan memberikan posisi pada Diego Lopez. Tapi kemudian, ketika Ancelotti datang, Casillas seperti dapat bernapas legas. Diego Lopez “dibuang” ke AC Milan. Dia pun kembali menjadi pilihan utama. Sampai kemudian, musim panas ini, ketika Real Madrid merasa sang kiper tidak lagi dapat membantu ambisi klub. Real Madrid memerlukan kiper baru yang lebih dapat diandalkan – tentunya mengingat kualitas lini pertahanan klub ini yang sebenarnya perlu dipertanyakan. Walhasil, Casillas pun “dipaksa” hengkang.

Bagi klub-klub besar di Eropa, skuad yang dimiliki bukan semata tentang prestasi yang dapat diraih. Bersamanya juga ada unsur bisnis. Kemenangan demi kemenangan yang diraih, yang kemudian membawa gelar juara, berarti menghasilkan pendapatan dalam jumlah besar. Ketika gelar juara didapat, bukan sekadar pendapatan dari penjualan tiket, merchandise, atau hadiah gelar juara yang diperoleh. Nilai kontrak dari pihak sponsor pun dapat ikut melambung bersamanya. Artinya, walau harus mengeluarkan uang dalam jumlah besar untuk mendapatkan pemain hebat dan membentuk tim juara, hasil yang didapat pun sepadan – bahkan lebih besar. Musim lalu, Juventus memang memberi contoh bahwa prestasi dan tim juara tidak harus diraih dengan transfer besar-besaran. Tapi, untuk saat ini, hal seperti itu sepertinya hanya menjadi anomali. Kejadian istimewa yang tidak serta-merta dapat dilakukan oleh semua klub. Lagipula, lihat Juventus saat ini yang harus berusaha sekuat tenaga mempertahankan pemain-pemain utamanya dari godaan uang tim-tim besar lainnya. Bahkan klub dengan sejarah akademi-super-bagus-dan-produktif seperti Barcelona pun sudah mulai mengubah kebijakan transfernya. Kepindahan Pedro pun menjadi salah satu berita hangat belakangan ini. Meski, yang perlu diingat adalah transfer dalam jumlah selangit serta-merta membawa kesuksesan bagi klub yang melakukannya. Ada daftar panjang mengenai pemain-pemain bertarif mahal yang gagal memberikan kontribusi positif bagi timnya.

Advertisements

One thought on “Kompetisi Ambisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s