Hope is Never Vanished

"Colorless Tsukuru Tazaki" by Haruki Murakami
“Colorless Tsukuru Tazaki” by Haruki Murakami

Ini pengalaman ketiga saya menikmati karya Haruki Murakami. Jujur, agak perlu persiapan setiap kali coba mulai membaca karya-karya novelis asal Jepang ini. Alasannya sederhana saja: karena dia selalu menyajikan kesuraman yang begitu pekat di dalam karya-karyanya. Tokoh yang sendiri dan terobsesi dengan kematian. Apalagi, ketika akhirnya kesiapan itu didapat, saya harus menghadapi kalimat pertama yang sangat menjatuhkan mental. “From July of his sophomore year in college until the following January, all Tsukuru Tazaki could think about was dying.

Kuatkah saya meneruskan ataukah cukup sekian untuk saat ini dan saya akan kembali suatu saat nanti ketika mental saya sudah cukup kuat untuk menghadapi kesuraman yang begitu pekat?

Berdiam diri sebentar, mengatur napas, saya pun akhirnya memberanikan diri meneruskan membaca kalimat-kalimat selanjutnya di buku ini – tidak dalam intensitas yang tinggi, cukup satu bab setiap kali membaca. Lagipula, buku kali ini pemberian “seseorang”.

Bab demi bab saya baca sampai kemudian saya pun lupa dengan “paranoid” yang saya alami ketika akan membaca buku ini. Buku ini pun selesai tanpa saya sadari.

Lalu, apakah saya ingin bunuh diri? Hmmm….

Jujur saja, rasa untuk bunuh diri, atau setidaknya terkungkung dalam kesuraman yang amat pekat, sangat menghantui saya setelah membaca karya-karya Haruki Murakami. Kecuali 1Q84 jilid 1, saya membaca 1Q84 dalam versi bahasa Indonesia yang terbit dalam 3 jilid, karya-karya penulis ini meninggalkan perasaan kelam yang begitu akut. Yang membuat saya harus mencari cara untuk menetralisir “rasa” di dalam diri sebelum akhirnya “rasa” itu benar-benar mengukung saya dan mengarahkan saya melakukan tindakan yang mengakhiri sejarah hidup saya di dunia ini.

Murakami yang Berbeda

Setelah selesai membaca Colorless Tsukuru Tazaki, saya menyadari adanya beberapa perbedaan. Perbedaan yang tidak saya dapatkan ketika saya membaca karya-karya sebelumnya.

Perbedaan yang pertama adalah mengenai akhir cerita. Kali ini, maaf untuk yang belum membaca karya ini dan membenci spoiler, Murakami membiarkan akhir cerita menggantung. Tsukuru Tazaki (tokoh utama dalam novel ini) tidak pernah tahu jawaban yang akan diberikan Sara (tokoh wanita yang dicintainya). Itu hal yang baru bagi saya ketika membaca karya Murakami. Di sebelumnya, seingat saya, akhir cerita seperti itu tidak terjadi (dan maaf kalau ternyata saya salah).

Perbedaan kedua, dan ini yang menurut saya amat penting dan mendorong saya membuat tulisan ini, berkaitan dengan perbedaan yang pertama. Menurut saya, bukan tanpa alasan Murakami mengakhiri cerita seperti itu, membiarkannya menggantung (ya, pastilah, seorang pengarang tentu punya alasan membuat akhir dari kisah yang dibuatnya).

Di halaman akhir novel ini, terdapat sebuah paragraph yang menurut saya membuat perbedaan signifikan terhadap pengalaman saya membaca karya Murakami yang satu ini.

We truly believed in something back then, and we knew we were kind of people capable of believing in something—with all our hearts. And that kind of hope will never simply vanish.

Paragraf ini menimbulkan “rasa” yang berbeda ketika saya menutup lembar terakhir buku ini. Bukan sekadar rasa penasaran karena akhir cerita yang menggantung (siapa pula yang suka digantung? *ealah… jadi curcol). Lebih dari itu. Saya merasa ada semangat di sini. “And that kind of hope will never simply vanish.” Saya merasa ada semangat, ada harapan yang tetap dijaga. Berbeda ketika membaca kalimat pertama di novel ini, ketika selesai membaca, saya merasa bersemangat. Setelah coba berpikir beberapa saat, saya akhirnya tidak lagi memedulikan akhir cerita yang menggantung.

Saya tidak peduli walau pada akhirnya Sara menolak cinta Tsukuru Tazaki. Karena, toh, setelah mengeluh tentang hidupnya yang sangat tidak berwarna, Tsukuru Tazaki ternyata memberikan warna yang begitu rupa pada orang-orang di sekitarnya. Bahwa kesendiriannya ternyata memberi “kehadiran” pada orang-orang yang dia kenal. Walau, mungkin, pada akhirnya, di hari, tempat, dan jam yang telah ditentukan, Sara ternyata tidak memilih dirinya, Tsukuru Tazaki sadar akan warna yang telah diberikan oleh orang yang namanya tidak mengandung unsur warna.

*Tambahan

Ada satu pertanyaan yang timbul setelah selesai membaca novel ini. Setelah menghadirkan sosok bodyguard seram yang suka sesama jenis di 1Q84, di sini Murakami kembali menghadirkan sosok tokoh yang juga suka sesama jenis. Ada apa antara Murakami dengan kaum sesama jenis?

Advertisements

One thought on “Hope is Never Vanished

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s