Tentang Wisatawan

DPP_00003

Minggu tentang wisata. Bukan karena minggu ini disibukkan berwisata (andai saja begitu). Seperti biasa, minggu ini, hari-hari berlalu dengan rutinitas harian. Rumah, kantor, pekerjaan yang menanti, dan sebagainya. Yang kemudian saya sadari, di antara rutinitas yang dijalani, ternyata saya beberapa kali menjalani aktivitas yang berhubungan dengan wisata. Bertemu dengan sepasang penggerak komunitas wisata, datang ke acara pameran pariwisata, dan membaca beberapa artikel tentang pariwisata.

Di antara beberapa kegiatan tersebut, satu hal yang menarik perhatian saya. Mengenai perilaku wisatawan domestik. Tidak semua, tapi kecenderungan yang dimiliki sebagian di antara mereka.

Berwisata dapat dikatakan menjadi kebutuhan penting bagi sebagian masyarakat Indonesia – khususnya dari golongan ekonomi menengah-atas. Dalam periode waktu tertentu, banyak yang menjadikan berwisata sebagai kegiatan yang wajib dilakukan.

Tidak heran. Kondisi perekonomian yang membaik (untuk mereka tentunya) dan tingkat stres yang meninggi menjadikan berwisata merupakan salah satu kegiatan yang sangat digemari. Tak heran jika kemudian berbagai aspek yang berhubungan dengan pariwisata pun tumbuh. Komunitas wisata, agen wisata, situs wisata, paket wisata, pameran pariwisata, dan lainnya.

Meski sudah menjadi kebutuhan yang penting, bukan berarti orang-orang yang gemar berwisata melakukannya tanpa tanpa “trik”. Menekan biaya serendah mungkin salah satunya. Untuk melakukannya, ada berbagai cara yang dilakukan. Ikut dalam komunitas agar dapat sharing cost perjalanan dan mencari tiket promo merupakan solusi yang biasa dipilih. Apapun itu, selama tidak melanggar hukum, tidaklah masalah.

Yang menarik perhatian saya adalah orang-orang yang berburu tiket promo untuk menunjang hobi mereka berwisata. Tidak ada yang salah dengan hal ini. Datang ke pameran pariwisata, mengelilingi stan-stan yang ada, dan mencari harga terbaik yang ditawarkan. Itu lumrah. Potongan harga yang cukup besar, fasilitas mencicil dengan bunga 0%, dan berbagai benefit lain yang ditawarkan terlalu sayang untuk dilewatkan. Tidak heran jika kemudian acara pameran pariwisata selalu ramai dikunjungi.

Yang menjadi masalah ada ketika perburuan itu dilakukan tanpa perencanaan. Itu terjadi. Dan, sepertinya sudah menjadi fenomena. Pasangan yang membetuk komunitas wisata dan pengusaha event organizer yang menyelenggarakan pameran wisata mengakui adanya fenomena tersebut. Orang-orang datang berkunjung ke pameran wisata, mencari-cari penawaran terbaik yang sesuai dengan bujet mereka, sayangnya tanpa disertai persiapan yang matang.

Persiapan matang yang dimaksud di sini adalah perencanaan soal wisata yang akan dilakukan. Tempat yang akan dituju, keterangan tentang tempat tersebut, destinasi yang dapat dikunjungi di daerah itu, fasilitas yang tersedia, transportasi dan akomodasi yang tersedia, dan lainnya.

Yang perlu diingat, tiket promo bukanlah hal utama yang akan membuat suatu perjalanan wisata terasa menyenangkan. Mencari informasi dan membekali diri dengan persiapan yang cukup sangat penting untuk menunjang wisata yang sempurna. Sayangnya, sebagian orang luput melakukannya.

Datang ke pameran pariwisata, menyambangi setiap stan yang ada, bertanya-tanya tentang paket yang ditawarkan, dan mencari harga terbaik yang dapat dijangkau. Kalau ternyata paket terbaik yang bisa didapatkan adalah perjalanan ke Kupang, ya ke sanalah perginya berwisata. Kalau ternyata Bangkok, Hong Kong, China, atau lainnya, ya ke sanalah pergi menuju.

Sebenarnya, kalaupun memang itu yang terjadi, ada cukup waktu tersedia antara membeli tiket promo hingga akhirnya berangkat berwisata. Waktu yang dapat digunakan untuk melakukan persiapan yang baik. Lagipula, di saat ini, informasi apa yang tidak terdapat di internet? Hanya perlu membuka Mbah Google, mengetikkan kata kunci yang dicari, dan voila… yang dicari pun segera muncul. Sayangnya, sekali lagi, itu terlalu berat dilakukan oleh sebagian orang.

Makanya, tidak heran jika kemudian ada wisatawan yang kebingungan ketika tiba di tempat tujuan. Mentok-mentok, waktu liburan dihabiskan di dalam kamar hotel (kalau hotelnya nyaman) atau berenang di kolam renang hotel (jika tersedia). Padahal, di daerah yang mereka datangi ada begitu banyak destinasi menarik yang dapat dikunjungi.

Atau, karena minim informasi, mereka datang di saat yang salah. Bayangkan datang ke pantai di musim hujan atau ingin menyelam di musim ombak tinggi. Apakah itu sesuatu yang menyenangkan? Tapi, jika “out of the box” menjadi prinsip mati Anda, silakan saja melakukannya.

Sedih? Sangat. Miris? Ya, iyalah. Tragis. He eh. Tapi, itulah kenyataan yang dialami oleh sebagian orang. Tapi, jika ditanya apakah mereka akan kapok? Jawabannya tidak. Setiap kali ada pameran pariwisata, mereka akan bersemangat datang untuk kembali mencari tiket promo dan mengulangi pengalaman wisata yang hampir sama.

Fenomena lain yang terjadi adalah berkunjung ke suatu tempat bukan karena tertarik pada tempat tersebut (baik itu karena keindahan panorama, budaya, masyarakat, seni, sejarah, atau lainnya), tapi karena “teman-teman udah pada ke sana, masa gw ga ke sana, sih?”

Orang-orang jenis ini yang memiliki kecenderungan lebih tinggi untuk tidak melakukan persiapan yang cukup sebelum berwisata. Bahkan ketika sampai di tempat tujuan, mereka tidak berusaha menikmati pengalaman yang disajikan. Pernah berada di daerah tersebut sudah cukup untuk menunjukkan eksitensinya (biasanya diwakili foto-foto diri yang diunggah di akun media sosial).

Ketika pariwisata Indonesia sedang berusaha memperbaiki diri, keberadaan orang-orang seperti itu sayang disayangkan. Hmmm….

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s