Menuntut Hak Tidak Harus Memakai Sepatu Ber-Hak, Kan?

Courtessy of The Guardian
Courtessy of The Guardian

Sudah lewat dari jam 12. Saatnya istirahat. Begitu pula rencana saya, setidaknya. Merebahkan badan di atas kasur. Sambil menunggu puncak kantuk, saya membuka-buka aplikasi di ponsel. Dari satu media sosial ke media sosial lainnya. Lalu membaca-baca berita. Sampai… sebuah artikel menarik perhatian saya. Memotivasi saya untuk bangkit dari tempat tidur, menyalakan laptop, dan membuat tulisan ini.

Berita di artikel itu sebenarnya bukanlah sesuatu yang “spektakuler”. David Cameron menolak mengenakan kaos yang disediakan majalah Elle. Kaos ini dibuat sebagai bagian dari kampanye gerakan feminis. Yang kemudian terjadi adalah “serangan” kepada si Perdana Menteri karena dianggap tidak mendukung gerakan feminis.

Mengutip ucapan Lorraine Candy, editor-in-chief Elle, di artikel tersebut, “I was personally disappointed that we couldn’t feature Mr Cameron in our feminism issue because it is Elle’s aim to engage with men in the fight for equality: because of parliament’s current gender imbalance, it is men who have teh power to make changes in every area of British women’s lives.

Terbayang betapa kecewanya pihak yang sudah mengupayakan gerakan ini ketika tidak mendapatkan dukungan dari orang yang sangat berkuasa. Tapi, tetap saja, itu tidak menjadikannya sebagai alasan untuk menyerang si orang yang menolak memberikan dukungan.

Entah apa yang membuat David Cameron melakukan hal tersebut. Sebagai perdana menteri, dia tentu memiliki alasan atas tindakannya tersebut. Tapi, itu haknya dia.

Hak pula yang menjadi inti perjuangan gerakan feminis dan berbagai gerakan lainnya di dunia ini. Segala bentuk usaha yang dilakukan, dalam konteks kejadian ini adalah mengenakan kaos yang menyatakan dukungan terhadap feminis, adalah untuk menuntut hak. Dan, yang jangan dilupa, itu pula yang dilakukan oleh David Cameron. Perdana Menteri menuntut haknya.

“Menyerang” David Cameron atas penolakannya mengenakan kaos, menurut saya, membawa pada situasi yang ironis. Ironis, karena yang melakukannya adalah pihak yang sedang menuntut hak. Sederhananya, bagaimana mungkin dia menuntut hak dengan tidak memedulikan hak orang lain? Bagaimana mungkin memberikan bantuan kepada korban bencana dengan membuat pihak lain menderita?

Jika memang ingin menuntut hak, akan bijaksana diiringi dengan sikap menghormati hak orang lain. Menghargai sikap orang lain. Seperti yang sudah saya bilang, David Cameron pasti memiliki pertimbangan atas sikapnya tersebut. Terlebih, posisi sangat strategis (sekaligus berkuasa) membuatnya harus mempertimbangkan masak-masak sebelum melakukan sesuatu. Mungkin saja David Cameron hanya menolak mengenakan kaos tapi sebenarnya dia melakukan usaha untuk memperjuangkan hak yang diinginkan para feminis. Mungkin saja dia termasuk orang yang tidak suka “melakukan pencitraan” dan lebih memilih aksi nyata – meski aksi itu tidak mendapat perhatian dari orang banyak.

Merujuk ujaran Lorraine, posisi sebagai perdana menteri menjadikan David Cameron sebagai pihak yang sangat penting. Dia memiliki kuasa dan kekuatan politik yang besar. Tetapi, itu pun, menurut saya, harus menjadi pertimbangan.

Mungkin ini karena saya hidup di negara yang para pejabatnya amat senang dengan “pencitraan”, sehingga berbagai hal yang dianggap memiliki “potensi” akan dijadikan sebagai “komoditas”. Dalam hal ini, gerakan feminis adalah komoditas dan ajakan mengenakan kaos tersebut merupakan potensi. Dengan mengenakan kaos, David Cameron akan menjadi populer di kalangan feminis. Dia akan dianggap sebagai pejuang kesetaraan gender – setidaknya itulah citra yang ditampilkan, meski belum tentu pada kenyataannya.

Sekali lagi, mungkin saya yang terlalu berpikir buruk, tapi saya sangat tidak ingin gerakan atau usaha apapun yang saya lakukan dianggap sebagai “potensi” dan “komoditas” pencitraan. Buat apa berhasil membuat Perdana Menteri mengenakan kaos yang bertuliskan “This Is What a Feminist Looks Like” tapi tanpa tindakan nyata? (Ya, meski belum tentu juga David Cameron melakukan usaha nyata untuk mendukung perjuangan para feminis usai menolak mengenakan kaos tersebut.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s