Menulis Wanita

IMG_20150110_183354574

Writing is like “chatting up a woman”

Begitu komentar Haruki Murakami ketika diwawancara The Guardian ketika diminta berbagi tips tentang menulis. Analogi itu tidak menempatkan wanita seperti layar putih yang butuh ditulis – dan kalaupun memang seperti itu, saya sangat ingin mengetikkan jutaan kata di atasnya. Hahahaha….

Sang novelis, melalui pernyataan itu, ingin menegaskan menulis merupakan kemampuan yang dapat diasah. Latihan yang berulang akan membuat kemampuan menulis menjadi lebih baik. Seperti halnya berbicara dengan wanita. Perlu latihan. Trial and error. Kegagalan bukan berarti musibah. Harus dicoba dan dicoba lagi. Dan yang tak kalah penting, kreativitas. Tak mungkin, kan, terus menulis cerita berlibur ke rumah nenek seumur hidup?

Sulitkah? Tidak. Niat berada di atas segalanya. Apapun bisa dilakukan (meski mungkin tidak mudah) asal dilakukan dengan niat yang sungguh-sungguh. Mudahkah memulai pembicaraan dengan seorang wanita cantik yang sedang duduk sendiri di sebuah kafe? Kaki langsung gemetar, sendi-sendi seakan mau terlepas, darah seketika mengalir ke ujung kaki – membawa nyali yang tersisa. Tapi, kalau memang sungguh berniat, pasti dapat dilakukan. Pasti. Semua pria dapat melakukannya. Semua, kecuali saya yang lebih memilih pergi ke kamar mandi dan mengumpat diri sendiri.

Sama tapi Tak Serupa

“… but basically, you’re either born with it, or you’re not.”

Membuat analogi, menyanding satu hal dengan hal lain sudah biasa dilakukan. Seperti bunga yang sedang mekar, semut berbaris, berdiri di samping kereta yang sedang melaju, dan sebagainya. Perbandingan atau penyandingan tersebut dilakukan untuk memberi penegasan atau membantu pemahaman.

Namun, yang harus diingat, kedua hal yang disandingkan tidaklah serta merta sama. Keduanya memiliki kesamaan, iya, tapi hanya dalam beberapa hal. Beberapa hal yang membuat keduanya dapat disandingkan. Sementara, untuk hal-hal yang lain, keduanya tidaklah sama.

Fiuh… di situlah letak harapan – setidaknya bagi saya.

Mengasah kemampuan menulis ibarat mengasah kemampuan mengobrol dengan wanita. Keduanya dapat diasah untuk membuatnya menjadi lebih baik – sampai pada tahap tertentu. Tahap maksimal yang sudah tidak dapat ditingkatkan lagi. Begitu menurut sang novelis.

Juga, yang jangan dilupakan peran “bakat”. Kalau memang tidak berbakat, dilatih seperti apapun tidak akan menghasilkan sesuatu yang baik. Tapi, percobaan harus tetap dilakukan. Toh, bagaimana kita tahu kalau tidak pernah mencoba? Begitu, kan?

Saya tidak tahu bakat yang saya miliki, yang terlahir bersama dengan tubuh yang  keluar dari rahim ibu saya. Kalau pun memang berbicara dengan wanita tidak termasuk dalam bakat yang saya miliki, bahkan setelah berbagai percobaan, latihan, usaha keras yang dilakukan, tidak apa. Toh, masih ada hal lain yang dapat saya latih – dan semoga ketika latihan saya mencapai hasil yang maksimal, wanita-wanita akan datang dan coba mengobrol denga saya. Hahahaha….

Advertisements

One thought on “Menulis Wanita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s