Karya yang Mengintimidasi

"Pengakuan Pariyem"-Linus Suryadi
“Pengakuan Pariyem”-Linus Suryadi

Suatu sore, sambil menunggu datangnya pesanan makanan dan menonton acara komedi yang menjadi menu harian, saya berbincang dengan seorang teman. Awalnya, saya hanya coba mencari tahu, bagi dia, teman saya ini, faktor apa yang membuat sebuah cerita menarik? Ternyata, mungkin karena kami memiliki latar belakang pendidikan yang sama, teman ini lebih melihat cara bercerita yang disajikan sebagai faktor penting menarik atau tidaknya sebuah cerita. Pembicaraan pun berlanjut. Berkembang ke topik-topik yang lain. Sampai, pada akhirnya, kami pun bersepakat: Pengakuan Pariyem tidaklah tepat disebut sebagai karya yang menginspirasi. Lebih dari itu. Linus membuat karya yang mengintimidasi.

Alasannya sederhana saja. Karena, bagi kami, yang dilakukan Linus amat luar biasa. Dia membuat karya yang begitu baik. Dengan bahasa yang singkat, lugas, puitis, dan sederhana, Linus mampu menyampaikan banyak hal. Deskripsi tempat, deskripsi tokoh, perkembangan emosi, budaya, sosial, semua hal terangkum dalam karya yang bahkan, saya kira, tebalnya tidak hampir setengah dari Bumi Manusia.

Tentu, saat dalam proses pembuatan, Linus tidak berpikir karyanya akan mengintimidasi pembaca, atau setidaknya sebagian dari pembaca. Bahkan, keterangan yang terdapat di halaman persembahan memberi tahu Pengakuan Pariyem didedikasikan kepada orang yang sangat dia hormati. Sebagai karya penghormatan. Persembahan kepada seorang “guru”.

Tapi tetap saja, bagi kami, yang telah dilakukan Linus membuat kami terintimidasi. Mengetahui ada seseorang yang mampu membuat karya seperti itu memberikan tekanan yang luar biasa. Kebetulan, profesi yang saya dan teman ini jalani berhubungan dengan tulis-menulis. Setiap saat, kami berusaha membuat tulisan yang terbaik. Tulisan yang tidak hanya memenuhi kebutuhan pekerjaan, tetapi juga mampu mengembangkan kemampuan dan menunjukkan identitas diri kami. Linus sangat berhasil dalam melakukan hal itu.

Saya bahkan tidak peduli bahwa pada kenyataannya, sepanjang hidup, Linus hanya mampu menghasilkan sebuah karya. Istilah populernya one hit wonder. One hit yang dihasilkan sangat mengagumkan. Bukan sekadar membuatnya masuk ke dalam golongan yang diberi label “sastrawan”, tetapi juga karya yang dihasilkan menunjukkan tingkat kecerdasan dan intelektualitas yang luar biasa.

Beberapa tahun lalu, ketika menjadi pengajar, saya selalu mengutip salah satu bagian dari Pengakuan Pariyem sebagai bahan ajar. Saya masih ingat, buku kecil ini selalu saya bawa ketika sesi “Deskripsi”. Pada salah satu bagian, Linus membuat deskripsi perbandingan yang luar biasa, menurut saya – meski memang harus diakui untuk memahaminya diperlukan pengetahuan (latar belakang) budaya.

Setelah pembicaraan dengan teman tersebut, saya sempat memaksakan diri saya di depan komputer. Coba merangkai cerita. Tidak berpikir bahwa cerita yang saya rangkai akan sebagus yang dilakukan Linus. Itu utopis namanya dan saya pun harus sadar diri. Saya hanya berharap dapat merangkai cerita yang membuai pembaca. Setidaknya membuat pembaca dapat terus menikmati rangkaian cerita yang saya buat sampai pada bagian akhir. Tapi ternyata, intimidasi itu terlalu hebat. Hampir depresi. Saya pun selama beberapa saat harus menahan diri untuk tidak coba merangkai cerita dan sempat terpikir untuk menghentikan kebiasaan saya merangkai cerita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s