Lubang Hitam Rahasia Enigma

Cover

Di antara sekian banyak film yang sedang menjadi pembicaraan, dua di antaranya adalah The Imitation Game dan The Theory of Everything. Ada begitu banyak kesamaan di antara keduanya. Yang pertama, ya itu tadi, sedang ramai dibicarakan. Kedua, mengikuti perkembangan tren dunia perfilman saat ini. Cari cerita dari buku yang laris atau tokoh terkenal, buat skenario, dan mulai proses syuting hingga kemudian menjadi film. Lalu, keduanya pun mengangkat kisah hidup ilmuwan terbaik di masanya.

Keduanya semakin menarik ketika tidak hanya menjadi bahan pembicaraan di antara penggemar film. Setidaknya dari tiga kompetisi perfilman, kedua film tersebut bersaing di 13 kategori: BAFTA (6 kategori), Golden Globe (3 kategori), dan Oscar (4 kategori). Ini bukan tentang siapa di antara Hawking dan Turing yang membuat penemuan lebih baik. Ini bukan lagi tentang pembahasan rumus-rumus super-njelimet yang tidak mudah dipahami khalayak. Ini tentang film. Rumus-rumus super-njelimet itu menjadi bagian darinya. Menjadi pelengkap dari kisah hidup tokoh yang perjalanannya direkam dalam sinema.

Yang perlu diingat, walau bicara tentang film, ini bukan tentang penghakiman. Yang diungkapkan di sini hanya opini seseorang. Toh semua orang, asalkan dilandasi argumen yang dapat dipertanggungjawabkan, boleh mengungkapkan pendapat.

Sebenarnya, sebagai mantan anggota IPS (Ikatan Pelajar Santai), film dengan tema “serius” seperti ini menjadi sesuatu yang dihindari. Hawking dan Turing bukanlah lahapan bagi anggota IPS. Mereka adalah “dewa” bagi IPA (Ikatan Pelajar Asosial). Namun, sebagai pecinta film-film hasil unduhan dan sebagai upaya untuk membuat diri mengikuti perkembangan tren, jadilah saya menonton kedunya. Toh, setelah menonton keduanya, penjelasan super-njelimet, menurut saya, hanya menjadi bagian penghias yang berfungsi menjelaskan njelimet-nya otak kedua ilmuwan tersebut – tanpa berpengaruh besar pada jalannya cerita. Makanya, saya tidak memiliki masalah dalam memahami kedua film tersebut.

Robot vs Manusia

Mungkin sudah menjadi stereotip (atau sebuah keharusan) para dewa IPA bahwa kehidupan mereka tidak akan jauh dari yang namanya mesin atau robot. Setidaknya, begitulah yang terjadi di kedua film ini. Setelah terserang penyakit yang melemahkan tubuhnya, Hawking harus bergantung pada orang sekitar, kursi roda, kursi roda elektrik, sampai mesin yang dapat berbicara (meski dengan aksen Amerika). Sementara, Turing mewujudkan cinta sejatinya di masa kecil menjadi bentuk baru – sebuah mesin yang membantu pasukan Sekutu mengalahkan Jerman. Mesin dan pikiran super-njelimet sepertinya menjadi suatu rangkaian yang tidak terpisahkan. Namun, apakah kemudian menjadikan orang yang berada di garis rangkaian itu kehilangan kemanusiannya?

Jawabannya bisa iya dan tidak.

Iya jika yang menjadi dasar adalah Turing. Pengabdian terhadap ilmu pengetahuan ditambah trauma terhadap kekerasan di masa lalu dan kehilangan cinta sejati membuatnya menjadi sosok yang dingin, arogan, diktator, asosial. Manusia yang hanya dalam keadaan paling terdesak saja mau meminta bantuan atau berhubungan dengan orang lain. Selebihnya, kehidupannya adalah tentang ambisi mengalahkan sistem yang dibuat Jerman (Enigma). Ambisi yang dia wujudkan dalam bentuk sebuah mesin – yang kemudian diberi nama seperti cinta sejatinya di masa lalu.

Di film ini, saya melihat sosok ilmuwan yang kehilangan rasa kemanusiaannya. Ada memang rasa “ketergantungan” pada Clarke, yang dibumbui perhatian khusus. Tapi, itu tidak lebih atas dasar kebutuhannya mewujudkan ambisi mengalahkan Enigma. Dari semua orang yang ada di tim, Clarke menjadi orang yang sangat dipercayai dan diyakini paling sanggup membantunya memecahkan misteri Enigma. Karenanya, Turing berusaha melakukan apapun demi memastikan Clarke berada di timnya – bahkan melamarnya. Sayang, ini bukanlah kisah Jerry Maguire. “Kebutuhan” itu tidak berujung pada rasa cinta.

Bagi Turing, hanya ada satu cinta. Dan ketika cinta itu mati, tidak ada yang dapat menggantikannya, tidak dapat diberikan pada orang baru. Yang mungkin bisa dilakukan hanyalah menciptakan sesuatu yang disebutnya “cinta” – meski itu berwujud sebuah mesin yang tidak dapat berkata.

Kehidupan Turing adalah kehidupan yang penuh dengan kesepian dan kesendirian. Tinggal di apartemen sederhana, hanya berteman mesin yang disembunyikan dari dunia luar. Kehidupan yang jauh dari ingat bingar kehidupan. Pahlawan yang tidak pernah dikenal atau dielu-elukan atas keberhasil yang telah dibuat.

Sementara, tidak jika yang menjadi dasar adalah Hawking. Ini mungkin terdengar agar tragis. Bagaimana mungkin orang yang sejak di usia mudanya sudah sangat bergantung pada mesin tapi tidak menjadikan dirinya ikut larut dalam garis yang menghilangkan kemanusiaannya? Tapi, itulah yang terjadi – setidaknya yang digambarkan dalam The Theory of Everything.

Beberapa hal yang mungkin langsung terngiang ketika berbicara tentang Hawking: lubang hitam, genius, kursi roda, dan mesin yang berbicara. Lihat penampilan Hawking. Seorang manusia lemah yang tergeletak di kursi roda, yang tidak mampu berbicara, yang membutuhkan mesin agar pikirannya tersampaikan ke orang lain. Manusia yang setiap saat sangat bergantung pada mesin.

Namun, Hawking adalah Hawking. Sosok yang senang berkelakar. Tentang apapun – bahkan tentang penyakit berbahaya yang menyerangnya.

Hawking bukanlah dewa. Dia hanya manusia biasa. Manusia yang jatuh cinta, manusia putus asa ketika penyakit berbahaya hampir merebut mimpinya, manusia yang kehilangan kepercayaan diri, manusia yang mampu bangkit dari keterpurukan, manusia yang memaafkan, manusia yang jatuh cinta untuk ke sekian kalinya.

Di sinilah perbedaan besar yang saya lihat di antara film The Imitation Game dan The Theory of Everything. Kedua tokoh yang diangkat kisah hidupnya sangat jauh dari kehidupan saya – bahkan saya belum terlahir di zaman mereka. Tapi,yang saya bahas di sini adalah pemunculan sosok kedua ilmuwan di kedua film tersebut. Turing seperti sosok yang kehilangan kemanusiaanya, yang dikuasi ambisi dan dipenuhi dendam masa silam. Sementara, Hawking menjadi sosok yang sangat manusiawi. Di balik pemikirannya yang super-njelimet, Hawking merupakan sosok yang menyenangkan. Manusia yang punya selera humor. Manusia yang selalu menjaga kemanusiaannya meski setiap saat harus bergantung pada mesin.

Memang, ada satu kesempatan Turing menunjukkan perubahan. Setelah dinasihati Clarke untuk menjaga hubungan dengan orang lain, Turing kemudian membelikan apel untuk semua anggota tim dan menceritakan sebuah kelakar. Tapi, hanya satu kali. Setelahnya, dia kembali menjadi sosok semula. Sosok yang menjadi bingung ketika mendengar Alexander berkelakar – sementara semua orang yang mendengar kelakar itu tertawa terbahak-bahak.

Bicara tentang kemungkinan, apapun mungkin terjadi di dunia ini – termasuk adanya manusia yang mencabut kemanusiaannya dan menjadi robot di dalam bentuk manusia. Itu mungkin saja. Tapi, maaf, ketika kisah manusia seperti itu diangkat ke media sinema, sepertinya menjadi sesuatu yang kurang menarik. Karya yang “sepertinya-kehilangan-sesuatu-hal-kecil-yang-mungkin-tidak-terlalu-penting-tapi-memberi-perubahan-terhadap-suasana-dan-pengalaman-ketika-menontonnya”. Atau, ini mungkin karena saya merupakan mantan anggota IPS. Golongan orang-orang yang selalu berusaha santai, menikmati, meski di tengah kondisi yang sangat stres, yang tetap tertawa meski sedang menghadapi konflik serius.

Sedikit rasa Amerika sepertinya bisa membuat orang Inggris menjadi lebih santai. Lebih bisa berkelakar, meski ada kemungkinan untuk berselingkuh – jatuh cinta pada orang lain di saat masih terikat perkawinan. Tapi, bukankah setiap pilihan pasti ada konsekuensinya? Saya memilih menjadi manusia.

Advertisements

3 thoughts on “Lubang Hitam Rahasia Enigma

  1. Turing kehilangan sisi kemanusiaannya? Penuh ambisi dan dendam? Tidak demikian sih menurut saya. Sejak kecil dia sudah menyadari bahwa dia spesial, berbeda dari yang lainnya, dan kondisi serta kebijakan masa itu yang membuat dia menjadi orang yang asosial. Karena ketika dia menjadi orang yang senang bersosialisasi, dia harus membuka dirinya, yang mana hal itu akan menjadi “jebakan” baginya. Lihat saja apa yang dia alami saat publik tahu bahwa dia adalah seorang homoseksual.

    Dia adalah korban, dan kurasa gak adil kalau dirimu menyimpulkan bahwa dia kehilangan sisi kemanusiaannya. Yang kehilangan sisi kemanusiaannya adalah pemerintah saat itu yang mengeluarkan kebijakan yang sangat tidak manusiawi untuk Turing.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s