Hmmm… mmm… mmmhhh… Bis… a… bicara… se… suuu… a… tuuu….???

The Little Death    

2014

Sutradara: Josh Lawson

Penulis: Josh Lawson

Pemain: Bojana Novakovic, Josh Lawson, Damon Herriman, Ben Lawson, Lachy Hulme, Lisa McCune, Patrick Brammall, Tasneem Roc, Kate Mulvany, Stephanie May, T.J. Power, dan Kate Box

Little Death

Hmmm… maaf sebelumnya. Maaf jika saya terdengar kurang sopan. Ah, bukan kurang, tapi tidak sopan. Sangat tidak sopan. Maaf… maaf… maafkan. Saya benar-benar meminta maaf karena telah begitu berani, begitu lancang membicarakan hal ini. Ah… tidak. Tidak. Seharusnya saya tidak membicarakan hal ini. Tidak. Ini tidak boleh. Maaf. Maafkan karena telah mengganggu.

Tapi… tapi saya perlu bicara. Bolehkah saya bicara? Bolehkah saya bicara sesuatu yang… ini mungkin tidak nyaman bagi Anda. Saya tahu. Saya tahu ini akan membuat Anda tidak nyaman. Maafkan saya. Tapi, untuk kali ini. Hanya kali ini, sekali saja, saya ingin bicara. Saya perlu bicara tentang ini.

Hmmm… toh, lagipula Anda sudah dewasa. Iya, kan? Anda sudah dewasa. Saya tahu itu. Jadi, semoga Anda tidak keberatan dengan yang saya ingin bicarakan.

Kita sama-sama orang dewasa, kan? Jadi, ini pembicaraan di antara dua orang dewasa. Begitu?

Ah, tidak. Saya tahu. Saya mengerti. Saya tidak bermaksud membuat Anda merasa tidak nyaman. Saya hanya ingin memastikan bahwa kita sama-sama sudah dewasa. Dua orang dewasa yang membicarakan masalah dewa… sa…. Ah, semoga Anda sudah mengerti maksud saya.

Tidak. Saya tidak bermaksud mengajak Anda melakukan yang tidak baik. Tidak. Mohon pahami. Mohon mengerti. Mohon dengarkan dulu yang ingin saya utarakan. Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan. Dengarkan dulu. Nanti, jika Anda mau berkomentar, silakan. Saya akan balik mendengarkan. Tapi kini, izinkan saya berbicara dulu.

Hmmm…. sebenarnya… hmmm…. Bagaimana, ya…? Sebenarnya ini… mungkin ini masalah yang sederhana. Sangat sederhana. Ya, sangat amat sungguh sederhana sekali. Ini masalah yang sangat manusiawi. Amat manusiawi. Jadi, saya pikir wajar saja untuk membicarakan masalah ini karena toh kita sama-sama manusia dan tentu kita mengalami masalah ini. Ah, tentu tidak sama persis. Setiap orang memiliki masalahnya masing-masing. Tapi… tapi… dalam payung besarnya, semua masalah itu sama. Topik besarnya sama. Topiknya tentang…. duh…. bagaimana menyebutnya. Hmmm…. Sebentar. Ini sebenarnya tentang… hhhmmm… ssss… eeee… kkkkkkk… ssssssssssss…. Fiuh….!!! Anda mengerti sekarang?

Hahaha… tak apa. Saya paham kalau Anda tidak mengerti, wong saya juga belum bercerita tentang apapun. Tapi, saya sudah melewati bagian yang paling berat. Iya. Bagian itu sudah saya lewati. Kata itu sudah saya sebut, meski mungkin tidak terlalu jelas terdengar di telinga Anda. Tapi… tapi saya yakin Anda tahu kata yang saya maksud.

Jangan. Jangan minta saya mengucap ulang kata itu. Jangan!

Kenapa? Ah… Anda sedang menguji saya? Anda tahu, meski hanya terangkai dari empat huruf, kata itu punya sesuatu yang sangat panjang. Sesuatu yang sangat besar, begitu berat, begitu….

Empat huruf. Hanya empat huruf. Dalam satu detik, dalam kondisi normal, saya dapat mengucap beberapa kata. Dengan jelas. Dengan intonasi yang tepat yang membuat orang yang mendengarnya dapat menerima dengan baik. Tapi, itu dalam kondisi normal dan kata yang saya ucapkan tidak seberat kata yang satu ini. Jadi, tolong, saya sangat meminta pada Anda untuk tidak meminta saya mengucap ulang kata itu.

Tidak dengar? Tidak mungkin. Saya tahu Anda sudah mendengarnya. Saya sudah mengucapkannya tadi, dan saya tahu Anda mendengarnya – meski dengan suara yang… sangat lemah.

Ulang? Anda meminta saya mengulang kata tadi? Tidak. TIDAK!

Jangan memaksa. Saya sudah ucapkan tadi dan tidak akan mengulanginya lagi.

Apa Anda tahu betapa beratnya mengucap kata itu? Anda tahu yang saya rasakan ketika melakukannya? Anda tahu tekanan yang saya alami?

Saya tahu. Saya tahu. Saya sangat tahu. Itu hanya sebuah kata yang sederhana. Empat huruf. Tapi… ada beban yang begitu berat ketika mengucapnya. Ada tekanan yang begitu besar. Seperti ada dosa yang mengikuti. Setan mendekat. Bersiap menguasai diri kita. Kata itu… kata itu memiliki sesuatu yang dalam sekejap dapat membuat saya menjadi mahluk rendah. Tidak. Saya tidak akan mengulanginya.

Kenapa Anda memaksa? Saya tidak memaksa Anda untuk mendengar cerita saya. Saya hanya meminta Anda mendengar, ya… dengan sedikit paksaan memang. Tapi, saya tidak memaksa begitu keras. Saya tidak menarik Anda. Saya hanya menahan Anda agar tidak pergi. Itu saja….

Baiklah…. Saya akan mengulanginya, tapi hanya untuk satu kali. Setelahnya, saya tidak akan mengulanginya. Sss… eee… kkk… sssssss….. Sudah.

Apa? Bagaimana mungkin Anda tidak mendengar? Sudah. Saya tidak akan mengulanginya. Saya tidak mau mengulanginya. Sudah cukup saya. Sudah dua kali saya menyebut “seks” pada Anda. Dua kali. Bayangkan. Dalam hanya waktu beberapa menit, sudah dua kali saya menyebut kata “seks” pada Anda. Dua kali. Seks seks seks seks…. Saya tidak pernah seperti ini. Anda sudah memaksa saya terlalu jauh. Anda sudah menyudutkan saya. Saya tidak terima. Hanya dalam keadaan seperti ini, keadaan yang Anda buat, saya menyebut “seks” dua kali dalam waktu berdekatan. Ah, ini tidak baik.

Apa? Apa maksud Anda? Bukan dua kali? Bukan dua kali apanya? Apa…? Ah… Benar?! Saya melakukan itu? Anda yakin?!

Ahahahaha…. benar juga. Anda benar. Ah… bodoh benar saya ini. Anda benar. Anda benar-benar sudah menjebak saya. Hahaha… sekarang saya baru sadar permainan Anda. Anda membuat saya mengucap “seks” berulang-ulang. Iya, kan? Seks seks seks seks seks seks seks seks. Hahahaha…. Anda percaya ini? Anda percaya saya bisa mengucapkannya begitu jelas, lancar, tanpa ragu. Hahaha….

Baiklah. Hahaha…. Anda benar-benar cerdik.

Ya, saya mau bicara tentang seks. Sederhana, kan? Sesederhana kehidupan manusia di dunia ini. Seks. Setiap manusia membutuhkannya. Itu naluriah. Wajar. Bertahan hidup dan berkembang biak. Bertahan hidup dengan mengonsumsi makanan-minuman, berkembang biar dengan melakukan hubungan seks. Itulah eksistensi manusia di dunia ini. Dan, saya mau bicara tentang salah satu darinya: seks.

Tidak. Saya tidak akan memaksa Anda. Saya bukan tipe pendendam. Saya tidak akan membalas kecerdikan yang baru Anda tunjukkan pada saya. Tidak. Saya hanya ingin bicara. Bercerita.

Saya ingin Anda tahu tentang diri saya. Tentang sisi yang selama ini saya tutup-tutupi. Tentang sisi yang selama ini selalu saya sembunyikan. Saya tidak punya keberanian untuk mengungkapnya. Saya tidak punya nyali untuk menunjukkannya. Saya takut. Pengecut. Dan, itu tidak menyenangkan. Jujur saja. Itu sangat tidak menyenangkan. Bertahun-tahun saya menjalaninya. Saya tahu benar yang saya rasakan, dan saya tidak ingin terus seperti itu. Tidak. Saya tidak ingin terus seperti itu. Saya ingin berubah. Saya ingin senang. Saya ingin menikmati. Saya ingin puas. Saya ingin melayang. Saya ingin terbuai. Saya ingin terbang. Saya ingin berteriak sekencang-kencangnya, mengosongkan tubuh saya, mengeluarkan semua tekanan, menjadi ringan, menjadi bebas, menjadi kosong, tak ada..

Tidak. Saya tidak ingin memperalat Anda. Saya tidak ingin menjadi manusia egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Saya ingin menikmatinya bersama Anda. Saya ingin. Sangat ingin. Karena itu, saya bercerita pada Anda. Saya mengajak Anda bicara. Kita diskusi. Kita berbagi. Kita mengkaji. Tentang imajinasi, tentang hasrat, tentang deru, tentang keinginan, tentang kepuasan, tentang kenyamanan, tentang tantangan, tentang ketenangan, tentang segalanya yang membuat kita senang.

Ya… ya… ya, saya ingin kita senang. KITA. Bukan hanya saya. Bukan salah satu di antara kita. KITA. Saya dan Anda.

Kita puaskan diri kita.

Ini tentang imajinasi yang menderu, memaksa untuk diwujudkan. Ini tentang fantasi yang membuai, menyeret kita ke dalam kenikmatan. Ini tentang kepuasan. Hasrat yang berkobar yang meminta untuk terus diburu, dipacu, diberi tekanan agar kobarannya kian membara. Begitu besar. Sangat besar hingga akhirnya meletupkan ledakan maha dahsyat. Ya… ledakan. Kita meledak. Kita lebur. Kita hancur. Terserak burai.

Apa? Setelah itu? Apa setelah itu? Hahaha…. Lalu apa setelah itu? Apa setelah kita terburai? Hmmm….

Bagaimana kalau kita satukan diri kita lagi. Kita kumpulkan serpihan demi serpihan, memasangnya, menempatkannya pada posisi semula, hingga kembali menjadi diri kita yang utuh. Kembali, seperti sedia kala. Tidak terdengar buruk, kan?

Ah… tentu tidak. Tentu tidak berhenti sampai di situ. Bagaimana kalau setelahnya, setelah kembali menjadi, kita kembali seperti ini. Bicara. Berbagi imajinasi. Manjakan imajinasi. Lalu, mengulanginya. Terus… terus… dan terus…. Berulang kali. Terus berulang. Ulang… ulang… terus berulang. Hahaha…. Kita manusia. Kita tidak akan pernah berhenti mengulanginya selama kita manusia. Hahahaha…. Itu yang perlu Anda ingat. Kita tidak akan pernah berhenti melakukannya. Mencari dan terus mencari. Memacu diri untuk mendapat yang lebih baik. Merasa yang lebih dan lebih dan lebih lagi.

Bagaimana?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s