Catatan Perjalanan

The-Trip-to-Italy

The Trip to Italy

Sutradara: Michael Winterbottom

Penulis: Michael Winterbottom

Pemain: Steve CooganRob BrydonRosie Fellner

Apa yang paling menyenangkan dari perjalanan? Kalau saya, semua. Perjalanan selalu menawarkan pengalaman. Bertemu dengan orang-orang baru. Melihat hal-hal baru. Berkenalan dengan kebudayaan baru. Merasakan hal-hal baru. Dan semua yang terjadi sepanjang perjalanan tersebut. Itulah yang dialami oleh dua orang British ini.

Setelah menyelesaikan perjalanan kuliner mereka di tanah kelahiran pada 2010, Steve Coogan dan Rob Brydon kini menelusuri kuliner di negara lain, Italia. Menggunakan Mini sebagai kendaraan yang mengantar mereka menikmati perjalanan, kedua orang ini menikmati keindahan yang dimiliki Italia: kebudayaan, alam, dan yang terutama kuliner – karena hal itu yang menjadi inti dari perjalanan mereka.

Sebenarnya, tidak ada hal baru yang ditawarkan dalam film lanjutan ini. Dua orang yang sedang menikmati perjalanan tugas menulis kuliner-kuliner terbaik di suatu kawasan, menikmati panorama alam yang tersaji di hadapan mereka, berkenalan dengan orang-orang baru, bersenang-senang, dan tetap dengan hobi mereka – menirukan dialog dari aktor terkenal.

Oh, iya. Satu hal lagi. Yang tetap sama adalah tidak adanya konflik dalam film ini. Maksud saya, tidak ada konflik hebat yang membuat cerita mencapai klimaks untuk kemudian masuk ke fase peleraian. Yang disajikan dalam film-film ini adalah konflik-konflik kecil yang biasa terjadi dalam sebuah perjalanan. Perkenalan dengan orang baru yang kemudian berujung pada hubungan di atas ranjang. Atau, konflik kecil lainnya yang sampai pada akhir film tidak dijelaskan secara gamblang penyelesaian terhadap konflik-konflik tersebut.

Lalu, menarikkah film ini? Bagi Anda yang menyukai film-film yang menyajikan ketegangan, film ini dapat dikategorikan sebagai sangat membosankan. Tidak ada ketegangan yang disajikan dalam film ini. Sepanjang lebih dari 100 menit, penonton akan menyaksikan kelakukan dua orang yang sedang menikmati perjalanan, bertukar kelakar selera mereka, dan terkadang diselingi keindahan alam serta kesibukan para koki di dapur.

Namun, bagi Anda yang menyukai film yang mengalir, ya, ini mungkin menjadi salah satu film yang harus Anda tonton. Cerita dalam film ini mengalir begitu saja. Perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, obrolan dari satu topik ke topik lain, cerita yang satu ke cerita yang lain, dan begitulah.

Ibarat kata, karena yang dibahas dalam film ini adalah tentang kuliner, cerita yang disajikan film ini seperti peribahasa “sayur tanpa garam”. Kurang terasa sedap. Cerita tanpa konflik, tidak terasa “bermakna”. Tetapi, yang jadi pertanyaan, haruskah selalu ada konflik dalam hidup? Dibumbui dengan berbagai drama agar terasa benar-benar hidup? Bukankah makanan tanpa garam sebenarnya lebih sehat, walaupun rasanya kurang mantap?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s