Kail Dilempar, Umpan Ditebar, Pemancing Mengalun Pulang

Satu lagi buku gratisan. Kali ini, dapat pas datang ke acara jumpa pers Java Jazz ke-11 - yang disisipi acara peluncuran buku ini
Satu lagi buku gratisan. Kali ini, dapat pas datang ke acara jumpa pers Java Jazz ke-11 – yang disisipi acara peluncuran buku ini

100 Tahun Musik Indonesia

Denny Sakrie

GagasMedia, 2015

Siapa yang membayangkan negara yang usianya belum juga mencapai 70 tahun ternyata sudah memiliki tradisi musik lebih dari 1 abad. Musik yang dimaksud di sini, kalau boleh saya menyimpulkan dari yang dimaksud Denny Sakrie dalam buku ini, adalah sebagai industri. Secara spesifik, rekaman.

Pada bagian “Prakata”, Denny menjadikan tahun 1905 sebagai tonggak awal musik Indonesia atas dasar di tahun itulah untuk pertama kali berdiri perusahaan rekaman di negeri ini (saat itu masih berada di bawah penjajahan Belanda). Tio Tek Hong Records merupakan perusahaan rekaman milik Tio Tek Hong. Perusahaan ini berada di Passer Baroe, Batavia (sekarang Jakarta).

Dari penentuan titik awal itu, bolehlah kiranya dipahami jika yang dimaksud “musik” oleh Denny sebagai industri. Rekaman atau perusahaan rekaman yang menjadi titik tolak. (Jika pun demikian yang dimaksud oleh penulis, titik tolak tersebut dapat menjadi pembahasan tersendiri. Saya memang tidak memiliki data yang pasti. Hanya saja, saya yakin industri/bisnis musik sudah ada jauh sebelum tahun ini. Bukankah para pengamen yang keliling kampung atau musisi dadakan yang tampil di acara-acara desa dapat dikatakan sebagai pelaku industri musik? Sesuatu yang masih berlangsung sampai sekarang, bahkan dalam skala jauh lebih besar, dengan label “world tour”.)

Musik lebih dulu lahir di negara ini, bahkan beberapa dekade sebelum negara ini diproklamirkan. Musik, karenanya, sudah selayaknya menjadi bagian yang penting dari negara ini. Seperti slogan yang selalu dikumandangkan Denny, Bangga Musik Indonesia!

Yang Retak dari Gading

Kalau memang aspek industri/bisnis menjadi titik tolak dalam penulisan buku ini, sayangnya saya tidak melihatnya dengan jelas. Dalam buku ini, pada beberapa bagian, memang dijelaskan perkembangan industri musik di Indonesia. Fenomena musik dangdut yang sampai menggoda Ahmad Albar untuk sejenak keluar dari aliran musik yang selama ini diusungnya, begitu pula dengan musisi lain yang ‘atas permintaan’ perusahaan rekaman beramai-ramai meluncurkan album musik dangdut.

Namun, pembahasan-pembahasan itu berlalu dengan begitu cepat. Sungai dengan arus yang sangat deras. Begitu cepat mengalir sampai-sampai begitu sulit untuk memperhatikan gerak air.

Fase demi fase, fenomena demi fenomena, masa demi masa, semua berlalu dengan cepat. Memang, waktu terkadang terasa begitu cepat. Hanya saja, seratus tahun tidaklah sependek 169 halaman (termasuk tiga halaman pengantar). Ada begitu banyak yang terjadi dalam 100 tahun. Terlebih, musik di negara ini sangat dinamis. Setiap masa memiliki ciri dan fenomenanya sendiri, yang membedakannya dengan masa-masa lainnya.

Catatan-catatan yang terangkum di buku ini terasa begitu tergesa. Seperti maniak yang hanya ingin segera ejakulasi, tidak mencoba mengekplorasi rasa, napas, desah, gerak, hembusan, tatapan, dan segalanya selama proses sedang berlangsung. Maju-mundur, maju-mundur, dorong-tarik, dorong-tarik… ah… selesai. Begitu saja. Sensasi yang terjadi sekadar hembusan napas panjang tak kurang dari 5 detik. Setelahnya, hanya sebagian kejadian yang terlupakan.

Sebagai bagian dari manusia yang tumbuh dan mengenal dunia di masa 1990-an, saya terkejut ketika mendapati pembahasan mengenai musik pada era tersebut hanya mendapat porsi delapan halaman (bab terpendek yang ada di buku ini, dengan mengesampingkan “Prakata” dan “Penutup”). Di dalam bab ini, tiga hal yang mendapat perhatian: gerakan independen (indie), Slank, dan Diva.

Jujur saja, saya bukanlah orang yang punya perhatian besar terhadap musik, terutama musik Indonesia. Saya hanya mendengarkan musik di kala membutuhkannya atau tersedia fasilitas untuk melakukan itu. Saya bukan orang yang begitu tergila-gila pada musik, memujanya, bahkan merasa tidak bisa hidup tanpanya. Walau begitu, bukan berarti saya sama sekali tidak memberi perhatian pada bidang ini.

Bicara tentang industri musik pada 1990-an, ada beberapa hal yang menurut saya perlu mendapat perhatian khusus.

Sepanjang sejarah negara ini, dekade 1990-an merupakan masa tersubur lahirnya televisi swasta nasional. Hadirnya stasiun televisi tersebut, baik langsung maupun tidak, memberikan dampak pada industri musik. TVRI tidak lagi menjadi satu-satunya sarana para musisi untuk tampil di layar kaca. Belum lagi hadirnya acara-acara musik yang menampilkan video klip terbaru, baik dari musisi Indonesia maupun mancanegara.

Bicara mengenai acara musik di televisi, 1990-an merupakan generasinya MTV (Music Television). Stasiun televisi asal Amerika Serikat yang khusus menayangkan berbagai program tentang musik ini mulai masuk ke Indonesia (melalui stasiun televisi swasta nasional) pada dekade ini. Menarik tentunya melihat perubahan yang terjadi di dunia musik tanah air setelah masuknya program-program acara stasiun televisi asing ini.

Dari aspek lain, dekade ini juga diramaikan dengan berkembangnya berbagai aliran musik. Musisi yang mengusung gerakan indie bukanlah satu-satunya fenomena yang terjadi pada 1990-an. Kehadiran Iwa K yang kemudian disusul dengan Denada memberikan warna tersendiri pada musik Indonesia saat itu. Bagaimana dengan Type-X dan kawan-kawan yang membuat generasi muda Indonesia asyik ber-pogo ria?

Kail telah Dilemparkan

“Jangan beri ikan, tapi berikanlah kail”. Kira-kira seperti itulah salah satu bunyi peribahasa yang sering kita dengar. Maksudnya, jika ingin membantu, jangan berikan sesuatu yang akan habis dalam sekali proses tapi berikanlah sesuatu yang dengannya seseorang diharuskan berusaha namun akan mendapatkan hasil yang berangsur-angsur. (Ribet, ya, penjelasannya? Maaf, deh, tapi ngerti, kan, maksudnya?)

Saya tidak tahu kapan Denny mulai mengerjakan tulisan-tulisan yang kemudian dikumpulkan dalam buku ini. Berdasar penjelasan yang terdapat di bagian “Prakata”, Denny tidak punya cukup waktu untuk “menyatukan kepingan-kepingan sejarah yang beragam tentang peristiwa musik di Indonesia”. Berbagai kesibukan yang dijalani serta berlimpahnya data yang tersedia menjadi keterbatasan yang membatasi gerak dalam proses penyusunan buku ini.

Sebagai pembaca, di satu sisi saya melihat ada begitu banyak kekurangan dari buku ini. Alur yang mengalir begitu deras sehingga menghapus detail-detail penting salah satunya. Tentu, masih ada kekurangan-kekurangan lainnya yang tidak saya utarakan di sini.

Namun, coba memandangnya dari sisi lain, yang dilakukan Denny melalui buku ini merupakan sesuatu yang luar biasa. Denny bukan sekadar spesies manusia unik yang menaruh perhatian begitu besar pada musik tanah air, tapi juga manusia bijak yang meninggalkan kail sebelum kembali ke pangkuan Ilahi.

Ada banyak detail yang terlewatkan. Ada banyak peristiwa yang luput. Ada banyak kejadian yang belum terungkap. Ada banyak hal yang penting untuk dibahas. Semuanya tentang musik Indonesia, dan semuanya tidak ada di buku ini. Yang menjadi pertanyaan: akan ada di buku siapakah semua itu?

Itu kail yang ditinggalkan Denny melalui buku ini. Sang pengamat sudah pergi. Dia tidak meninggalkan catatan super lengkap tentang dunia yang digeluti selama masa hidupnya. Dia hanya memberi catatan-catatan singkat. Semacam kerangka, yang masih harus dikembangkan oleh siapapun yang menerima kerangka karangan tersebut.

Kail sudah dilempar, umpan pun telah ditebar, tinggal siapa yang akan menyantapnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s