Arogansi Berkedok Demokrasi

Sebenarnya yang mau disampaikan di tulisan ini mirip dengan tulisan di blog ini sekitar satu bulan yang lalu. Tapi, karena rasa kesal yang begitu membuncah, saya memerlukan sarana untuk menyalurkannya.

Tadi pagi, ketika berangkat menuju kantor, saya harus menghadapi lalu lintas yang ‘luar biasa’. Bukan sekadar macet, kali ini lalu lintas sama sekali tidak bergerak, alias stuck, mampet. Penyebabnya sederhana saja. Sekelompok pekerja berkumpul, melakukan aksi terkait keputusan pemerintah menaikkan harga BBM (bahan bakar minyak) bersubsidi. Entah apa yang diperjuangkan dalam aksi tersebut: penolakan akan kebijakan itu atau menuntut kenaikan gaji. Satu hal pasti yang saya tahu, pagi tadi lalu lintas lumpuh. Padahal, jalan tersebut merupakan jalan utama yang menghubungkan dua provinsi, bahkan termasuk jalan utama nasional. Bayangkan jumlah kendaraan yang melintasinya, terutama di jam-jam padat.

Mobil, bus, truk, bahkan motor tidak dapat melintas karena para pendemo menutup seluruh bagian jalan. Beberapa pengendara saya lihat lebih memilih mematikan mobil, bertindak logis daripada menghabiskan bensin di tengah jalanan yang ‘mati’. Sebagian pengendara yang beruntung, termasuk saya, memiliki kesempatan berbelok ke sebuah jalan kecil. Mengambil jalur memutar, melalui jalur alternatif untuk melepaskan diri dari situasi tersebut.

Sebut saya orang yang sombong, tidak peduli, atau apalah, tapi kejadian tadi membuat saya benar-benar tidak peduli pada hal yang diperjuangkan para demonstran tersebut. Alasannya hanya satu, karena menurut saya yang mereka lakukan adalah arogan.

Dalam demokrasi, aspirasi bebas disampaikan. Berbagai media, sarana dapat dipilih untuk menyampaikan aspirasi. Demonstrasi salah satu bentuknya. Itu dapat dipahami. Sebuah aksi demonstrasi menimbulkan efek bagi pihak-pihak yang tak terlibat pun dapat dimengerti. Arus lalu lintas yang menjadi tersendat karena adanya sekelompok demonstran yang sedang melintasi jalur tersebut merupakan hal wajar. Para pengguna jalan, walau ada yang mengumpat kesal karena tersendatnya arus lalu lintas, dapat memahami kondisi tersebut. Tapi kalau sampai membuat arus lalu lintas berhenti total, ini yang tidak dapat dimengerti.

Yang perlu diingat dan dipahami oleh orang-orang yang melakukan demontrasi adalah ada hak-hak orang lain yang terampas (atau setidaknya terkikis) akibat aksi yang mereka lakukan. Ketika arus tersendat karena ada sekelompo demonstran yang melintas, ada hak pengguna jalan yang terampas. Dan kalau sampai arus lalu lintas ‘mati’, hak para pengguna jalan bukan sekadar terampas atau terkikis, tapi terbunuh oleh situasi tersebut. Menuntut hak dengan membunuh hak pihak lain, menurut saya, bukanlah bagian demokrosi. Itu AROGAN namanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s