Apresiasi Bebas

Mens Room
Mens Room

Suatu kali, saya mendengar sebuah percakapan (yang entah saya dengar dimana, kapan, dan oleh siapa). Ketika itu, salah seorang bilang, “Lo klaim aja bikin karya itu setelah baca buku ini, nonton film itu, mendengar cerita soal begini, dan sebagainya. Udah, deh. Ga akan ada yang gugat.”

Yang menjadi bahasan di pembicaraan itu adalah karya-karya yang dibuat dengan embel-embel “terinspirasi dari…” yang dibubuhkan oleh si pembuat (seniman). Bukan bermaksud menyalahkan atau memberikan penilaian negatif pada karya-karya yang seperti itu, tapi hanya mempertanyakan. Haruskah memberi embel seperti itu? Apa pentingnya? Dan bagi saya, perlukah?

Kembali, tanpa bermaksud memberikan pandangan atau penilaian negatif, tapi saya tidak mengerti dengan pemberian embel-embel ini. Bagi saya, seperti ada “pengarahan” dengan dibubuhinya embel tersebut.

Saya ingat salah satu cerpen Sapardi Djoko Damono, yang juga menjadi judul buku kumpulan cerpen, “Pengarang Telah Mati”. Pengarang telah mati ketika cerita dibaca oleh pembaca. Adalah hak pembaca untuk mengapresiasi cerita yang dikonsumsinya. Memberikan apresiasi sebebas-bebasnya. Menurut pendapatnya, sesuai dengan pengalaman dan berbagai referensi yang dimiliki. Tidak ada satu pihak pun, termasuk penulis, yang boleh mengatur atau mengarahkan pembaca dalam berapresiasi.

Menurut saya, pembubuhan embel-embel tersebut merupakan bentuk “pengarahan”. Secara tidak langsung, penulis atau seniman tersebut memberikan referensi terhadap pembaca. Apresisasi yang diberikan pun menjadi tidak bebas. Atau setidaknya, tidak benar-benar bebas.

Pada kasus tertentu, pemberian embel seperti ini memudahkan, atau setidaknya membantu, pembaca memberi apresiasi terhadap karya yang sedang dinikmati. Ketika membaca “terinspirasi komposisi XXX karya XXX” di sebuah karya, pembaca akan langsung mengingat (jika dia mengetahui komposisi yang dimaksud atau mencari) karya yang direferensi tersebut.

Mendengar, memperhatikan, sambil mencari-cari “inspirasi” di dalam karya tersebut. Mencari-cari “inspirasi” di sini sangat mungkin adalah mencari kesamaan antara komposisi tersebut dengan karya yang dibaca. Yang kemudian terjadi, apresiasi terhadap karya yang dibaca bukan lagi murni tentang karya itu, tapi sudah bercampur. Berpadu dengan apresiasi terhadap komposisi yang direferensi.

Pemberian embel-embel seperti itu lazim ditemukan dalam berbagai karya. Tidak hanya yang berupa tulisan. Pemberian embel “terinspirasi dari…” pun lazim ditemukan pada berbagai jenis karya. Tidak salah. Meski menurut saya cukup disayangkan. J

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s