Amerika: Negara yang Terlalu Bangga pada Hal-hal Kecil

Fury

Fury

2014-Amerika Serikat

Sutradara: David Ayer

Penulis: David Ayer

Pemain: Brad PittShia LaBeoufLogan Lerman, Michael Peña, Jon Bernthal, dan Alicia von Rittberg

 

Sersan Don “Wardaddy” Collier membawa pasukannya ke pertempuran yang buta. Informasi yang didapat mengenai tempat yang dituju sangatlah tidak jelas. Tidak ada keterangan yang pasti musuk seperti apa yang menanti di tempat yang dituju. Hanya satu hal yang diketahui: tidak ada yang berhasil mendapatkan informasi apapun mengenai tempat tersebut.

Pasukan yang dipimpinnya adalah rangkaian tank dengan lima kru di masing-masing kendaraan tersebut. Fury, nama tank yang dikomandoi Wardaddy, berada di urutan paling depan.

Nahas baginya, satu persatu pasukan tank yang dipimpinnya harus musnah. Musuh begitu kuat dan memiliki persiapan yang lebih baik. Yang mereka hadapi sebenarnya hanyalah sebuah tank – kendaraan seperti yang digunakan pasukan tersebut. Hanya saja, tank ini memiliki tehnologi dan senjata yang lebih mematikan. Dan, kesiapan untuk menghadapi datangnya musuk yang lebih baik. Karenanya, meski kalah dalam jumlah, tapi unggul dalam strategi. Di akhir pertempuran, hanya Fury yang berhasil bertahan.

Perjalanan pun dilanjutkan. Mencapai tujuan berikutnya. Hanya saja, satu yang luput disadari. Pertempuran sebelumnya membuat kemampuan tank yang dikendarai menurun drastis. Di tengah perjalanan, rantai penggerak roda putus. Wardaddy dan pasukannya pun harus menghentikan perjalanan, untuk sementara waktu, sampai rantai penggerak roda berhasil diperbaiki.

Di luar perkiraan, ketika rantai penggerak roda masih diperbaiki, jalan tersebut akan dilalui oleh sekelompok tentara musuh – dalam jumlah yang cukup besar.

Selama ini, pasukan yang mengendarai Fury dikenal mampu menghadapi berbagai macam situasi sulit. Entah sudah berapa banyak pertempuran yang mereka lalui, Afrika, Amerika, dan sekarang Eropa. Menghadapi dan menghancurkan musuh adalah hal biasa bagi mereka. Tapi kini, yang dihadapi tidaklah berimbang. Satu tank yang sedang rusak dengan lima personel berhadapan dengan pasukan berjumlah lebih dari 300 orang.

Coba berpikir logis, beberapa anak buah Wardaddy berniat melarikan diri dari tempat tersebut. Tapi, tidak bagi sang pemimpin. Merasa ikatan yang dimiliki sudah begitu kuat, melebihi keluarga, niat untuk menyelamatkan diri pun diurungkan. Lima orang nan gagah berani bersiap menghadapi pertempuran penghabisan.

Become a Machine

Satu hal tentang perang: kehancuran nilai kemanusiaan. Itu pelajaran berharga bagi Norman Ellison. Singkirkan jauh-jauh rasa kemanusiaan di medan perang. Di medan perang, bahkan anak kecil sekalipun, harus dimusnahkan. Karena, tubuh mungil dengan wajah tak bersalah itu dapat melumpuhkan pasukan. Tapi, itu hanya dilakukan di medan perang. Ketika gencatan senjata, rasa kemanusiaan harus kembali dipertahankan. Setidaknya, diusahakan untuk tetap ada.

Mendaftarkan diri sebagai juru ketik, pria berwajah manis dan sangat halus ini harus menghadapi kenyataan dirinya berada di tengah pertempuran sengit. Dia menjadi salah satu anggota pasukan yang mengendarai Fury. Dari sang pimpinan, juga anggota tim yang lain, pelajaran berharga pun didapat. Pelajaran yang mengubahnya. Menghilangkan sisi kemanusian sampai kemudian julukan “Machine” pun disematkan padanya.

Norman yang di awal bahkan tidak memiliki nyali untuk menarik pelatuk senapan kemudian menjadi penembak yang begitu murka ketika melihat musuh di hadapan. Tidak peduli berapa banyak peluru yang dihabiskan, yang terpenting adalah tubuh-tubuh tak bernyawa yang terkapar setelah timah panas menembusnya.

Namun, Fury bukan tentang kebiadaban perang. Ini film tentang perang. Harus ada perbedaan tegas. Kemanusiaan dalam berperang sangatlah berbeda dengan kemanusiaan dalam situasi damai. Tak ada yang perlu dilebih-lebihkan darinya. Tubuh yang begitu hancur akibat tertindas rombongan tank yang melintas, kepala yang seketika terpisah dari tubuh, teman yang tiba-tiba menghilang, bahkan cinta sesaat yang harus padam ketika sedang berkobar. Itulah perang, pelajaran hidup bagi prajurit nan lembut seperti Norman Ellison.

Guts vs Logic

Perang selalu memunculkan sosok pahlawan. Tapi, haruskah sosok itu dihadirkan? Haruskah cerita kepahlawanan dibesar-besarkan? Kalau memang iya, untuk apa? Agar perang dianggap benar untuk dilakukan? Lalu, cerita seperti apa yang perlu diangkat?

Amerika dikenal punya kemampuan dalam melakukan propaganda perang. Born on the Fourth of July menjadi salah satu referensi yang dilakukan Amerika untuk mempromosikan perang yang mereka lakukan. Pahlawan-pahlawan kecil dipilih. Diambil dari perang untuk kemudian diarak keliling negeri. Cerita yang dialami menjadi dongeng sebelum tidur seluruh masyarakat. Semua orang harus mendengar. Tidak hanya sekali. Berulang kali. Kalau perlu, tiap kali sebelum tidur.

Namun, pentingkah cerita perang tersebut?

Dari beberapa film tentang Perang Dunia II yang saya tonton, mungkin inilah yang paling tidak penting. Tidak penting dalam arti terlalu dibesar-besarkan.

Apa yang menarik dari kejadian ini? Apa perannya dalam perjalanan sejarah? Adakah yang istimewa dari yang dilakukan pasukan Fury?

Bagi saya, yang dipertunjukkan di sini adalah kenekatan, tanpa perhitungan. Dalam kondisi yang sangat tidak baik, pasukan yang kelelahan dan kendaraan perang yang rusak, berhadapan dengan 300 musuh bukanlah pilihan yang baik. Terlebih, itu terjadi di ruang terbuka. Satu-satunya tempat persembunyian dan strategi utama yang tersedia adalah tank yang sedang rusak.

Apa yang ingin ditunjukkan? Nyali? Nasionalisme? Bagi saya, itu sebuah kebodohan. Pengalaman berperang yang dimiliki Wardaddy seakan lenyap begitu saja ketika Prajurit Norman memberi tahu pasukan musuh yang akan melintas. Kecerdasannya sekita musnah. Dia menjadi mesin pembunuh yang tergila-gila pada peperangan. Musuh yang semakin banyak berarti ada semakin banyak sasaran untuk dibunuh. Apakah perang selalu tentang membunuh?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s