Ice Creams in History

IMG_0937Sebenarnya judul tulisan ini terlalu serius. Itu fakta. Terlalu berlebihan, terlalu ambisius. Karena sebenarnya yang diceritakan di tulisan ini hanya pengalaman yang saya alami dalam satu hari. Dalam satu hari tersebut, kebetulan saya datang ke dua tempat yang menyajikan es krim.

Meski sama-sama menyajikan es krim, pun yang disajikan memiliki tawaran rasa (bahan) yang hampir sama, karena kedua tempat es krim tersebut menyajikan es krim yang memiliki rasa buah-buahan, keduanya berasal dari masa yang berbeda. Hmmm…. Maksud saya, yang satu sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu sementara yang satu lagi baru berusia sekitar satu setengah tahun – masih berusaha menciptakan sejarah agar bisa selegendaris tempat es krim yang satu lagi.

Namun, yang saya alami, perbedaan masa ini ternyata memiliki dampak yang cukup signifikan. Dalam rasa, tentu saja. Meski menyajikan es krim yang dibuat dari bahan buah-buahan, tapi es krim yang dihasilkan tentu saja memiliki perbedaan rasa. Terlebih, keduanya dibuat melalui proses yang berbeda. Yang satu, yang sudah berusia puluhan tahun, masih mempertahankan cara produksi yang sama seperti ketika tempat ini dibuka puluhan tahun yang lalu. Sementara, yang satu lagi, memperkenalkan cara produksi yang baru, yang lebih cepat, lebih modern.

Tetapi, soal rasa, tentulah bukan hak saya untuk menentukan mana yang lebih baik dari yang lain. Rasa adalah tentang selera, dan selera masing-masing orang berbeda. Bersalahkan seseorang yang sangat mengagumi Pengakuan Pariyem sementara yang lain mendewakan Pramoedya Ananta Toer atau Ayu Utami atau Dewi Lestari?

Lagipula, sebenarnya, bukan perbedaan itu yang ingin saya utarakan di sini. Perbedaan besar yang saya rasakan ketika datang ke dua tempat es krim tersebut, dan perbedaan ini cukup mengganggu, adalah mengenai pelayanan yang diberikan. Cara para pegawai di kedua tempat tersebut memperlakukan pelanggan yang datang.

Di tempat es krim yang pertama, yang masih baru dan menggunakan tehnologi modern dalam memproses es krim, saya merasa amat nyaman. Seorang wanita berusia sekitar 30an menyodorkan menu yang tersedia di tempat tersebut. Dengan ramah dan disertai senyuman, dia menjelaskan beberapa menu yang saya tanyakan dan menunggu dengan sabar saat saya bingung memilih es krim yang akan saya pesan. Seperti itu pula pelayanan yang diberikan ketika akhirnya es krim yang saya pesan diantarkan, saat saya menyantap, bahkan sampai saya berjalan keluar dari tempat es krim tersebut. Tidak ada satu hal pun yang mengganggu.

IMG_0940Sementara, di tempat es krim yang kedua, yang sudah melegendaris karena sudah ada sejak beberapa dekade yang lalu, saya mendapatkan pengalaman yang berbeda. Saat saya datang, tempat tersebut memang sedang dipenuhi pelanggan. Beberapa bangku memang kosong tapi bangku-bangku tersebut berada di set yang sudah ditempati pelanggan. Tidak mungkin tiba-tiba ikut nimbrung duduk di bangku yang kosong sementara orang yang duduk di sebelah tidaklah dikenal. Lagipula saya datang bersama beberapa orang teman.

Setelah menunggu sebentar dan diselak oleh pelanggan yang datang setelah saya, akhirnya saya mendapatkan tempat yang kosong – yang cukup untuk saya dan teman-teman saya. Menu diantarkan tanpa ditunggu pelayan. Beberapa saat kemudian, saya menghentikan laju pelayan yang lewat di dekat saya dan memesan beberapa menu es krim. Tak berapa lama, es krim pesanan diantarkan – sesuai dengan yang kami pesan plus segelas air mineral untuk masing-masing dari kami sebagai compliment.

Masalah timbul ketika kami menikmati es krim. Penggemar es krim atau bahkan mungkin masyarakat umum tahu bahwa salah satu bahan yang digunakan dalam pembuatan es krim adalah susu. Apa yang terjadi ketika menikmati susu yang dibekukan? Perasaan lengket di bibir dan sekitarnya. Itu yang saya dan teman-teman saya rasakan.

Bukan rasa lengket itu yang menjadi masalah, karena itu merupakan hal lumrah. Yang menjadi masalah adalah ketiadaan tisu di meja untuk menghilangkan rasa lengket itu. Saya pun bertanya kepada pegawai di toko es krim tersebut. Ternyata, pihak toko memang tidak menyediakan tisu. Tapi, toko tersebut menyediakan tisu bagi pelanggan yang membutuhkan – dengan harga Rp2.000 per bungkus. Dalam keadaan terpaksa, uang Rp2.000 pun dikeluarkan untuk membeli tisu.

Saya tidak mempermasalahkan adanya dana tambahan sebesar Rp2.000. Syukur, saya masih memiliki cukup dana untuk membeli sebungkus tisu. Lebih dari itu, yang menjadi masalah adalah pelayanan yang diberikan.

Memang, pihak toko menyediakan segelas air mineral sebagai compliment. Saya berpikir segelas air mineral ini memang disediakan untuk membantu menghilangkan rasa lengket setelah menikmati es krim. Tapi, itu terjadi untuk bagian dalam mulut. Bagaimana dengan bagian luar, bibir dan sekitarnya? Haruskah saya membasahi bagian-bagian tersebut dengan air mineral lalu mengusap-usapnya dengan tangan?

Sepele memang, tapi hal sepele itul ternyata cukup mengganggu.

*Tambahan

Sebelum beranjak dari tempat es krim yang kedua, seorang teman bertanya kepada saya. Kebetulan itu merupakan kunjungan pertama kami ke tempat es krim yang legendaris tersebut. “Apa, ya, yang bikin es krim ini legendaries? Karena sudah ada dari tahun 30an? Kok, gua enggak ngerasa ada yang istimewa, ya, dari rasanya.” Saya cuma menggerakkan kepala, ragu untuk memberikan tanggapan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s