2014: Tahun Berharga bagi Kirsten Stewart

HERS

2014 memang sudah berlalu. 2015 sudah hampir di minggu keempat. Tapi, sepertinya belum terlalu telat untuk membahas tentang tahun yang telah berlalu. Lagipula, pengalaman yang akan saya bagikan di tulisan ini baru saya alami beberapa hari yang lalu.

Menjelang libur panjang Natal dan Tahun Baru (kantor saya memutuskan libur selama 10 hari), saya menyiapkan bekal yang cukup. Maklum, sebagai orang yang tidak terbiasa membuat rencana khusus mengisi liburan, terlebih menyambut pergantian tahun, film dan buku menjadi menu utama mengisi waktu libur. Makanya, selama beberapa hari terakhir sebelum libur panjang itu datang, saya pun sibuk menyiapkan bekal (mengunduh film-film yang saya anggap menarik).

Yang saya bahas di sini adalah dua film yang termasuk dalam bekal libur saya itu: Clouds of Sils Maria dan Still Alice. Tetapi, karena di waktu yang cukup senggang tersebut ternyata ada begitu banyak hal yang terjadi, saya tidak berhasil menyantap semua bekal yang saya siapkan. Clouds of Sils Maria termasuk bekal yang saya lahap sewaktu liburan, sementara Still Alice.  baru sempat saya tonton beberapa hari yang lalu (setelah melihat berita kalau Julianne Moore mendapat penghargaan Aktris Terbaik karena perannya di film ini).

Sama bercerita tentang masalah yang dihadapi oleh wanita, kedua film ini juga memiliki kesamaan lainnya. Dalam hal ini, maksud saya adalah seorang aktris yang ikut berperan di kedua film. Aktris yang dimaksud adalah Kristen Stewart. Tanpa bermaksud mendewakan sesuatu atau menganggap remeh hal lainnya, sepertinya inilah pertama kalinya bagi Kristen Stewart – dalam beberapa hal. 1) pertama kali untuk, dalam satu tahun, dua film yang dibintanginya menjadi peserta Cannes Film Festival. 2) dalam satu tahun, dia mendapat dua kesempatan beradu akting dengan aktris senior. Poin kedua inilah yang saya bahas di sini.

Kalau mengikuti tulisan-tulisan di blog ini (juga tulisan-tulisan di blog sebelah), sudah bisa diketahui bahwa saya adalah orang yang tidak terlalu mengapresiasi kemampuan akting aktris muda ini. Bahkan, dia menjadi alasan sampai saat ini saya tidak berhasil melengkapi koleksi film yang dibintangi Anna Kendrick. Makanya, bagi saya, ada dorongan tersendiri untuk membuat tulisan ini.

Menurut saya, pengalaman yang didapat aktris muda ini selama 2014 sangatlah berharga. Berharga dalam banyak hal. Dalam upaya melepaskan diri dari bayang-bayang The Twilight series, berharga dalam upaya mengembangkan kemampuan berakting, berharga dalam upaya mengubah citra, dan sebagainya.

Daftar film yang dibintangi Kristen Stewart terbilang cukup banyak. Di usia yang belum genap 25 tahun, sudah 30 film yang dia bintangi. Tapi, dari sekian film tersebut, hanya sedikit baginya kesempatan beradu akting dengan aktris senior. Di masa kecilnya, kesempatan itu sempat datang. Di Panic Room bersama Jodie Foster, sementara di Cold Creek Manor bersama Sharon Stone. Tapi, itu sudah terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu, sebelum kemudian dia menjadi idola remaja berkat penampilan di The Twilight series. Makanya, menurut saya, pengalaman tampil di Clouds of Sils Maria dan Still Alice.  merupakan pengalaman sangat berharga bagi aktris ini.

Bagaimanapun, saya yakin ada pelajaran dan pengalaman sangat berharga yang didapat ketika beradu akting dengan Juliette Binoche dan Julianne Moore. Pengalaman berakting selama puluhan tahun dengan berbagai penghargaan yang diterima tentu menjanjikan hal yang sangat berkesan. Dan, jujur saja, saya melihat perubahan dalam “penampilan” Kristen Stewart. Dalam hal ini, terlebih ketika melihat aktingnya di film Clouds of Sils Maria.

Menurut saya, penampilannya di film ini lebih dewasa. Mungkin, peran-peran seperti inilah yang saat ini harus dia ambil. Karena, saya tidak melihat yang spesial dari Lydia di Still Alice. Bagi saya, ya itulah dia (maksudnya Kirsten Stewart). Seorang remaja yang hidupnya penuh pemberontakan, berpegang teguh pada idealisme, mencari kebebasan, dan tidak peduli pada yang namanya kemapanan. Tidak jauh berbeda dengan penampilannya di On the Road.

Memang, Valentine yang diperankannya adalah tokoh remaja. Asisten pribadi berusia muda. Penampilannya pun masih sangat “muda”. Jeans belel, kaus, dan sebagainya. Tetapi, mungkin kedewasaan di sini dari sisi pekerjaan yang dilakukan.

Sebagai asisten pribadi, tugasnyalah mengatur segala hal yang berhubungan dengan bosnya. Mengatur jadwal ini-itu. Memastikan semuanya sudah sesuai dengan yang dibutuhkan. Tidak ada yang bermasalah atau tidak sesuai dengan si bos. Dia mengatur. Dia bukan remaja yang mencari kebebasan. Melintasi negara-negara bagian demi mencari kebahagiaan semu. Perjalanan lintas negara yang dilalui adalah demi tugas. Pekerjaan yang memaksanya melakukan perjalanan itu. Dan, di situlah saya melihat ada kesegaran yang ditawarkan oleh aktris muda ini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s