Terlalu Kaya Rasa

Aruna-dan-Lidahnya

Aruna dan Lidahnya

Laksmi Pamuntjak

2014

Gramedia Pustaka Utama

Untuk mendapatkan yang terbaik, harus tepat dalam segala hal. Tidak hanya salah satu atau sebagian, tapi semua. Kualitas bahan, cara pengolahan, deretan bumbu, rangkaian proses, dan lainnya. Semua harus dilakukan dengan setepat-tepatnya. Tidak boleh ada yang terbalik, tertukar, apalagi terlewat.

Itu yang saya pelajari setelah membaca novel ini. Makanan, apapun itu, bukan sekadar yang membuat kenyang. Untuk mengisi perut yang lapar. Pemenuhan atas kebutuhan alami manusia. Lebih dari itu, ada kenikmatan yang ditawarkan, ada penghargaan atas karya, kreasi, dan karsa manusia yang telah menghadirkannya, ada tentang selera, kelas, kebiasaan, golongan, dan lain sebagainya.

Semangkuk mie yang disajikan di atas meja sekadar reaksi atas pesanan yang diberikan. Di dalamnya, ada obsesi seseorang yang begitu sangat menggemari, yang rela melakukan perjalanan jauh demi mendapatkan sensasi rasa yang luar biasa. Aruna dan kawan-kawannya termasuk dalam kelompok itu. Kelompok manusia yang rela melakukan apapun demi mencicipi makanan atau minuman yang sangat lezat. Makanan yang sudah begitu tersohor, yang menjadi perbincangan, banyak diulas, banyak dicari. Tempat-tempat yang di antara hanya didatangi pada waktu yang paling tepat. Lewat sedikit, akan kalah dari persaingan dan akan berujung pada kesia-siaan.

Dengan latar virus flu burung yang melanda negeri ini beberapa tahun yang lalu, Aruna dan kawan-kawan pergi ke beberapa daerah di Indonesia. Menjelajah ke sudut-sudut kota, mencari tempat-tempat yang menyajikan hidangan lokal nan lezat – sambil mencari tahu tentang perkembangan virus flu burung di daerah tersebut, meskipun itu menjadi alasan utama Aruna melakukan perjalanan.

Perjalanan yang sangat berarti bagi Aruna. Selama dua minggu, dia, juga bersama beberapa temannya, mendapatkan berbagai hal yang tentunya sangat berkesan. Yang pertama ada berbagai hidangan lokal yang sangat lezat – meski ada di antaranya yang juga mengecewakan. Kedua, mengenal manusia dengan lebih dekat. Dalam perjalanan ini, Aruna mendapati selama ini ada sisi-sisi, bahkan dari orang-orang terdekat, yang tidak dia ketahui. Ada sisi-sisi yang selama ini terungkap. Ada sifat yang selama ini tidak muncul. Ada sosok tersembunyi yang pada akhirnya membuat dia mengenal orang tersebut dengan lebih lengkap.

Ketiga, Aruna mendapatkan pasangan dan pasangan itu ternyata bukanlah orang yang baru. Sudah beberapa lama Aruna mengenalnya. Hanya saja, selama ini, ada semacam selaput yang menghalangi pandangan Aruna untuk dapat melihat sisi menarik dari orang ini.

Ada yang didapat, ada pula yang hilang. Perjalanan ini juga menyadarkan Aruna adanya kekuatan yang membuatnya harus menerima kenyataan bahwa nilai-nilai kemanusiaan bukanlah yang utama dalam masalah kemanusiaan. Bekerja sebagai konsultan di sebuah lembaga swadawa masyarakat, Aruna ditugasi melakukan penyelidikan terhadap kasus flu burung yang terjadi di beberapa daerah di Indonesia. Penyebaran yang sporadis tapi tidak masih. Secara bersamaan muncul di beberapa kota, tapi jumlahnya sangat kecil. Bahkan, hanya satu di setiap daerah. Sekadar untuk mengesahkan pernyataan bahwa di daerah tersebut terdapat kasus flu burung.

Di tengah penyelidikan yang dilakukan, Aruna harus menerima berita pahit. Penyelidikan yang dilakukan bersama tim harus dihentikan. Mereka harus kembali ke Jakarta karena sudah ada sebuah tim pengganti yang akan melanjutkan penyelidikan. Aruna dan tim menerima keputusan itu, tapi mereka tidak serta merta kembali ke Jakarta. Daftar buruan tempat makan sudah dibuat. Agenda sudah ditetapkan. Perjalanan harus tetap dilanjutkan.

Investigasi Kuliner

Ada alasan khusus saya memasang foto di atas. Buku ini dengan latar Majalah Tempo (edisi khusus tentang antropologi kuliner Indonesia). Entah suatu kebetulan atau memang direncanakan, keduanya muncul di saat yang cukup berdekatan. Majalah Tempo tersebut terbit di awal Desember (1-7 Desember 2014). Sementara, untuk novel ini, saya tidak tahu persis kapan tanggal terbitnya. Melihat keterangan di halaman identitas buku, yang tercantum hanya tahun terbit. Tapi yang pasti, saya membelinya di hari terakhir tahun 2014 dan selesai membacanya pada dini hari ketiga tahun 2015.

Yang menarik, keduanya sama-sama membahas tentang kuliner beberapa daerah di nusantara (bahkan ada daerah yang sama-sama dibahas di kedua terbitan tersebut).

Entah sebuah kebetulan yang lain atau bukan, saat membaca novel ini, saya, kok, merasa seperti membaca ulang Majalah Tempo edisi tersebut. Di luar bumbu cerita tentang investigas kasus flu burung dan kisah asmara Aruna, yang saya menemukan kesamaan bahasan dan gaya penceritaan pada keduanya (Bukankah Tempo dikenal sebagai salah satu media yang mengedepankan unsur investigasi dalam gaya jurnalistiknya? Suatu kebetulan yang lain karena Aruna dan timnya juga melakukan investigasi mengenai flu burung).

Saya tidak mau berasumsi apapun terhadap hal-hal tersebut. Saya hanya menyampaikan yang saya alami, pengalaman yang didapat, ketika membaca buku ini.

Expect Nothing

Seperti salah satu tulisan saya di blog ini, beruntunglah orang-orang yang tidak mengharapkan apapun dari segala hal yang dilakukannya tetapi malah mendapatkan berkah yang luar biasa darinya. Sementara, sejak melihat buku ini di deretan rak toko buku, yang ada di dalam kepala saya adalah pengalaman membaca yang sangat menarik, yang membuat saya lupa waktu hingga, ketika kumpulan kertas yang saya jaga dengan tangan kanan semakin menipis, muncul rasa sedih di dalam diri saya. Sedih karena sadar bahwa tidak lama lagi saya akan selesai membaca buku tersebut.

Itu kesalahan pertama saya: membangun harapan yang begitu tinggi bahkan sebelum saya menyobek plastik bening yang menyelimuti buku ini.

Terlepas dari apakah terwujud atau tidaknya harapan tersebut, membuat harapan yang sangat tinggi, bagaimana pun, merupakan sebuah kesalahan. Bersamanya, ada beban yang begitu berat. Capaian yang mungkin begitu sulit untuk diwujudkan. Ini seperti halnya yang terjadi pada para penggemar Liverpool ketika klub tersebut mendatangkan Mario Balotelli sebagai penyerang anyar mereka. Rekam jejak sebagai salah satu penyerang muda yang tajam. Kemampuan olah bola yang mumpuni, kecepatan, tendangan yang kencang dan akurat, pergerakan yang sulit diantisipasi pertahanan lawan, dan segala kemampuan yang membuatnya menjadi salah satu penyerang yang disegani. Nyatanya, ketika mengenakan seragam merah dan menjadi bagian dari Liverpool, yang dia persembahkan hanyalah kekecewaan.

Saya tidak bermaksud menyamakan novel ini dengan keberadaan si bengal di The Reds. Tapi, saya, sebagai penggemar Liverpool yang membeli buku ini, melakukan kesalahan yang sama terhadap keduanya. Belum melihat atau merasakan yang disajikan pada dua tersebut tapi sudah berani menargetkan harapan. Itu sebuah kesalahan.

“Sebuah Novel Tentang Makanan, Perjalanan dan Konspirasi”, begitu Laksmi Pamuntjak memberi subjudul pada karyanya kali ini. Dari empat poin yang ditekankan pada pernyataan tersebut (“novel”, “makanan”, “perjalanan”, dan “konspirasi”), rasa-rasanya hanya poin terakhir yang menurut saya kurang ditekan.

Ya, buku ini merupakan sebuah novel. Silakan pilih teori tentang karya sastra (novel) dan perhatikan unsur-unsur yang membuat suatu karya dapat disebut sebagai novel, hal itu dapat ditemukan di buku ini. Sementara, unsur kedua tidak perlu saya ulang lagi karena sudah saya bahas di bagian atas – yang dengannya secara tidak langsung juga menyinggung soal poin ketiga.

Poin keempat yang menurut saya perlu mendapat penekanan. “Konspirasi”. Bukankah itu suatu kata yang, setidaknya menurut saya, berat. Sangat serius. Njelimet. Rumit. Tidak mudah dipahami.

Menurut saya, sebuah konspirasi tidak akan berdiri sendiri, mandiri, terlepas dari berbagai persoalan – termasuk yang mungkin seakan tidak ada kaitannya dengan konspirasi tersebut. Diperlukan penjelasan panjang-lebar untuk dapat mengungkap sebuah konspirasi. Tidak bisa pendek, sepertinya, setidaknya menurut saya. Tidak bisa diungkap sebagian-sebagian, karena jika itu dilakukan maka yang tersaji hanyalah potongan-potongan puzzle yang mungkin tidak akan pernah menjadi utuh. Dan, itu yang tersaji di sini. Konspirasi yang tersaji di sini seperti hanya menjadi pemanis, garnish. Pelengkap yang menjadi penghias. Penting tapi bukan yang utama. Indah tapi tidak substansil. Dan, maaf, terkesan dangkal.

Ketika membaca subjudul tersebut, yang muncul di kepala saya (lagi-lagi saya membuat kesalahan dengan membangun harapan) adalah rangkaian kejadian yang rumit, puzzlepuzzle yang menanti untuk disatukan, misteri yang menantang untuk dipecahkan, atau setidaknya pertentangan atasan-bawahan yang penuh konflik. Tapi… tidak. Sebagai garnish, konspirasi yang muncul dalam kisah ini hanya ala kadarnya. Sekadar ada. Memberi warna, walau tidak akan mengurangi rasa ketika dia dihilangkan.

Stereotipe

Beberapa jam setelah selesai membaca buku ini dan sebelum mulai menyusun tulisan ini, saya bertanya kepada seorang teman mengenai buku ini. Kebetulan, teman yang saya tanya ini sudah selesai membaca buku ini. Kebetulan pula, teman ini adalah orang yang sama dengan yang saya ajak mengobrol tentang Amba dan Pulang. Juga yang merupakan kebetulan, teman ini bekerja di sebuah en-ji-o – seperti yang dilakukan Aruna.

Satu hal yang menarik dari jawaban teman saya ini adalah ketika dia memberi alasan menyukai buku ini. “Berasa familiar dengan ceritanya,” begitu jelasnya melalui pesan yang dikirim via WhatsApp. Yang dimaksud familiar oleh teman ini adalah kehidupan pekerja en-ji-o yang digambarkan oleh sang penulis. Saya tidak pernah masuk ke dunia en-ji-o dan karenanya tidak dapat memberi komentar tentang itu. Tapi, melihat kredibilitas teman, penghargaan layak diberikan pada Laksmi Pamuntjak. Entah apa dia pernah benar-benar masuk ke dunia en-ji-o atau sekadar melakukan riset, tetapi yang dilakukannya berhasil. Salut….

Ketika mengobrol bersama teman itu, entah kenapa saya teringat percakapan kami beberapa tahun yang lalu – ketika mengobrol tentang Amba dan Pulang. Saat itu, satu hal yang menjadi penekanan teman ini adalah mengenai stereotipe. Masalah stereotipe inilah yang membuatnya lebih menyukai Amba dibanding Pulang. “Penokohan yang dilakukan Chudori masih terjebak dalam stereotipe, tidak seperti yang dilakukan Pamuntjak,” kira-kira bgitulah inti pendapat yang dikemukakan teman ini saat itu. Pendapat yang membuat saya membaca ulang kedua karya tersebut untuk kemudian menyetujui dengan yang disampaikan teman ini.

Dan, stereotipe itu pula yang menjadi perhatian saya ketika membaca novel ini (yang kemudian membuat saya kembali melakukan kesalahan). Satu hal yang harus saya ubah: bebaskan segala nilai. Nikmati membaca tanpa terikat pada nilai atau pengalaman tertentu.

Di sinilah, mengenai stereotipe, saya terjebak – terutama mengenai tokoh utama dalam novel ini. Sosok wanita mandiri, tidak ingin terikat, bebas, mencari kesenangan dalam hidup. Di usia 35 tahun, Aruna tidak terlalu dipusingkan dengan statusnya sebagai lajang – atau mungkin tidak dia pedulikan karena kemudian dia selalu merasa minder ketika bertemu dengan pasangannya, terutama ketika melakukan hubungan seks dengan pacarnya.

Mendapati data-data seperti itu, di dalam pikiran, saya membentuk sebuah sosok wanita yang supel, easy-going, ceria di mana pun dia berada, selalu berhasil menghidupkan suasana, bergaul dengan siapa saja, terbuka dengan berbagai hal, dan tidak membuat penghakiman awal terhadap hal atau orang yang baru baginya. Tapi ternyata, saya keliru. Aruna memang sosok wanita mandiri. Dia mengejar kesenangan dalam hidupnya. Bahkan, dia rela bekerja di suatu lembaga yang tidak begitu dia pahami karena profesi yang ditawarkan mampu menyokongnya untuk terus menjalani hobi: wisata kuliner.

Namun, di sisi lain, Aruna merupakan sosok yang “tertutup”. Pandangannya tentang Farish salah satunya. Meski sudah mengenal cukup lama mengenal pria ini, perjalanan selama dua minggu membuat Aruna harus mengubah 180 derajat pendapatnya mengenai Farish. Pria tampan yang senang menggoda (bahkan mempermainkan wanita) ternyata memiliki sisi yang dapat membuatnya jatuh cinta, perhatian yang dapat meluluhkan hatinya, pengertian yang membuatnya sebagai wanita merasa nyaman. Kenapa setelah sekian lama sisi itu baru diketahui Aruna? Apakah cukup bagi Aruna untuk mendengar kabar dari sana-sini untuk menilai seseorang? Mungkin, sebagai penjelasan, bukankah perjalanan akan membuka segalanya? Segala hal yang selama ini tersembunyi, terpendam, tidak terungkap, akan muncul. Dan, itulah yang dialami Aruna. Hmm….

“Tertutup” juga menjadi kata kunci untuk menyebut sifat Aruna dan teman-temannya. Sebagai pecinta wisata kuliner, pemburu makanan lezat, foodish, atau apapun istilahnya, menurut saya, yang mereka lakukan sekadar menurut pada referensi yang sudah ada. Cari aman. Tidak mau ambil risiko. Apakah orang-orang lapangan yang sering kali berhadapan dengan rumitnya birokrasi dan aturan yang mengekang akan memilih sikap seperti itu? Ya, mungkin beda antara sikap kerja dengan kehidupan sosial. Tapi, ya, itu menurut pandangan saya. Pandangan yang sepertinya begitu dikekang dengan yang namanya stereotipe. Bahwa nasi itu digoreng, teh itu diseduh, jahe itu dikeprak, susu itu…. diremas. Hahahaha…. Joking.

Namun, di luar itu semua, dengan segala rasa hormat (ya elah, formal banget), saya harus mengakui pengalaman saya membaca buku ini seperti yang saya alami sebagai penggemar Liverpool dengan kehadiran Balotelli. Saya merasa disuguhkan itinerary yang dibumbui kisah petualangan, penyakit menular, persahabatan, asmara, dan sejarah.

Ada begitu banyak rasa yang coba ditawarkan di sini. Makanan dengan begitu banyak rempah, tapi, entah bagaimana dan karena apa, masing-masing rempah berusaha menjadi yang paling eksis. Saling berjuang, coba menundukkan yang lainnya, dan pada akhirnya, tidak ada yang dapat dirasa. Semua tunduk, sama-sama tunduk. Menikmatinya, lidah akan dibuat bingung. Terutama bagi lidah awam yang tidak bisa dan biasa menyaring setiap rasa yang mampir di indera. Semua hanya akan berlalu begitu saja, tanpa meninggalkan kesan.

Namun, ya itu pendapat dari orang yang tidak peduli akan pengalaman menikmati makanan. Orang yang lebih mementingkan “kenyang” daripada “sensasi”. Orang yang menjunjung tinggi rasa pedas di antara segala rasa lainnya. Orang yang begitu gembira ketika disajikan mie instan rebus dengan telur, potongan daun bawang, serta saus Dua Belibis – parutan keju menjadi penyempurna yang kehadirannya tidak terlalu penting. Duh… lapar, uey.

Advertisements

2 thoughts on “Terlalu Kaya Rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s