Ahistori

DPP_00011

Sendal Jepit: Kisah Metamorfosis

Slamet Riyadi

 

Belakangan ini saya sering kali kehilangan fokus. Beberapa kali membuat orang yang mengobrol dengan saya menjadi bingung, terutama ketika mengobrol di aplikasi media sosial. Penyebabnya pesan yang saya kirim. Karena sering kali salah membaca pesan yang masuk, balasan yang saya kirim pun membuat bingung lawan bicara. Bahkan, saya pernah sampai salah mengirim pesan. Bermaksud mengirim pesan ke A, saya malah mengirim ke C. Hahahaha…. Dan itu pula yang terjadi kemarin sore.

Merasa butuh bahan bacaan, saya pun masuk ke sebuah toko buku. Berjalan mengelilingi rak-rak buku, saya akhirnya membeli dua buah buku. Buku yang pertama saya beli ada sebuah novel. “Ah… Slamet Rahadjo nulis novel,” pikir saya ketika melihat sebuah buku yang terpajang. Slamet Rahadjo, yang biasanya berkarya di bidang sinema, kini menulis novel. Menarik juga. Sementara, yang kedua adalah karya terjemahan sastrawan India.

Ketika sampai rumah, seperti yang biasa saya lakukan sehabis membeli buku, saya membubuhkan keterangan di halaman pertama buku. Ketika itu, saya baru sadar kalau ternyata novel yang saya beli bukanlah karya Slamet Rahadjo, melainkan Slamet Riyadi. Agak kecewa, bercampur rasa bodoh. Tapi, Slamet Riyadi…. Pahlawan Solo. Hmmm…. Kota itu…. hahahaha…. Okay, skip. Ibarat pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Rekening di bank sudah berubah menjadi buku. Tak perlu menyesal apalagi menyia-nyiakan yang sudah dibeli. Novel itu pun saya baca di malam harinya.

Hal pertama yang muncul di kepala saya ketika mulai membaca novel ini adalah “hmmm… kok kayaknya berambisi mau jadi Laskar Pelangi ya?” Entah benar atau tidak, entah memang dimaksudkan seperti itu atau hanya ketidaksengajaan, tapi itulah yang ada di kepala saya.

Novel ini mengisahkan perjalanan seorang tokoh bernama Slamet Riyadi. Tokoh ini berasal dari keluarga sederhana yang tinggal di kawasan Pasar Manggarai. Ibunya menjual makanan (sering kali berganti jenis makanan yang dijual), sementara ayahnya membuka bengkel. Hidup di keluarga sederhana, Didi (begitu tokoh ini akrab disapa) harus menghadapi berbagai kesulitan, terutama dalam hal finansial. Satu hal yang menjadi cita-citanya semenjak kecil adalah berkuliah di Universitas Indonesia (UI). Cerita pun dimulai dengan narasi pengalaman hari pertama masa orientasi mahasiswa baru di UI.

Tinggal di lingkungan yang keras, dan tekanan ekonomi yang harus dihadapi, membuat Didi kemudian menjadi remaja yang “bermasalah”. Tawuran, narkotika, pencurian, dan berbagai kenakalan menjadi bagian dari kehidupannya. Tapi, Didi merupakan golongan manusia yang beruntung. Kelompok yang diberi pengingat dan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan.

Seiring waktu, berbagai kejadian membuatnya sadar atas keburukan yang telah dilakukan. Perlahan, Didi mengubah dirinya menjadi pribadi yang 1800 berbeda dari yang selama ini dikenal. Energi tambahan yang biasa dia gunakan untuk tawuran diubah penyaluran dengan aktif di OSIS. Sederhananya, preman sekolah berubah menjadi siswa teladan di sekolah.

Lulus dengan nilai yang baik, Didi harus mengubur mimpinya berkuliah di UI. Lagi-lagi permasalah finansial yang menjadi penyebab. Tetapi, Didi bukan orang yang mudah menyerah dan mengubur mimpi. Meski menjalani waktu dengan berjualan, bekerja, dan sempat berkuliah di universitas swasta, Didi akhirnya menjadi mahasiswa UI. Anak pasar yang hidup di keluarga sederhana dengan lingkungan yang keras itu menjadi mahasiswa UI.

Berhasil mewujudkan cita-cita bukan berarti kemudian Didi hidup di surga. Yang dia tapaki adalah bumi. Yang dijalani adalah kenyataan. Finansial masih tetap menjadi masalah besar yang selalu membelenggu. Beruntung, penolong selalu datang di kehidupannya. Bahkan, gadis yang ditemuinya ketika masa orientasi yang kemudian menjadi kekasih memberikan bantuan yang sangat besar sepanjang Didi berkuliah di UI. Selesai dari UI, Didi mendapat beasiswa untuk belajar di Macau. Kini, Didi sedang menjalani kuliah S2 di UI.

“Kini? Maksudnya, apa tokoh Didi benar-benar ada?”

“Iya. Didi yang menjadi tokoh utama dalam novel ini adalah si penulis.”

“Jadi, ini semacam biografi? Eh, autobiografi?”

“Seharusnya, setidaknya jika merujuk pada pengertian autobiografi.”

“Terus, kok, disebut novel?”

“Wah, itu yang menjadi misteri. Mungkin ada baiknya menanyakan kepada penulis, editor, atau penerbit buku ini.”

“Mungkin nggak pe de?”

“Nggak pe de gimana?”

“Biasanya, kan, yang nulis biografi atau autobiografi adalah pahlawan, pengusaha, pejabat, atau orang-orang yang meraih kesuksesan dalam hidupnya. Mungkin dia nggak pe de mengklaim buku ini sebagai autobiografi karena merasa belum mencapai kesuksesan yang seperti itu.”

“Mungkin. Tapi, toh, sebenarnya dia itu termasuk orang yang sukses. Dia berhasil mewujudkan cita-citanya kuliah di UI. Lagipula, apa harus selalu kisah orang sukses yang menarik diceritakan? Bukankah kisah kesulitan orang-orang yang tidak beruntung menjadi “jualan” stasiun televisi yang selalu menjual drama dan air mata?”

“Hmmm…. balik lagi aja, deh, ke soal buku.”

“Okay. Balik ke buku.”

Mari tinggalkan soal misteri alasan buku ini disebut novel. Beranjak ke hal berikutnya, saya merasa ada beberapa hal yang mengganjal. Yang pertama adalah peluang yang dimiliki oleh buku ini, yang sayangnya tidak dimanfaatkan dengan baik atau maksimal.

Mengisahkan perjalanan seorang manusia dari masa SMP hingga kuliah dan akhirnya mendapat beasiswa ke luar negeri, ada fase yang cukup panjang yang diceritakan dalam buku ini. Setidaknya hampir 20 tahun kurun waktu yang dirangkum dalam buku ini. Kurun yang tidak sebentar, dan tentu ada banyak hal yang terjadi di dalamnya. Salah satunya, mungkin momen penting yang terjadi dalam perjalanan tokoh di buku ini adalah gejolak yang terjadi di Indonesia pada tahun 1997-1998.

Situasi itu menjadi bagian dari kisah yang diceritakan di buku ini. Hanya menjadi bagian, tanpa mendapat perhatian khusus. Sebagai anak yang tinggal di lingkungan yang keras, saya membayangkan ada kejadian yang sangat menarik ketika gejolak itu berlangsung. Tidak hanya berpapasan dengan orang-orang yang membawa barang jarahan lalu menonton televisi dan mengetahui kondisi Jakarta saat itu. Ada peluang untuk melakukan yang lebih dari itu. Lagipula, tokoh ini tinggal di pusat kota. Di tengah ketegangan yang sedang terjadi. Banyak hal yang bisa ditulis. Banyak yang dapat dikisahkan. Terlebih, jika memang benar tokoh dalam buku ini adalah penulis, sebagai lulusan Jurusan Sejarah, tentu hal-hal seperti itu merupakan magnet dengan daya tarik yang sangat kuat. Peristiwa yang tidak hanya menjadi bagian, tapi mendapat perhatian khusus.

Bicara soal latar belakang pendidikan penulis, sayangnya hal yang berbau sejarah luput dari perhatiannya. Banyak hal kecil, yang mungkin menarik diungkap, terlewatkan begitu saja. Ya kalau yang besar saja dibuat sekadar ada, yang kecil akan menjadi hal yang tak terpikirkan.

Hal lain yang mengganjal adalah kemunculan yang tiba-tiba judgement terhadap moral. Sedari awal, bahkan ketika menceritakan kondisi lingkungan sampai akhirnya dia menjadi bagian darinya, tidak ada judgement yang diberikan. Sang tokoh hanya menceritakan. Kalau pun ada opini, itu keluar dari mulut tokoh lain. Tapi pada suatu bagian, tokoh ini tiba-tiba menjadi seperti pemuka agama atau orang bijak yang penuh kebajikan dan berhak melakukan penghakiman. Jujur, itu sangat mengganggu.

Namun, yang sampai sekarang masih mengganggu pikiran saya adalah hubungan Didi dengan kekasihnya sewaktu di kampus. Dinda, itu namanya. Setelah berangkat ke Macau, cerita tentang Dinda dapat dibilang menghilang. Padahal, Dinda menjadi salah satu tokoh yang sangat penting ketika dia menjalani kuliah. Pembahasan soal Dinda hanya muncul ketika Didi hendak pergi ke warnet dan ingin mengirim email ke Dinda. Kangen, begitu alasannya. Setelah membuka email, dia membaca pesan yang dikirim seorang dosen tentang kelas yang dapat diikuti selama berada di Macau. Soal Dinda, yang menjadi alasan utamanya pergi ke warnet, tidak ada. Hmmm…. kasihan, ya, Dinda. Padahal sepertinya orang yang sangat baik.

*Buku ini diterbitkan tahun 2012. Jadi, mungkin saat ini penulisnya sudah lulus dari program S2.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s